To be in a friendship is to give effort and to suffer

All this time, i always feel weird to refer to someone as my bestfriend. Aku punya standarku sendiri soal banyak hal, termasuk yang gimana yang bisa kusebut sahabat, semacam apa yang temen, atau yang gimana yang aku sebut kenalan. Aku cuma ngerasa kalo consent itu penting, jadi to label someone as my bestfriend, aku mau orang itu consider me as theirs too. What a weird thought, tapi ya demikian. So do i havefriends? I do, banyak malah. Do i consider them as the close one? For some of them, yes. That is just how it is.

Continue reading “To be in a friendship is to give effort and to suffer”

pansos?!?

Aku udah sering dengar kata pansos (panjat sosial), tapi engga nyangka bakal ada yang nyematin itu kata (oke, kayaknya frase lebih tepat) ke aku. Sejauh ini aku berusaha ramah sama orang-orang, lebih lagi adik tingkat, simply karena aku merasa perlu untuk jadi ramah (as in they deserve to see me in my joyful mode, toh kita ga lagi berantem…). Jadi ya, i did what i can, kayak nyapa duluan, senyum, berusaha hafal namanya. Aku mau teman-teman angkatan di bawahku ngerasain gimana rasanya beneran punya kakak di jurusan. Eh, tapi ternyata sikapku yang kayak gitu dilihat sebagai usaha pansos… Continue reading “pansos?!?”