Uncategorized

reflection

Aku dengan naifnya mengira memaksakan diri melakukan sesuatu untuk kesenangan atau kepuasan orang lain akan tidak sulit, karena aku bakal ngelakuin itu sambil membayangkan gimana bangganya atau bahagianya orang-orang itu karena hasil kerja kerasku. Lagian aku engga punya hal besar untuk dicapai (my happiness benar-benar muncul dari hal kecil dan remeh buat orang lain), jadi aku baik-baik aja dengan pilihan yang orang lain pilih untukku. Aku kira bakal mudah, setidaknya aku bisa tahan.

Sampai aku mulai buka mata dan lihat yang lain. Selama ini ada banyak banget kesempatan yang kulewatkan karena terlalu fokus untuk ngejar mimpi (dari orang lain). Aku engga sadar dimana seharusnya aku bisa berkembang jauh lebih, ga paham dimana bidang ahli dan cintanya aku.

Saat orang lain di masa SMA masih sibuk mikir mau ngapain, bahkan udah lulus pun masih banyak yang bingung, aku dengan manis udah duduk karena (kupikir) aku tahu aku mesti ngapain. Aku bahkan selalu bilangin kalo yang namanya mimpi, jalan hidup, dari muda udah mesti dipikirin. Aku selalu liat ujung dari prosess dan nikmatin prosesnya karena kukira aku udah tahu ujungnya. Aku lupa satu hal. Yang namanya hidup jelas ga pasti ujungnya.

 

Advertisements