Uncategorized

reflection

Aku dengan naifnya mengira memaksakan diri melakukan sesuatu untuk kesenangan atau kepuasan orang lain akan tidak sulit, karena aku bakal ngelakuin itu sambil membayangkan gimana bangganya atau bahagianya orang-orang itu karena hasil kerja kerasku. Lagian aku engga punya hal besar untuk dicapai (my happiness benar-benar muncul dari hal kecil dan remeh buat orang lain), jadi aku baik-baik aja dengan pilihan yang orang lain pilih untukku. Aku kira bakal mudah, setidaknya aku bisa tahan.

Sampai aku mulai buka mata dan lihat yang lain. Selama ini ada banyak banget kesempatan yang kulewatkan karena terlalu fokus untuk ngejar mimpi (dari orang lain). Aku engga sadar dimana seharusnya aku bisa berkembang jauh lebih, ga paham dimana bidang ahli dan cintanya aku.

Saat orang lain di masa SMA masih sibuk mikir mau ngapain, bahkan udah lulus pun masih banyak yang bingung, aku dengan manis udah duduk karena (kupikir) aku tahu aku mesti ngapain. Aku bahkan selalu bilangin kalo yang namanya mimpi, jalan hidup, dari muda udah mesti dipikirin. Aku selalu liat ujung dari prosess dan nikmatin prosesnya karena kukira aku udah tahu ujungnya. Aku lupa satu hal. Yang namanya hidup jelas ga pasti ujungnya.

 

Advertisements
INI ENGGA CURHAT YA, LIFE IS TOUGH

ketidak adilan sesungguhnya ada di mana-mana

Cuma buat upacara yang sejam dua jam dan belum tentu semuanya serius, anggota paskib latihan berhari-hari sampe kucel tu muka, sampe ketinggalan pelajaran. Cuma buat acara pernikahan yang paling lama seharian, keluarga besar siapin itu semua berbulan-bulan, bahkan ada yang tahunan hitungannya. Cuma karena ujian tiga empat hari, seluruh hasil selama tiga tahun dipertaruhkan. Cuma untuk ujian sehari, seluruh keringat dan emosi dan darah selama dua belas tahun sekolah, bisa aja jadi sia-sia dan otomatis untuk beberapa saat dunia kita berasa runtuh. Continue reading “ketidak adilan sesungguhnya ada di mana-mana”

Belajar, CHANGE, LIFE HACK, LIFE IS TOUGH

my turning point

Now i know what it feels like ada di posisi orang-orang yang (di mata orang lain) ngelewatin kesempatan emas cuma buat hal yang (lagi-lagi di mata orang lain) adalah bukan apa-apa. Beberapa kali denger cerita, si A keterima di Univ X (univ bergengsi, ofc) tapi dia malah tolak dan pilih buat ambil Univ Z yang jelas nama aja udah kalah. Continue reading “my turning point”