(antitesis = opposite) soal internet

Apapun itu pasti ada antitesisnya. Mudahnya, risiko atau konsekuensi. Mau seberusaha apapun kita supaya risikonya kecil, tetap akan ada risiko. Kayak jadi pemadam kebakaran, itu pekerjaan mulia banget kan, tolongin orang. Tapi gimana kalau suatu saat petugasnya terjebak dan ada penduduk sama dia, dan cuma satu yang bisa survive, dia pasti biarin penduduknya selamat. Intinya, segala sesuatu ada risiko, baik kita mau akui atau pun bersikap denial. It is there, all the risks. Continue reading “(antitesis = opposite) soal internet”

Advertisements

it is okay to not have a dream (engga apa-apa ga punya mimpi)

As much how great it is to have a dream, it is actually okay to not have a dream. Stop having a dream just for the sake of  wanting to have a dream. (Walaupun punya mimpi itu keren, sebenarnya engga masalah untuk engga punya mimpi. Berhenti punya mimpi cuma untuk menuhin ego untuk punya mimpi.) Continue reading “it is okay to not have a dream (engga apa-apa ga punya mimpi)”

ngomongin cinta

Di luar lagi hujan dan sekarang ini udah jam 23:47. Aku masih di depan notbuk dengan telinga tersumpal earphone dengerin album baru BTS yang Tear. Lagunya sekarang lagi lagu 134340, bukan nomor togel atau nomor lotte, tapi nama lain dari planet Pluto. Sayangnya postingan yang ini maksudnya bukan buat jelasin lagu BTS yang penuh misteri dan cerita, tapi soal cinta. ASOY. (ngomong-ngomong, semalam aku ga kelarin, jadi lanjutin besoknya, hehe) Continue reading “ngomongin cinta”

Jadi Ketua Kelas?

Pertama kali aku disematkan(?) titel ‘Ketua Kelas’ itu waktu kelas 5 SD. Kalau aku ingat lagi, kayaknya awalnya bukan aku, aku jadi kayak pengganti buat teman yang sebelumnya. Tadinya aku cuma ketua kebersihan, pulang paling lama hampir selalu cuma buat ngawasin dan temenin (mungkin bantuin juga apa ya) mereka yang piket per harinya. Lalu something happened, dan wali kelas dengan simpelnya tunjuk aku gantiin temanku jadi ketua kelas 🙂 Continue reading “Jadi Ketua Kelas?”

Second chance (or maybe even more). Apa mereka layak dapatin itu?

Engga semuanya langsung kita suka hanya dengan satu kesempatan. Engga semua lagu langsung jadi kesukaan kita setelah hanya denger sekali. Ga semua makanan cocok di lidah kita cuma dengan sekali cicip. Temen aja juga, ga semuanya langsung kita sreg cuma dengan sekali lihat. Continue reading “Second chance (or maybe even more). Apa mereka layak dapatin itu?”