To be in a friendship is to give effort and to suffer

All this time, i always feel weird to refer to someone as my bestfriend. Aku punya standarku sendiri soal banyak hal, termasuk yang gimana yang bisa kusebut sahabat, semacam apa yang temen, atau yang gimana yang aku sebut kenalan. Aku cuma ngerasa kalo consent itu penting, jadi to label someone as my bestfriend, aku mau orang itu consider me as theirs too. What a weird thought, tapi ya demikian. So do i havefriends? I do, banyak malah. Do i consider them as the close one? For some of them, yes. That is just how it is.

My circle used to be very small. Sepanjang SMA (sampai sekarang), aku paling ngerasa nyaman sama kombinasi oreo. Dari bertiga itu aku ngerasain gimana asiknya punya tempat where you belongs to. Orang-orang tahu harus tanya ke siapa ketika salah satu dari kita ga masuk kelas. Orang-orang tahu harus tanya siapa kalau raut wajah salah satu dari kita keliatan ga enak. Pun ketika ada sesuatu yang harus disampaikan tapi sungkan, mereka tau bisa minta tolong siapa untuk sampaikan. I trust them both about so many, susahnya aku, senengnya aku, gilanya aku, bahkan perkembanganku sebagai manusia. I grow to be mature dengan kontribusi mereka.

Ketika kemudian kuliah dan kita misah, aku dihadapin sama situasi berbeda. Oke, i still can share things dengan oreo, but it gets a little bit harder. Kita ga ada di tempat yang sama, orang-orang yang kita temui beda-beda, dan ribet kalau harus selalu cerita semuanya. So i try to find myself a new circle untuk bantu aku survive. Masih dependent ke oreo, iya, tapi ada banyak waktu yangaku share bareng temen-temen baruku ini. And as they are physically here with me, harusnya berasa lebih mudah.

Karena menurutku berkomitmen sama hubungan itu susah, plus aku bosenan, sejak lama aku udah menyadari kalau maintaining a friendship is not easy. Apalagi kalau personalitinya beda-beda. Karena terlampau nyaman dengan oreo, aku ga memperhitungkan kalau circle baruku ini completely new dan sebenarnya asing buat aku. Oreo buat standarku tinggi karena we spent so much time together relying on each other, sedangkan yang ini, kita baru aja saling kenal. Ada banyak hal yang aku ga tau soal mereka dan begitu pun mereka yang banyak ga tau soal aku. Pada akhirnya, circle baruku ini mengajariku banyak hal.

Ketika kuliah dan aku makin nyadar kalo hidup jauh lebih simpel dan ringkas ketika aku sendiri, jaga pertemanan itu jadi hal yang ngeribetin. Aku harus bisa keep up sama mereka, plus with my personal needs. Ada banyak waktu ketika aku harus paksa diriku to fit into their molds dan ya udah, adaptasi sama ga nyamannya. Ada banyak waktu ketika being with them makes me question my life choices. Ada banyak waktu ketika bareng mereka, aku harus supress egoku dan let go faster. Aku harus mau belajar peduli dan ngertiin mereka. (well, sorry because i can only present my side, hehe)

Aku inget gimana aku pernah segitu tertekan for being friends with them. Rasanya kesal, mau marah, mau aku yang dingertiin, tapi ya gimana, aku sebenarnya ga mau buka diriku untuk mereka. I don’t want to develop a deeper friendship with them, soalnya ya, aku ngerasa kalau toh, mereka ga bakal bisa. So i end up crying (segitu frustrasi dan terkejutnya aku) dan ya, cerita banyak ke oreo sama roomateku. Waktu itu aku bertanya-tanya, apakah temanan emang sesulit ini? Kenapa pertemanan yang harusnya jadi tempat hiburanku malah bikin aku ngerasa stressed out? Why do i have to give out so much efforts only to stay in the friendship? Tapi lagi-lagi, aku engga bilang apa-apa ke mereka.

Selanjutnya ya, mau ga mau aku tarik diri perlahan. Aku harus bisa baikin feeling dan moodku. So i spent some times alone dan have fun being all by myself. And it worked!

Jadi sekarang aku udah tahu, kalo aku udah mulai jenuh, aku ya tinggal main sendiri aja. Duduk sendiri di kelas, deket sama temen-temen lain, main ke mini market, wifian sendirian di perpustakaan; anything that i know will make me feel much better! Ketika aku ngerasa udah siap, aku let loose dan ya, main dengan lingkaranku itu lagi kayak biasanya. Hidup berasa jadi lebih mudah sedikit. Aku belajar kalau satu-satunya hal yang aku perlu cuma cari tahu obatku sendiri.

Seperti yang aku tulis di judul, to be in a friendship is to give efforts and to suffer. Tapi sebenarnya ga sebatas temenan, semua jenis relationship pasti gitu. But please don’t be discouraged. Go out and make friends, build connection here and there, learn stuffs by being with people. Efforts dan suffering kalian will be worthy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s