hari ini, pertahananku retak.

Pertama-tama, aku minta maaf karena engga posting minggu kemarin. Aku bukannya lupa, inget malah, i made mental note to myself. Tapi aku nunda terus, jadinya engga produce apa-apa. Alhasil, blog kosong melompong. Selain karena nunda-nunda, aku juga lagi dalam mood yang jelek beberapa hari terakhir, jadi yah, gitu.

Ah, sekarang juga sebenarnya masih ngerasa buruk sih… I haven’t talked about this to anyone, like no one. Itu makanya aku akhirnya nulis aja, berharap bisa sedikit menumpahkan kekesalan itu di sini, sekalian buat pemanasan mau nulis cerpen, ehe. Oh how i wish i can be blunt here, but… we’ll see.

I want to speak a lot with you guys, like real lot. Sejauh ini semuanya cuma berakhir dipikiranku sendiri aja, dan apa ya, karena ga dikeluarin dan numpuk, pikiran-pikiran itu suka muncul ke permukaan lagi, bahkan tanpa aku berniat untuk kepikiran itu. Aku rasa badanku udah super stressed out juga, soalnya flu-ku ga selesai-selesai dari awal balik rumah. This is bad!

I wish i was home alone so i can cry out loud, hehe.

(habis tulis itu aku ngadat, berusaha organisir my train of thoughts)

Salah satu yang mungkin menyumbangkan perannya dalam gundahnya aku adalah soal finansial keluarga. Klise, iya, tapi ya kenyataannya emang urusan uang itu paling krusial dan banyak makan tempat. Dua anak kuliah, satu SMP, satunya SMA, belum lagi karena aku kuliah di luar kota jadi bakal ada expenses tambahan lain. Terus juga ada tagihan-tagihan lain dan kebutuhan di rumah yang harus diselesaikan juga.

My mom expects me to get scholarship, and that of course burden me because to be able to get scholarship i have to perform very well academically – and i have zero confidence in that. Aku cukup senang untuk bisa dapat nilai bagus, i mean who doesn’t, tapi aku juga senang menikmati proses, which means i don’t neccesarily have to get good grades. Dan sejujurnya, aku emang ga pede aja. Bukannya aku ga percaya sama kuasa(?) Tuhan dan campur tangan Dia dalam hidupku, tapi kan kalau aku nungguin Dia bekerja yang magically bikin nilaiku bagus tanpa aku usaha kan, goblok. I already lose faith in myself after the beginning of 2018, waktu papi terang-terangan bilang kalau what i did dissapoint him.

Funny how that sentences really can not be taken off of my mind, even after these past months. Aku pikir aku udah memaafkan papi, dan diriku sendiri. Aku juga merasa udah mulai ga segitu obssessed dengan pemikiran korosif kayak gitu, i mean i found myself enjoying my college life, nemuin sesuatu yang ternyata aku excel in doing so. Tapi kayaknya engga juga. I still find it easier to take all the blame and to make myself feel miserable for long time. Dengan begitu, aku ga perlu nyalahin orang lain. Aku pikir dengan begitu juga, aku bakal bisa lebih cepat move on dan ga kepikiran lagi. Turns out i am wrong, haha, jokes on me.

Ya udah, aku jadi ga pede aja dalam semuanya. Rasanya ngapain aja juga bakal ada celah, bakal ada waktu dimana aku kembali gagal menuhin ekspektasi orang lain dan diriku sendiri. I’m just a total failure, that’s how it is.

Selain itu juga, ada hal lain yang ga bisa aku ceritakan gamblang, tapi yah, masih nyerempet soal finansial.

Another thing is that starting from a couple days ago, adik papi dan keluarganya (pasutri dan dua anak kecil) tinggal di rumah kita. Kepala keluarganya engga lagi sih, soalnya ada kayak pendidikan untuk sebuah pekerjaan, jadi sisa adik papi dan anak-anaknya. Ini pasti ga relatable, tapi aku ga suka banget ada tambahan orang rumah, kayak aku udah super duper nyaman banget sama keluarga intiku aja (itu juga yang bikin aku ga terlalu banyak interaksi dengan keluarga besar lainnya, baik dari papi maupun dari mami). Jadi apa ya, aku ga seneng aja gitu lho. And they’re loud, ya namanya anak-anak… Sedangkan aku paling ga seneng sama ribut-ribut yang karen rengek-rengekan anak kceil segala macam. Adanya mereka bikin aku ngerasa my personal space being invaded.

Terus rasanya kayak punya dua emak, dan itu ga baik. Mami itu tipe yang musti gercep and dominating, nah, tante ini juga musti gercepan. Kayak kalau disuruh nyapu nih, harus langsung banget. Sedangkan pace aku ga kayak gitu. Mami sih, udah biasa, udah tahu kayaknya, tapi tante ini engga dan itu frustrates me a lot. Aku ga suka di-push begitu, bawaannya langsung bad mood.

Dan aku sadar kalau ini egois dan sok banget, tapi aku merasa keluargaku bakal sedikit terbebani secara finansial dengan tambahan anggota rumah. Shallow, i know, but i can’t help to think that way.

Aku juga lagi struggle banget soal hubunganku sama Tuhan. I’ve been doing this bad thing yang selalu berhasil bikin aku berpikir, ‘ya wajar ajalah Tuhan ninggalin kamu’. What’s worse is that i think know i haven’t tried hard enough to stop that bad thing from reocurring. Rasanya jadi double guilty feeling.

Growing up in a religious family, aku selalu berpikir kalau kehadiran Tuhan itu penting di hidupku. Itu makanya aku keganggu banget sama ini. Mau cerita sama orang lain juga aku ga bisa, atau mungkin lebih tepatnya aku ga mau. Ga pengen aja… I feel like i have to deal with this matter personally, find my own way back to Him.

Gila ya, depressing banget tulisan yang ini, haha.

Ada banyak banget catatan dan pr buat aku. Salah satu yang paling utama mungkin, aku harus benar-benar bisa belajar untuk sayang sama diriku dan berhenti biarin diriku sendiri tenggelam dalam persepsiku sendiri soal semuanya. Aku harus belajar untuk let loose, untuk berhenti terlalu keras sama diriku sendiri – bahwa engga apa-apa aku ga sempurna dan ga sesuai sama maunya orang lain. I do not live to please others. Aku juga ga musti selalu nyesuaikan diriku dengan cetakannya orang lain, kita udah jelas beda, buat apa nyusahin diriku sendiri.

Ah, i don’t know though. Setelah semuanya yang aku lakuin, apa aku masih pantas untuk berkomentar soal hidupku sendiri?

Have a nice week!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s