my concern these days

Pertengahan November, dua mingguan lagi udah Desember, pertengahan Desember libur. Aku excited, tentu saja. Akhirnya bisa pulang tanpa beban dan temu kangen dengan kasurku, boneka-boneka yang kutinggal, dan aircon. Akhirnya aku bisa melangkah sedikit lebih ringan dan dengan dagu agak naik, karena aku pulang sebagai mahasiswa yang lagi libur, bukannya mantan mahasiswa yang baru berhenti kuliah; aku tetap memalukan karena keluar, tapi sedikit terkurangi karena aku udah balik kuliah lagi.

Satu yang jadi concern-ku adalah… harga tiket! Seperti yang kita semua tahu, kalau akhir tahun deket-deket natal, harga itu melambung tinggi macam kamu digombalin gebetan (terlepas dia serius apa main-main, HAHA). Dan sampai pertengahan November begini masih belum ada jadwal UAS, jadi aku belum berani beli tiket.  Sebenarnya bisa sih, tapi aku masih berharap kelar UAS-nya itu cepet, jadi bisa pulang lebih cepet satu atau dua hari. Kan, lumayan.

Tapi aku diingatkan sesuatu. I should stop thinking about things that is not important and let God do the things instead. Apa yang Dia kasih pasti sepaket, engga setengah apalagi seperempat. Jadi kenapa lagi aku harus isi pikiranku dengan yang begituan? Yang penting aku kerjain bagianku; belajar, kerjain tugas, jangan bolos-bolos, have fun with life, berdoa, udah.

Another concern of mine yang lagi aku usaha untuk tidak pikirkan adalah IP-ku nanti. I feel like i messed up my UTS… Tapi aku masih mau dapat nilai bagus, setidaknya(?) mumpung masih semester awal. /sigh/

Anyway! Suatu sore, aku dan beberapa teman keluar dari perpustakaan (my fav place in the whole campus!). Dan karena sudah jadi kebiasaanku untuk tahan pintu ketika aku keluar duluan tapi masih ada yang mau lewat, i did the same thing back then, aku tahan pintu untuk temanku. Tapi dia keliatan kayak… amaze? Idontknow. Lalu dia tanya, kenapa aku begitu. Aku… jelas bingung jawab apa, soalnya itu ya, udah jadi kebiasaan aja dari lama. Apa ada dari kalian yang hobi tahanin pintu juga kayak aku?

Di hari yang sama tapi jauh sebelum itu, aku dengan beberapa teman juga cerita soal kecintaan kita ke grup kpop favorit masing-masing. Em, apa ya, ada satu temen yang komentar soal my babies (re: Bangtan), soal vokal mereka yang biasa aja, lalu gimana mereka engga gitu bagus ketika live band karena insiden(?) Jimin di MGA kemarin.

Aku… Oke, siapa sih yang ga pengen marah kalo kesayangannya dibilang gitu? Aku setuju kalau MGA kemarin Jimin agak messed up, tapi they do have great vocal ability Dan mereka keren banget live band, kalo konser pasti keren, apalagi dengan adlib-adlib Jimin. Stabil juga kok, setidaknya menurutku. Emang lagi agak geser aja kemarin itu, ya gimana? Plus, aku yang lihatin mereka dance aja capek, gimana mereka yang beneran dance dan nyanyi? Aku teringat video dimana mereka tepar tepat setelah kamera engga ngarah ke mereka lagi. Itu gimana ceritanya engga keren, sih?

Tapi ya, itu pandanganku sih ya. Pada akhirnya aku cuma diam dengerin dan ujungnya bilang, “ya cinta aja sih itu, memang”, udah. Dan yah, mereka juga setuju aja. Kan, omonganku memang sefenomenal itu!

Jadi ranting soal Bangtan ya, hem:)

Kalian pernah engga sih, ngerasa not good enough no matter what, meskipun ketika kamu coba pikir, engga ada satu kejelekan pun yang ga normal gitu, lho, jadi ya, kejelekannya wajar aja, semua manusia gitu? Because i do.

Sejak aku keluar dan so much things happened, aku jadi selalu ngerasa kalau aku… kurang. Pokoknya semua kurang! Kurang ini, kurang itu, kurang apa, kurang semuanya. Padahal sebenarnya kan, wajar ada kurangnya, namanya manusia. Tapi tetap aja, aku selalu ngerasa rendah.

Beberapa minggu lalu, aku didatangin sama yang khotbah, lalu beliau bilang kira-kira begini, “kalau Tuhan aja anggap kamu berharga, kenapa kamu ga bisa lihat keberhargaanmu itu? Dia sampe mati buat kamu, lho”, dan aku banjir lagi waktu itu. Be-nar-be-nar ban-jir! Aku engga ngerasa lagi sibuk dengan pemikiran kalau aku ini ga berharga akhir-akhir itu, tapi setelah dengar itu, kok ya, aku patah hati?

Sambil nangis, aku mikir. Kenapa aku bisa mikir begitu ya? Kemudian aku menemukan jawaban kalau aku masih ngerasa bersalah sama orang tuaku, terlebih papi, karena engga bisa penuhin ekspektasi mereka ke aku (soal jadi dokter whatsoever) dan bikin mereka kecewa. That guilty feeling nahan langkahku untuk bersinar, dia kayak benda hitam yang punya kemampuan serap cahaya.

Aku belum pernah cerita ini ke siapa-siapa, tapi aku selalu punya cara untuk bisa ngeraguin kemampuanku sejak itu (yang mana artinya hampir setahun terakhir). Ga peduli segimana senyum orang yang aku bantuin, segimana pujian orang lain buatku, aku bakal tetap kembali ke titik nol, ‘i’m not good enough, i will never be good enough’.

Dan aku pikir, sampai akhirnya aku berani ungkapin ini ke papi, bilang segimana aku ngerasa sorry, aku ga bakal bisa lepasin ini. Tapi aku juga bukan tipe yang gampang untuk express myself, i’m a sucker for that kind of thing, hence i write a lot (menulis jadi pelampiasanku, hehe). Semoga saja aku bisa secepatnya jadi agak berani untuk bisa bilang kalau aku ngerasa bersalah dan ngerasa maaf banget karena engga bisa jadi yang mereka mau, karena aku ‘kabur dari kebaikan Tuhan’, karena aku batu banget dan nutup telingaku dari saran orang-orang soal ‘jangan keluar, sayang banget’, karena aku not good enough.

Lah, jadi panjang karena itu ya, HAHA.

Sudah siapin kado natal? Aku belum:( Aku masih berusaha untuk manage buat keperluanku sehari-hari dulu, hehe. Mungkin kayak tahun-tahun lalu, aku bakal beli jajan buat adik-adikku. Mungkin aku bakal beli beberapa disini, untuk hal-hal yang kupikir ga ada di Jambi. MuNgKiN.

Semangat ujian akhir semesternya! Jangan lupa belajar, tapi jangan kebanyakan, nanti capek:( Aku agak sakit nih, mungkin panas dalam karena disini panas banget (hujannya turun pas subuh doang, haha). Jadi kayaknya tenggorokan atau hidung dalamku sensitif dan berdarah, lalu karena pilek, darahnya nyampur sama ingus:) Aku terkejud, ingusku jadi oranye, sampai chat di gc Oreo, lol. Kemudian selanjutnya mendapat siraman rohani:)

Jadi kalian jangan sakit! Jangan bikin aku sampaikan siraman rohaninya ke kalian.

Kalau butuh teman cerita, hit my DM up! Atau preferably… email? Karena instagram susah kebuka because me is poor of kuota internet, baru buka kalau di perpustakaan yang ada wifinya, hehe. Tapi pasti balas kok, tenang. Pokoknya jangan pendam sendiri ya, cari temen sana:( Aku aja yang temannya dikit, kalian jangan dong.

Selamat sebentar-lagi-natal!

Me luv u~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s