baperan

Bertambah lagi daftar pertanyaan dan topik bahasan yang aku hindari.

Cita-cita.

Sedih aku tuh lah, ditanyain itu. Simply karena aku ga tahu mau kasih jawaban macam apa. Lagian jawaban semacam apa yang bisa diterima sama si penanya? Karena percayalah, jawabanku pasti ga bikin puas, selalu begitu. Gimana aku berpikir dan memproses, lalu mengambil kesimpulan, dibanyak waktu, seringkali berbeda dengan gimana orang lain lakuin hal yang sama. Jadi, berhenti bertanya kalau demi mendengar jawaban yang kalian mau dengar. I won’t give you that kind of answer, so stop asking.

Aku udah cerita kan, berapa kali, aku engga tahu mimpiku apa selain ya, mimpinya Tuhan (itupun aku masih lagi nyari dan berusaha peka). Sejujurnya itu pun untuk sekarang, rasaku masih begitu jauh dan abu-abu. Aku benar-benar engga tahu exactnya gimana, sama sekali. Cukup tahu kalau Tuhan siapin aku untuk sesuatu, tapi sesuatunya aku engga tahu. Mau dipikirin juga, nanti aku malah larut sendiri dan keteteran mikirin yang lain. Jadi ya, ya sudah, jalanin aja.

Satu-satunya yang aku pengen sekarang ya, IP-ku nanti engga bobrok. Udah, itu aja. Apaan bikin bangga orang tua segala macam, ribet! Aku senengnya apa, selama itu bukan ke jalan yang salah, orang tua udah pasti ikut seneng, percayalah. Gampangnya, kalau kamu hidup oke, orang tuamu oke juga, jadi ya, hiduplah dengan baik. (re: don’t be like me, kay?)

KALO KATAKU SIH ITU YA:”)

Sedikit background kenapa aku menulis ini…

Ada wa masuk dari mami, dan dari preview, ada cita-cita apa segala macam. Itu udah dari tadi sore, sekarang ini jam sepuluh kurang dan masih belum kubuka:) Aku takut, takut sekali. Karena aku engga tahu mesti jawab apa selain mungkin kasih stiker jempol atau ok. Engga ingin buat siapapun berharap, karena nyatanya engga ada yang bisa diharapin dariku. I always do things beyond people’s understanding, sampai aku sendiri juga seringkali sama ga pahamnya. Aku jadi hilang kepercayaan sama diriku sendiri, sejak berbulan-bulan lalu:) Sekarang yang aku lakukan cuma ya, berusaha engga kecewain, siapapun itu.

Ah, aku jadi ingin mewek lagi:) Udah lama(?) aku engga bicarain soal beginian, dan agaknya aku masih sensitif soal ini. Aku tahu harusnya aku belajar melepaskan ini, tapi (selalu ada excuse ya)… ada bagian dari diriku yang engga kelihatan ingin move on dari ini. Semacam self-punishing, mungkin.

Fyi, terlalu keras sama diri sendiri itu engga bener ya, gengs. Accept and embrace the reality that we all make mistakes, we are all imperfect.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s