terciduk jam setengah dua pagi

Sesungguhnya aku ingin sekali bisa bagiin apa yang aku pelajari dari kuliahku kemari, dengan bahasa yang asik tentunya, karena pelajaran seringkali membosankan:) Tetapi, aku kesulitan rangkai kata-katanya. Mauku supaya kalian pahamnya bisa mudah gitu lho. Cuma kan kalian tahu aku ya, hobiku itu ngeribetin, jadi ya gitu… Aku ingin, tapi belum menemukan cara penyampaian yang tepat.

Karenanya, aku cerita yang lain aja, yang lebih em, mudah diceritakan.

Jadi diangkatanku (dalam ruang lingkup jurusan aja) ada sekitar delapan manusia yang punya visi misi sama denganku (re: kristen). Sesungguhnya selayaknya teman sekelas biasa, awalnya kita ya, cukup kenal dan tahu nama satu sama lain, sekedar “oh, ini orangnya yang namanya a dan sama-sama kristen kayak aku”. Kalau aku pribadi, karena sama beberapa udah tahu kalau dia itu sama kayak aku dari mulai ospek, jadi berani godain. Satu bahkan memang udah cukup lebih dari sekedar kenal karena kita kenalnya dari mulai ospek, sampe kemudian klop dan jadi cs-an gitu. Sampai kemudian kami sejenis terdampar di tengah-tengah manusia dari jurusan-jurusan sekampus, lalu sense of belonging faktor sesama HI dan kristen bikin kita jadi lebih nempel.

Ceritanya dimulai dari OMKB. Apa itu? Itu sejenis acara orientasi tapi khusus untuk yang kristen aja. Kita pada dipisah sih, kelompoknya. Tapi sebelum dari situ sebenarnya karena faktor pelajaran agama dan persekutuan doa, kita kepancing buat bisa lebih rekat(?). Karena se-HI angkatanku cuma kita aja, jadi saling nunggu dan nyariin satu sama lain sebelum mata kuliah agama itu, jadi ya, gitu.

Pas d-day OMKB, salah satu temen itu terlambat pol. Kayak, disuruh kumpul jam berapa, dianya sampe kita udah pada diberangkatin masih belum muncul! Disitu kita yang udah pada sampe duluan udah ketar-ketir, ini anak kemana sih, gitu. Yang  satu kendaraan sama dia juga sampe panik beneran nunggu dia.

Kemudian kita sampe ke tempat acaranya. Disitu ada kayak assignment buat masing-masing kita. Jadi dikasih nama buat kita cari orangnya dan semacam jadi pengamat dia, untuk kemudian catat gimana sih, orang itu berdasarkan yang kita amati (yang dapat aku nulisnya aku ini pendiam, sampe tiga empat kali dia ulang kata yang sama:) belum tahu aja dia, HAHA). Waktu disebut namanya satu-satu buat ambil kertas nama, aku udah kayak, ‘lah, dia kan belum datang, punya dia gimana?’ Tapi kemudian plot twist, orangnya muncul dengan senyum cerah dia pas namanya disebut. Aku syok, beneran. Kayak, ‘… LAH?’

Habis itu kita ada kayak jeda sebentar. Langsung deh, semua yang HI ngumpul kita, terus tanyain temen yang terlambat itu, sekalian saling cerita-cerita. Setelahnya kita balik ke kelompok masing-masing. Tapi sebelum misah, karena kita sesama HI dan otomatis punya tugas dan tanggung jawab yang sama (re: buat jurnal), pada janjian. “Nanti malam, setelah semua kelar, kita ngumpul ya, diskusiin jurnal.”

Aku sih… excited waktu itu. Ga tahu ya, rasanya seneng aja. Sama dengan gimana aku lowkey seneng juga pas nemu orang batak, haha. Mungkin bawaan karena aku memang completely alone disini apa ya, jadi gitu. Cuma karena setelah itu kita kayak ga bicarain soal diskusi nanti malamnya, kukira mereka lupa.

Eh, ternyata engga:)

Waktu aku keluar buat sikat gigi dan cuci muka, plus mandi (karena sorenya ga cukup waktu—oke engga, itu excuse, emang malas aja, haha), aku papasan jarak jauh sama temen-temen yang cowo, terus aku kayak, “jadi ya?” Udah deh, habis itu kita ngumpul. Tapi satu ketinggalan, dia nyusul sendirian paling akhir, katanya sharing kelompoknya buanyak pol. Bicarain apa? Bahan jurnal, terus ngomongin orang, lalu balik jurnal, balik ngomongin orang lagi, begitu seterusnya, HAHA. Besok malamnya kita sama lagi, bahkan sampe jam dua kurang (dan kena ciduk juga, sama kakaknya kenal omel sedikit, hehe).

Habis itu jadi… em, lebih rekat(?). Kalau ketemu saling nyapa, goda-godain. Pokoknya engga awkward deh. Ngobrol juga udah asik aja gitu. Aku pribadi karena memang sejak SMA kalo liat orang lain itu suka rasa yang aku lebih tua, buatku mereka unyu aja gitu (walopun suka gemes mau gigit juga, apalagi duo langganan telat persekutuan doa, hem). Seneng!

 Pesanku(?) nasi goreng satu, es tehnya satu:)

Gadengs;)

Apa ya, bukannya milih temen atau gimana, tapi usahain cari yang seiman dulu, gitu. Memang katanya biar bisa bersinar lebih lagi dan sinarnya itu bisa nerangin orang lain, berkumpullah dengan yang gelap, tapi komunitas yang isinya sesama terang itu juga sama penting. Gampangnya mereka kayak bahan bakar kita, yang kayak semangatin kita lagi gitu, sebelum kembali ke lingkaran masing-masing dan orang-orang yang ‘beda’. Karena gimanapun juga, yang banyak bantu dan memang paham kamu sebagai terang itu ya, sesama terang, gitu lho. Tapi juga jangan sampai tinggalin pertemanan diluar mereka itu. Kayak yang udah aku tulis beberapa baris diatas ini, butuh gelap supaya terangnya bercahaya dan bermanfaat.

Menurutku sih ya itu:)

Selamat weekend, loves!

-17 September 2018,
saat harusnya aku kerjain hal lain yang lebih faedah,
semisal baca referensi jurnal minggu depan,
tapi malah ngetikin ini, HAHA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s