NWLK: Dilema Cinta (Love 101)

Nineteen and Would Like to Know: Dilema Cinta (Love 101)

Kayaknya diusia segini salah satu yang jadi problem akutnya adalah soal cinta ya? Aku pribadi belum punya problem soal ini sih, problemku banyaknya involve my own world. Jadi ya, sesungguhnya aku tidak terlalu paham. Tapi aku banyak baca wattpad dan bukan jenis pembaca yang pasrah. Jadi kalau misalnya yang aku baca kayak bertentangan dengan pemikiranku sebelumnya, aku bakal jadiin itu bahan pikiran, jadinya ya, pengetahuanku soal beginian bisa naik level.

Jadi, kenapa dia engga peka sih?

…Ini salah nanya kalau ke aku, karena aku juga bagian dari kelompok yang tidak peka. Tapi begini deh, sebenarnya biar bisa peka, butuh kontribusi kedua belah pihak. Karena kayak, kalau aku mau peka tapi aku engga tahu kapan harus peka, kapan orang itu butuh kepekaan lebih dariku, gimana aku bisa tunjukin kalau aku peka? Kayak komputer, kalau kamu ga masukin programnya, komputernya engga tahu kebutuhan kita, dia mana tahu kalau kita mau cari jawaban PR matematika kalau kita engga buka search engine dan ketik kata pencariannya.

Jadi kalau mau tahu kenapa dia engga peka, coba tanya dirimu dulu, sudahkah kamu input program soal apa yang harus dia pekain dan harus bertingkah macam apa dia? Karena ya, udah dikode keras pun, ada banyak yang engga tahu mesti gimana. Kayak, ‘ya terus…?’ Lagian percayalah, langsung bicara ke point-nya bakal lebih enak dan efektif. Kalau kamu kode, lalu dia engga ngerti atau bahkan tahu kalau kamu lagi ngode, engga bakal terjadi apa-apa. Jadi satu-satunya cara biar dia peka adalah kasih tahu langsung, bilang kalau kamu butuh sesuatu, bilang kalau kamu butuh perhatian dia, kasih tahu kamu maunya apa, kasih tahu apa yang ganggu kamu. Jadi masalah kalian bisa terselesaikan dan kalian bisa naik level.

Inget satu hal ini, komunikasi itu penting, mau kalian pacaran atau cuma temen aja pun. Komunikasi itu apa? Interaksi dua arah, kamu kasih pesan ke lawan bicaramu, dan vice versa, lawan bicaramu balas pesan tadi. Kalau kamu dikasih pesan, tapi lalu engga jawab, bukan komunikasi namanya.

Nah, misalnya kamu sudah terang-terangan pun orang itu masih ‘engga’ peka, mungkin bukannya dia engga peka, tapi sengaja engga merespon karena takut kalau dia respon, responnya ga sesuai sama ekspektasimu dan menyakitimu. Aku bilang begini karena… aku suka begitu, haha. Apa ya, daripada peka dan menyakiti diri sendiri dan orang lain, lebih baik bertingkah seolah kamu engga peka, begitu lho. Karena semakin banyak kamu tahu, semakin besar kemungkinan kamu mess up. Jadi ada momen dimana lebih baik bersikap seolah engga tahu.

Sekali itu aku punya temen, satu perempuan, satu laki-laki. Teman yang perempuan ini suka sama yang laki-laki itu, dan me being excited, i shipped them. Tapi aku perhatiin, ini teman laki-laki kok, ya engga gimana-gimana, padahal temen perempuannya udah ngode begitu. Jadi sekali waktu aku ngobrol sama teman laki-laki itu, aku tanya, ‘kamu tahu engga sih, dia suka sama kamu?’ Terus dia jawab, ‘aku tahu kok, tapi terus aku mesti gimana emangnya? aku engga punya perasaan sama dia’. His answer got me thinking, kalau ada beberapa waktu dimana ya, jadi engga peka itu pilihan terbaik.

Jadi ya, tadi. Daripada salahin dia, lebih baik kamu koreksi diri, kamu udah kasih tahu belum, jangan ngode terus, nanti malah salah paham. Kalau dia ga pekanya itu ga peka yang kayak jenis aku, sengaja, mungkin sudah saatnya kamu beralih.

So, how can i move on in no time?

Menurutku, sebelum kamu memutuskan untuk move on, periksa dulu, apakah masalahnya sudah terselesaikan atau belum? Apakah kamu memang sudah siap melepaskan apa belum? Kalau belum dan masih ingin berjuang, ya berjuang. Hati manusia itu gampang berubah, percayalah. Usahamu suatu saat pasti bisa meruntuhkan tembok dia. Jangan sampai kamu lepas begitu saja (atau dengan kata lain berpasrah dan menyerah), bakal ada banyak penyesalan yang menerpa nanti.

Tapi, kalau memang kamu sudah yakin memang pengen move on, sudah yakin kalau kamu move on bukan karena mau kabur dari masalah, yakin kalau kamu move on adalah langkah terbaik, selanjutnya ya, bersikap biasa aja. Iya, biasa aja. Ga perlu heboh gimana, bilang sana sini kamu mau move on segala macam. Kasih tahu sama hati dan pikiranmu, sekarang kalian udah ga ada apa-apa lagi, gitu. Kemarin itu mungkin dia sakitin hatimu, tapi belajar maafin, dia kan manusia, ga bisa selalu benar. Kamu juga belajar maafin dirimu kalau misalnya kamu yang sakitin dia, you know, sometimes we fcked up things we shouldn’t— kedepannya belajar untuk tidak ulangi.

Lalu satu lagi, kamu harus tahu dan ngerti kalau move on memang butuh waktu, sama kayak gimana kamu jatuh cinta sama orang itu. Segalanya yang indah memang perlu proses lebih lama, demikian juga usahamu untuk move on. Terus jangan jadiin orang lain pelampiasan, sakit tau dijadiin pelampiasan begitu. Jangan jadiin alasan kamu pernah tersakiti untuk jadi pembenaran buat kamu sakitin orang lain. Jangan sampai kesakitanmu itu jadi kayak rantai. Makanya aku tulis sebelumnya, selesaikan dulu masalah kalian sebelum kamu mulai usaha move on.

Sekarang rasanya masih sakit, tapi pelan-pelan sakitnya bakal pudar. Suatu saat nanti kamu bisa ceritain cerita kamu dengan hati yang ringan dan bisa bilang, ‘dulu kamu nyakitin aku dan aku marah sekali, tapi sekarang aku udah oke, dulu kita sama-sama masih belum dewasa, aku mengerti sekarang’. Sama kayak gimana aku bisa dengan gampang cerita kalau dulu aku pernah jatuh dari sepeda dan tunjukin, ‘ini nih, bekas lukanya’ – dengan nada pamer dan bukannya nangis lagi kayak pas jatuh.

Jadi, kamu mau berjuang terus atau mau move on aja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s