belajar tentang INFP [2/2]

Banyak banget jumlah katanya, iya tahu, maafin aku ya. Tapi ini seru :’)

Biar engga bosan, sambil dengerin lagu di sisi kanan blog (kalau di desktop) atau di bagian bawah (kalau lewat handphone), Summer in July! Ambil minum juga, sama kalau ada snack, bawa aja udah.

Enjoy~!

Do any of my fellow INFPs struggle with the following dichotomy? Let’s say you come across a topic you’re truly interested in — INFPs typically master that topic in no time. But then you go to, let’s say, a work meeting, and you are the leader. The INFP in you wants to hear everyone’s thoughts and opinions, but the other side of you has already thoroughly mastered the topic, and so you’re a bit bored and even impatient listening to others, because you already know every possible angle of the information. — We are walking contradictions! (instagram)

Ini yang seringkali terjadi pas siapin materi presentasi, hehe, padahal ga ada penunjukan leader sama sekali. Atau waktu kerjain kerajinan tangan, hehe. (dipikir-pikir sebenarnya aku punya jiwa kepemimpinan, cuma ga disemua aspek, cuma yang pas aku benaran tertarik)

Ada waktu dimana aku senang dapat team mate yang ga banyak bicara dan let me have the upper hand, misalnya waktu tugas pelajaran Wirausaha. Waktu itu aku dapat temen sekelompok sisaan, karena aku malas cari teman sekelompok kalau cuma berdua, nunggu sisa aja (segitu magernya, haha, padahal topiknya aku suka karena bikin kerajinan tangan). Serius, itu pertama kalinya aku hepi banget kerjain tugas kerajinan tangan yang kelompokan! Teman sekelompokku enak banget disuruh, lol. “Tolong lakuin begini dong”, “tolong minta selotip sama kelompok sebelah dong”, “tolong pinjam gunting sama mereka”, “ikutin contoh aku ya”, “bikin kayak gini nih, bisa kan?” – kemudian kami kelar cepet, haha. Puas banget kali itu, serius. Kayaknya itu satu-satunya momen kelompokan yang aku seratus persen happy with, hehe. Sorry not sorry yang lain~ HAHA 🙂

I want to be together. Yet alone. (instagram)

/ini pas Oreo ketemuan beberapa minggu lalu/

Aku: Kalian ga ada yang bisa temanin aku buka pengumuman SBMPTN nanti ya? Aku takut buka sendirian. (lanjut babbling soal gimana nervousnya aku)

Michelle: Tanggal 3 kan? Aku undur pergiku jadi tanggal 5 aja, mau? Aku temenin.

Aku: Tapi aku pengen sendirian.

Michelle: (pasang muka aku-lelah-dengan-kau) Tadi katanya…

Aku: Tapi aku mau ditemenin, tapi aku mau sendirian aja.

Michelle: Ish, terserah kaulah.

/dipercakapan lainnya/

Aku: Aku seneng ada di keramaian, tapi aku mau sendirian aja.

Michelle: Ambivert.

Aku: Tapi hasil kepribadianku bilang aku dominan introvert, enam puluh atau tujuh puluh persen introvert.

Michelle: Tapi itu kau kayak gitu ambivert.

Aku: Aku introvert!

Michelle: (pasang tampang lelah lagi)

*looks at clock* CRAP, i have to be somewhere in 6 hours. Time to start psyching myself up. (instagram)

Aku selalu over-excited kalau ada event-event gitu (bahkan sesuatu yang buat orang lain cuma hal kecil bisa bikin aku overly excited, haha). Misalnya hari pertama sekolah lagi, itu selalu semalaman ga bisa tidur dengan my heart pounding crazily sangking excited nunggu besok sekolah. Atau misalnya aku ada urusan jam setengah delapan gitu kan, kalau jam lima aku belum siap-siap, aku heboh sendiri.

Gereja sama rumahku tuh ya, cuma lima menit naik motor, jadi Cia suka sengaja leha-leha. Akunya udah ketar-ketir pas sebelas lima puluh, dia masih nyantai. Jam sebelas lima puluh lima aja dia masih selow, akunya udah dying internally, lol.

Beneran deh, aku mending nungguin orang lain lama dibanding orang lain nungguin aku. Cuma mikir kalau orang bakal nunggu aja udah bikin aku risih. Sayangnya di kotaku sekarang, ketepatan jam bukan sesuatu untuk dipermasalahkan 🙂 Di leaflet acara jam enam, mulainya setengah delapan 🙂 Pengen gigit!

How am i supposed to take compliments? (pertanyaanku sejak lama)

Aku, em, mungkin karena aku sering anggap diri rendah dan ga ada apa-apanya dibanding yang lain, dan karena memang aku noleh kiri kanan akan selalu ada yang bikin aku ngerasa bukan apa-apa, aku jadi buruk dalam terima pujian dari orang lain. Kalau dipuji gitu, aku langsung diam dan cuma bisa “hehe” – untuk bilang balasan klise macam, “makasih yang lebih cantik”-pun aku tak bisa.

Bantu aku!

We want to stand up but we can’t find the words & voice to. It is feelings inside that tell us someone or something is bothering us. And people need to hear logical reasons. When we finally speak, we start to cry. And people start to think we are an emotional wreck. (instagram)

Ada begitu banyak waktu dimana aku sengaja diam untuk biarin orang lain speak up their mind, untuk keluarkan isi kepala mereka. Aku sengaja biarin mereka lakuin what they want to do, meskipun itu artinya aku bakal di-misunderstood, dikira lemah whatsoever. Because everybody is precious, i won’t let me hurt them. Aku tahu gimana rasanya engga didengarkan, engga ada yang bisa ngerti, jadi karena sudah tahu, aku engga mau orang lain going through the same phase.

Aku masih ga bisa lupa gimana aku nangis karena kesal waktu teman-teman di kelas pada makan pas jam pelajaran di kelas (walaupun lagi jam kosong). Waktu itu kayaknya pengaruh PMS juga sih, dikit, tapi serius, itu memalukan. Tapi puji Tuhan, temanku baik-baik semua. Pas aku nangis, they stopped, lol. Dan mereka benaran tunjukin kalau mereka feel sorry, terima kasih sekali. Habis itu jam istirahat kan, ada satu temen sampe sengaja engga keluar cuma buat pastiin i’m okay already. Kamu menyentuh hatiku! Itu manis sekali, sungguhan.

Sekali waktu aku jadi bagian dari divisi acara untuk perpisahan kelas 3 SMA lalu. Waktu itu kita lagi urus soal pembagian kado apresiasi buat guru, staff, segala macam. Aku udah susun daftarnya, siapa kasih siapa, dan udah sebar itu ke teman-teman seangkatan. I worked hard untuk itu, aku berusaha pikirkan siapa cocok kasih siapa. Aku sampe diskusi dengan Cindy dan teman lainnya untuk kumpulin pendapat. Dan jujur, aku senang karena satu angkatan engga masalah dengan hasil kerjaanku, mereka mau nurut – mereka ngehargain kerja kerasku dan aku ngehargain gimana mereka ngehargain aku. Kemudian pas gladi, wali kelasku nukar-nukar segala macam. Aku mental breakdown, serius. Karena aku tipe yang kalau udah ada list, aku berusaha stick to that freaking list. Waktu aku ingat aku langsung dalam hati kayak, ‘aku sedih, tapi dia wali kelasku dan beliau lagi hamil, ga mau konfrontasi, lagian ini hal kecil, oke, hal kecil’. (tapi agak salahku sih, karena ga kasih tahu beliau kalau aku udah bikin list) Cuma sekali lagi, teman-temanku baik sekali. Fran bahkan sampe frustrasi dan berdiri, “Jo, kalau salah ya kasih tahu lah! Kan kau udah buat!” Aku ciut pas itu, lol, seram juga ini manusia satu. Tapi aku yah, “yaudah lah, Fran, engga apa-apa”, tapi lagi dia masih ga terima gitu. (makasih lho ya, ngomong-ngomong, maaf baru bilang sekarang, haha)

Kemudian ujung-ujungnya teman-teman IPS pada bilang begini roughly, “teacher, kami udah dipilih, udah ada daftarnya!” Jadi yah, ikutin listku, hehe. Untung teachernya adem, jadi beliau cuma kayak, “oh, iya ya? Yaudah, ikutin itu ya, setuju kan?” Demikian, harga diriku terselamatkan, lol.

I just can’t get the point of me being succeed to get revenge on someone, or to get back at them for underestimated me before. It’s not a good motivation, us people should’ve work hard for the sake of ourselves, bukan untuk dapat approval atau sekedar pembuktian. (aku setelah sadar kalau ambil jurusan lalu itu buat nyenangin orang tuaku dan tunjukkin ke orang-orang kalau aku bisa meskipun dimata mereka aku ga cocok

Ada banyak sih, sesungguhnya, orang yang “aku pilih jadi ini buat bikin bangga orang tuaku”, atau mengeluarkan kata mutiara semacam, “kalau aku mulai rasa cape, aku ingat-ingat kalau in buat orang tuaku, jadi aku semangat lagi” – but no, aku engga berpikir sama. Untuk sekarang, menurutku kalimat semacam itu adalah irasional.

Oke, orang yang kita sayang mungkin bisa jadi penyemangat, tapi tetap aja, apa yang kita lakuin itu mestinya ya, karena kita memang mau, karena kita sendiri aware dan sadar kalau kita mesti lakuin itu, for the sake of yourself.

Kayak manusia sesunguhnya ga bisa berenang, tapi kamu sengaja cemplungin diri ke danau buat tunjukin orang lain kamu bisa berenang (padahal ga bisa), lalu untuk sesaat kamu memang ngambang dan orang-orang itu bangga sama kamu, lalu hal-hal berbalik dan kamu mulai kesulitan. Kalau bukan kamu yang mutusin untuk gerakin tangan dan kakimu, atau teriak minta tolong, gimana caranya kamu survive?

Do things karena kamu passionate about it. Do things simply karena dirimu sendiri.

Awalnya mungkin boleh mulai karena orang lain, tapi jangan jadiin itu bahan bakar utama kamu. Yang paling pertama itu dirimu sendiri.

This is so much fun, lol.

Gimana dengan pemikiran kalian?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s