belajar tentang INFP [1/2]

I’m a reaction machine, kalian sudah lebih dari tahu 🙂 Jadi di bawah ini adalah banyak opini orang lain dan sedikit opiniku. Aku kumpulin ini nyambil baca-baca soal INFP, biasa, cari referensi buat diriku sendiri, hehe.

Karena panjang, aku bagi dua, lol. Muak banget sih kalian kayaknya bacanya, tapi dikuat-kuatin ya.

I’ve only realised this as I’ve gotten older (almost 30). After many years of putting others feelings first and being scared to do what’s right, I’ve finally realised that it’s okay to do what’s right for me – even if it’s hard and painful for myself and others. What costs you your peace is not worth it. Not everyone is the right company for everyone and that’s okay too. Also, protecting others at the expense of yourself isn’t healthy for the body and soul either. Being brave and doing the right thing isn’t easy but it’s what needs to be done. (instagram)

Tujuh puluh lima persen dari diriku menyetujui itu. Selalu prioritasin orang lain sampai letakin diri sendiri di urutan terakhir dari listmu itu engga sehat. Lagian seringkali ya, ‘menyakiti’ orang lain lah yang jadi jalan keluar. Mungkin kedengaran egois, tapi inilah yang mestinya kita lakuin. Orang lain, apalagi yang kita sayang memang penting, tapi kalau di akhir hari kamunya ngos-ngosan sendirian, yang lain hepi-hepi saat kamu barely even breathing, kamu cuma dapat lelahnya doang.

Tapi me being soft-hearted, dua puluh lima persen sisanya tetap ingin jadikan diluarku sebagai yang terpenting. Their happiness is mine too, entah gimana bisa, intinya itu. Engga apa-apa aku jadi tameng, jadi compang-camping, yang penting kalian baik-baik.

I finally came up with the perfect reply, but now you’re talking about something else. (instagram)

This kind of shit happens all the time, lebih-lebih lagi kalau lagi diskusi di kelas. Satu orang keluarin pendapat, yang lain komen, lalu komen lagi dan komen lainnya, akunya masih sibuk mikirin pendapat itu. Saat aku udah organize my ideas and words, ternyata bahasannya udah kemana-mana 😦

Perfectionism and procrastination actually go hand in hand. There’s a great article online by Denise Jacobs explaining this (Breaking the Perfectionism-Procrastination Infinite Loop). It presents the concept of satisficing = aim for good enough; chances are, as an INFP, your ‘good enough’ is stellar by any other standards. Word of advice: perfectionism is a serious issue. I used to consider it one of my qualities, I was proud of it – until I realized it meant much more work, for nearly no satisfaction (just the relief that another mammoth project was finished, and I could sleep for a day, before unleashing myself on the next one). Not a good recipe for peace of mind, happiness, self-esteem, health etc. Perfectionism tends to get worse if left unchecked. I now remind myself ‘it doesn’t have to be perfect, and I don’t have to be perfect either’ – and no one seems to notice a decline in quality of output. (instagram)

Aku sebenarnya engga pernah consider myself as a perfectionist, aku cuma tahu kalau aku prokrastinator. Aku aware soal gimana aku made some mistakes dan engga fuss over it – “yaudah sih”. Tapi pas mami ketemu sama dosen pembimbing akademikku Januari lalu, mami bilang kalau aku ini perfeksionis. Karena aku pikir aku tidak, ya aku respon dengan, “engga kok”. Tetapi lagi, setelah baca komentar itu dan pikir-pikir lagi… kayaknya iya deh, sedikit. Tapi cuma untuk yang aku memang rasa menarik, untuk sesuatu yang aku senangi – misalnya seni dan bahasa dan… banyak lainnya.

Aku ingat sekali itu kuis Biologi dan mata pelajaran itu termasuk yang jadi hell-ish diantara kelasku. Susah dapat nilai, cuy. Dan sekali itu, nilaiku 98—bayangkan, SEMBILAN PULUH DELAPAN untuk subject yang sulit macam Biologi! (walaupun cuma kuis sih ya… biarkan aku bahagia) Pas aku lihat dimana salahnya, ternyata benar-benar kecil sekali. Biasanya aku lebih ke tipe yang ‘biarkan berlalu’, tapi waktu itu aku passionate sekali soal topik itu dan ngerasa “apasih, kok sakit kali harga diriku”. Pas istirahat, aku langsung lari ke ruang guru dan datangin guru Biologiku. Dengan berapi-api tanya, “teacher, ini memangnya gimana sih caranya?” dan itu ngegas nanyanya – ada guru lain disitu dan beliau ketawain aku yang kelewat ngegas, haha. Lalu pas dengar penjelasannya dan memang simpel sekali, tinggal dikali, aku langsung /sigh/ “o-oke, makasih teacher”.

Ada lain waktu dimana dapat tugas Seni Budaya (cape ga sih kalian baca cerita SMAku soal Seni Budaya dan aku, lol). Aku bergadang buat kelarin itu cuma karena selalu ga rasa puas sama hasil di depan mataku. Dan itu cuma meja di kelas yang digambar dengan perspektif. Hanya karena itu aku bergadang 🙂

Lalu lagi, kalau ada tugas bikin presentasi! (aku selalu dingin ujung jari kalau maju di depan kelas, ngomong-ngomong, ga peduli itu udah kali ke berapaku untuk ada di depan kelas dan presenting my ideas) Aku agak feel sorry towards my group mates sesungguhnya kalau ingat ini. Setiap ada tugas presentasi, terlebih bahasa inggris, aku seringkali kerjain sendiri tanpa banyak diskusi dengan mereka. Aku lebih pilih suruh mereka cari bahan dan aku organize sendiri. Slide aku kerjain sendiri, outline juga aku kerjain mostly sendiri – karena aku… pengennya kita jadi yang paling oke, walaupun my english terbatas. Ada bagian dariku juga yang pengen bisa tahu semuanya, jadi pas ada pertanyaan, i can help them. Di satu sisi, aku memang pengen ringanin beban mereka sih, karena kayak, kupikir aku bisa, why bother them? Tapi ya, tadi… sedikit banyak sesungguhnya itu untuk puasin egoku (i’m an individualist, hehe). Tapi lagi aku ada pembelaan diri, lol, mungkin tepatnya excuse. Karena materi seringkali aku yang kerjain, aku bisa minta teman sekelompokku fokus untuk kasih penampilan terbaik mereka, jadi nilai kita semua bagus. Aku bahkan tega buat tagihin mereka, “pahami bagus-bagus, jadi nanti ga perlu lihat teks, biar nilaimu bagus!”. Aku masih ingat pas UAS bahasa inggris, kita dipuji sama gurunya, yeye~

Tips, kalau presentasi, bagi-bagi porsi, jangan mau keliatan pintar sendirian. Bagi materi ke teman-teman sekelompok, anggap mereka itu impartasi dirimu, kayak kagebunshin-nya naruto – they are all you. Ini yang bikin guru bahasa inggrisku pas UAS praktek itu muji kita, karena tiap orang dapat kesempatan untuk bersinar dan present things. Kedua, kalau bisa pahami, ya lakukan itu – sebisa mungkin ga ngehafal deh. Karena kalau kamu paham, pas diputar-putar waktu temanmu kasih pertanyaan (yang mana seringkali itu usaha mereka jatuhin kamu, lol, karena saat diskusi, yang teman cuma sekelompok, lainnya musuh), kamu bisa jawab. Ketiga, be simple. Sesungguhnya presentasi itu cuma presenting ideas, jadi ga perlu ribet dan begitu mendetail. Sengaja simpel, jadi teman yang lain bisa grow interest dan rasa penasaran, jadi kalian ada bahan buat dijawab dan nilainya bagus. Kalau materinya soal pertumbuhan ekonomi negara berkembang, kamu bisa pilih salah satu negara berkembang buat jadi contoh, lalu analisa bagus-bagus – ga perlu semua negara berkembang kamu cari. Jadi judul kamu nanti sempitin juga supaya menjurus dan terarah materinya.

I decided to post this because I know how hard we (INFPs) are on ourselves. We are perfectionists (yet procrastinators too ironically).When i am working on a project its hard to tell myself “its finished” i over analyze it and tell myself it could be better. I expect too much from myself at times. I see the potential of what it could be but if I can’t make it happen it is frustrating. As INFPs we really need to cut ourselves some slack and live and let live. It can be hard to do but I’ve learned that INFP personality type people are all our worst enemy when it comes to self criticism… nobody is harder on me than myself. It’s good to strive for a better self, or better situation, a better project…. but we need to remember that growth takes time. Don’t be too hard on yourself! One step at a time. And that project you didn’t think came out good is probably awesome already. (instagram)

…dan aku disini selama bertahun-tahun mengira aku terlalu easy untuk diriku sendiri, haha. Padahal sesungguhnya ada banyak waktu dimana aku berekspektasi untuk diriku sendiri, netapin standar jauh diatas biasanya.

I hate this, it happens to me all the time. And most of the time I really dont care what we do. Im just happy hanging out with who ever I’m hanging with. Hell we could watch paint dry and I would be happy. (instagram)

It’s the people i hang out with – it’s you who are the most important ones. Beneran deh, kalau aku memang nyaman banget, suka banget sama orang itu, kemana pun aku oke.

I picture myself beberapa tahun kedepan punya pacar dan kencan kita banyakan cuma diem dan tekunin hal favorit masing-masing. Aku mungkin bakal sibuk kerjain laporan buat tugas atau baca novel atau kerjain kerajinan tangan, sedangkan pacarku sibuk dengan kegiatannya. Aku juga pernah punya gambaran misalnya pacarku hobi otomotif dan sibuk modif ini itu (yang jelas makan waktu lama) dan aku ikut-ikut aja buat temenin – ga keberatan untuk nunggu berjam-jam. Atau mungkin kita ke toko buku dan dia kemana aku kemana, yang penting ada dia di pandangan mataku, aku oke, perfectly fine.

Karena gimana ya, ada kehangatan tersendiri bahkan cuma dengan kehadiran orang spesial itu. Aku lebih dari sekedar oke soal itu, hehe.

Sampai ketemu di part dua!~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s