Kenapa cuma tokoh agama yang dapat pressure untuk jaga attitude?

Kenapa cuma tokoh agama yang dapat pressure untuk jaga attitude?

Papi dan Mami, dua-duanya aktif di gereja, sama-sama pelayanan. Papi jadi gembala komsel sekaligus kayak koordinator untuk salah satu pos pi gereja, terus juga pelayanan singer atau wl. Mami pelayanan juga, singer. Dan dua-duanya udah pelayanan itu kayak dari muda gitu. Aku sendiri pas dari kecil banget aja udah diboyong ke gereja, temani mami. Gara-gara papi mami yang aktif begitu, ga sekali dua kali orang tanya semacam, “papi jadi pendeta aja”, dan aku sontak langsung “NOOOO!” – dan serius, itu udah jadi habit lama-lama. Menurutku, punya orang tua pendeta itu berat sekali untuk anak yang jiwanya bebas semacam aku, aku merasa punya tanggung jawab lebih soal gimana harus bersikap – aku engga suka tekanan (meskipun aku bekerja amat sangat baik dibawah tekanan).

Tapi beberapa hari lalu, dengar omongan teman mami, aku jadi kepikiran pertanyaan di paling atas. Kenapa cuma yang jadi tokoh agama sih, yang dapat pressure untuk jaga kelakuan mereka straight? Padahal semua manusia kan sama aja di mata Tuhan, nanti sama-sama dihakimi juga.

Oke, mereka “tokoh agama”, selayaknya guru yang punya pengetahuan lebih banyak dibanding muridnya sebagai keharusan karena mereka yang mendidik murid, begitu juga tokoh agama. Mereka kayak jadi penuntun – kalau penuntun aja jalannya belok, gimana pengikut dibelakangnya dia? Ikut belok juga, kacau.

Tapi begini deh, kenapa sih, kita harus begitu? Apa dengan begitu akan membenarkan kelakuan kita yang bukan tokoh agama untuk tidak berkelakukan benar? Apa dengan begitu bisa menjustifikasi tingkah-tingkah jahat kita yang bukan tokoh terpandang? Padahal guru pun manusia kan, sama kayak kita – ada banyak waktu dimana mereka juga “murid”, engga tahu apa-apa dan mesti belajar, ada banyak waktu dimana kemampuan mereka mungkin dibawah muridnya, ada banyak waktu dimana mereka ya, jadi manusia biasa macam kita.

Engga karena mereka toko agama dan terpandang, mereka jadi berkurang kemanusiaannya lima puluh persen. Mereka masih seratus persen sama manusianya dengan kita, punya keinginan, punya perasaan, punya pemikiran, mungkin bisa kemakan omongan orang juga, bisa nge-“dosa” juga.

Tapi aku tetep ga pengen jadi anak pendeta sih, hehe.

Berat, biar yang kuat saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s