akhirnya postingan fresh lagi!

Halo, lama aku engga nulis lagi. Selain karena memang aku lagi agak ribet sama rangkaian acara pengenalan kegiatan kampus, aku… memang engga pengen nulis. Parah ya, huhu. Katanya komit… Pendusta. Semoga ini jadi awalan untuk tulisan-tulisan selanjutnya ya. Lagian nulis itu sesungguhnya lebih enak, maksudku kayak, karena terbiasa keluarin isi kepalaku pake tulisan, pas engga dikeluarin, rasanya agak lelah.

Aku udah tinggal sendiri hampir sebulan. Dan impresiku adalah… selama ini aku ternyata kepalang manja. Meskipun kalau ada apa-apa suka kerjain sendiri, kalau mau jajan ya, kumpul uang sendiri (maksudnya ga banyak minta kecuali memang aku ngebet dan aku tahu mami pegang uang, begitu), kalau aku butuh sesuatu juga aku usahain beli pake uang jajanku sendiri, aku tertampar dengan kenyataan kalau dibalik itu, aku engga lebih dari sekedar anak manja, masih lemet-lemet buat bisa berdiri sendiri dan jauh dari orang tua.

Aku juga jadi makin cengeng. Kalau ngobrol sama temen, lalu serempet soal topik aku-sendirian-disini, langsung pengen nangis. Pulang technical meeting untuk keperluan acara pengenalan kampus, aku juga pengen mewek karena harus cari apa-apa sendiri, siapin bekal dari malamnya karena aku beli makan diluar (ga masak sendiri). Pulang acara juga aku ingin menangis (padahal pas acara aku ketawa-ketawa sama temenku), karena kamar kosku sepi, i literally welcome myself tiap pulang. Kadang kalau di-message mami atau ditelepon papi, aku jadi lemah hati juga, jadi pengen nangis (tapi selalu aku tahan kalo lagi teleponan, malu, hehe). Dan paling parah kalau denger suara pesawat (ini kenapa deket sama bandara sih, aduh!), karena bawaannya selalu pengen pulang. Ini aja aku nulis udah nangis lagi. Cengeng banget kan?

Buatku ini wajar sih, soalnya caraku keluarin emosi berlebihan memang dengan nangis. Makanya kalo marah banget, aku nangis. Kalau aku kesel banget, aku juga nangis. Jadi ya, begitu. Apalagi kalo kangen berat, nangisnya tripel dobe mega super ultra berlipat ganda! Tapi sedikit dari hatiku pengen aku bisa cerita aja sama orang lain. Tapi… aku malu kalau harus tunjukin tampangku nangis cuma karena kemanjaanku. Masa mantan ketua kelas berkarisma(?) begini…

Kenapa aku engga cerita sama mami kayak temenku cerita kesehariannya sama mamanya? Aku… takut. Iya, takut, kalian ga salah baca. Maklum kan sudah, soalnya aku entah udah berapa kali bilang kalau sejak saat itu ketakutanku jadi bertumbuh subur, hehe. Aku takut mereka berpikir aku engga bisa jalanin ini, padahal aku cuma ya, terbiasa manja dan kangen suasana rumah aja. Aku engga mau nanti dikira aku pengen nyerah (lagi). Aku engga mau denger kalau aku ngecewain lagi. Aku masih engga bisa tunjukin ‘diriku’ sepenuhnya ke siapapun. (sedih sih, padahal aku sadar betul betapa engga ada yang sempurna, tapi aku selalu saja tutupin bagian jelek dariku supaya orang lain cukup nikmati yang bagus aja)

Sesungguhnya, aku pikir aku… masih kesulitan untuk maafin diriku sendiri. I mean, gimana bisa aku maafin diriku saat jelas-jelas ini salahku, gitu lho. Engga habis pikir aja gimana untuk aku bisa lepasin rasa bersalahku ini. Istilahnya kayak, aku udah mencuri, tapi aku bebas aja gitu.

Salah, aku tahu. Beberapa kali bahkan Tuhan ingetin aku untuk berhenti ngerasa bersalah. All the things that happened weren’t anybody’s fault, not even mine. Itu ya, karena memang jalannya, emang ceritanya gitu, emang plotnya kayak gitu (salah satu kakak di gereja bilang kalau sebenarnya apapun yang terjadi, semuanya memang ya, rancangan Tuhan dan memang begitu yang Dia pengen terjadi). Bukan salahku aku pilih keluar, bukan salahku aku berhenti, bukan salahku semuanya terjadi. Dan bukan juga salah orang tuaku atau bahkan Tuhan. Bukan. Salah. Siapa. Siapa. Memang begitu, titik.

Tapi aku selalu saja cari excuse untuk bisa salahin diriku sendiri. Aku sendiri yang sering buat diriku down. Aku sendiri yang sering buat diriku ngerasa rendah dan ga pantas untuk banyak hal. Aku sendiri yang tetapin garis batas ‘kelayakan’ aku. Aku lupa siapa yang share, tapi dibilang kalau gimana kita portray diri kita negatively ke luar (ke orang lain) pada akhirnya bakal jadi kita sesungguhnya. Gimana kita bicara shitty soal diri sendiri depan orang lain, kayak ‘aku ini rendah’, eventually bakal jadi nyata. Sama kayak pohon apel bakal berbuah apel, atau mata air yang jernih pasti ngalirin air jernih dan mata air kotor ya, airnya tercemar.

Tahu yang lebih lucu? Makin disemangatin, aku malah makin ngerasa discourage. Karena buatku, disemangatin artinya they expect me to do great, they expect something good for my outcome, dan meskipun itu normal banget dan yah, itu dukungan, tapi aku engga begitu nyaman dengan itu. Jadi aku ini benar-benar yang tipe self-help aja, ga bisa ditolong siapapun kecuali diriku sendiri mau nolongin aku dan kalau memang aku rasa perlu banget banget, baru biarin aku ditolong, itupun kalau bisa mereka cuma sekedar jadi penopang aja, yang kerjain work tetap aku.

Ah, harusnya aku cerita yang hepi-hepinya. Tapi sudah berapa hari ini aku terus tahan nangisku, jadi mohon maklum ya. Aku butuh sediiiiikit pelepasan, hehe.

Gimana kabar kalian?

Advertisements

2 thoughts on “akhirnya postingan fresh lagi!

  1. OH YANG MUNCUL DI EMAIL AKU DARI DULU THEATER OF LIFE NIH, ternyata kamu ya :), aku kira orang jualan buku jadi aku ignore terus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s