teruntuk kalian yang ingin kuliah FK…

Oke, jadi kali ini yang berbobot lagi. Semoga saja bisa memotivasi kalian yang tadinya lempem.

Oh, dan juga aku memilih keluar bukan karena kesulitan atau apa (aku percaya kalau memang kita cinta, pasti bakal berjuang mati-matian buat itu), tapi karena aku merasa out of place ada di jurusan itu. Sekarang aku lagi ngarah ke yang menurutku lebih pas dengan akunya, walaupun ga bisa bener-bener kesananya, tapi udah condong kesana. Jadi, demikian. Tidak perlu dicontoh kalau menurut pandanganmu yang kulakukan itu absurd, you do you. Toh, ga semua yang di internet itu bener, ditambah manusia satu per satu semuanya pasti jalan mikir sama cara berperasaannya berbeda. Sekali lagi, you do you.

Langsung ya.

Kali ini aku mau menempatkan diri sebagai mantan siswa yang pernah sekolah dan pernah aiming untuk kuliah kedokteran (dalam kata lain, aku juga pernah segitu desperate pengen masuk FK tapi sekolahnya ga bener-bener amat). Aku ambil jurusan IPA pas SMA dulu, jadi ketemunya sama Biologi, Kimia, Fisika, dan Matematika yang agak sinting. Pas kelas satunya, semester awal pakai K13, lalu sisanya sampai lulus pakai KTSP.

Aku senengnya pelajaran Seni Budaya (kalo ga lagi nyatat, karena catatannya banyak akibat tak ada buku cetak), kemudian Bahasa Indonesia (kecuali pas lagi kerjain ulangan yang PG karena gurunya tega kasih pilihan yang semuanya rasa kayak jawaban), dan Bahasa Inggris. PKn juga aku oke, karena kalo kerjain bagian esai pas ulangan ga perlu inget hafalan, bisa nalar aja – dan aku pemikir kelas menengah, jadi aku seneng begitu. Aku sempat seneng sama Biologi sewaktu kelas dua belas semester terakhir, soal hereditas dan sejenisnya – tapi ya sudah, sampai sana saja. Aku ga keberatan sama Sejarah kalau dalam mode diskusi di kelas (seingatku cuma sekali dua kali begini selama tiga tahun sekolah), karena aku hepi dengarin dan liatin orang berapi-api buat ekspresiin ide mereka. Aku juga selalu excited untuk penugasan presentasi, apalagi Bahasa Inggris, karena… aku merasa jadi kelihatan bodoh kalau lagi didepan kelas dan bicara dengan Bahasa Inggris, haha. Aku kedengaran kayak anak jurusan non-IPA aja ya jadinya, hahaha.

Tapi percayalah, ga semuanya manusia IPA memang bisa dan hobi IPA. Ada sih, memang, tapi ya, itu bukan standar sebagai anak IPA. Kebanyakan ambil IPA karena ga mau ketemu banyak hafalan (padahal Biologi itu hafalan juga, haduh) atau menghindari Sejarah (yang ini aku setuju, karena buku cetak anak IPS tebalnya dua kali buku kami, haha). Tapi ada juga yang berpikiran semacam, “kalau lulusan IPA kan bisa pilih banyak jurusan kuliah, soalnya IPA bisa ke IPS tapi IPS ga bisa pilih yang IPA”. Atau mungkin iseng ikut penempatan, eh, masuk, lol.

Nah, jadi langkah awal kalau kamu mau kuliah kedokteran adalah preferably lulusan jurusan IPA. Kalo ga salah ada kok, yang bolehin dari SMK, tapi jurusan tertentu saja. Selanjutnya yang penting adalah beneran memang mau banget gila jadi dokter, dan itu karena memang keinginan diri sendiri, jangan karena orang tua, atau karena yang lain-lain di luar kita. Karena begini, yang jalanin hidup itu kamu, bukan mereka. Oke, kamu ikutin kemauan orang buat banggain mereka. Tapi coba pikirkan kalau masalah mulai mencuat, kamu yang mesti deal with those problems alone. Walaupun mereka bisa support, tetap aja yang berkutat sama itu ya, hanya kamu. Ga ada yang bisa tolongin kamu selain diri sendiri. Jadilah sesuatu karena kamu memang bersemangat disana, karena kamu cinta. Ga ada jurusan atau profesi yang ga keren, semuanya keren, tergantung kita mau lihat pakai kaca mata yang gimana. Kasir buat orang lain biasa aja, tapi buatku itu kerjaan impian, begitu. Yang keren itu bukan mereka yang jadi dokter, mereka yang jadi manajer, mereka yang jadi direktur, tapi mereka yang tekunin apa yang jadi favoritnya mereka – kerja rasa ga kerja.

Selama SMA, hem, ya jalanin sebisa kamu. Kalau engga ngerti, tanya sama temenmu yang ngerti, jangan sungkan. Ini buat masa depanmu, gitu mikirnya. Aku aja sering kok, tanyain temenku yang level dewa, apalagi kalau udah lagi Kimia sama Matematika dan Fisika, selalu ada suaraku teriak-teriak panggil orang. Selalu kasih yang the best buat apapun. Syukur-syukur bisa ikut SNMPTN kalau nilaimu tinggi-tinggi. Tapi kalau ga masuk juga ga apa, masih ada SBMPTN. Dan kalau di SNMPTN yang dilihat itu nilai sekolah, di SBMPTN kamu mesti berjuang lawan seluruh penjuru negeri yang sudah pasti ada banyak yang diatas kamu posisinya. Jadi gimana caranya lulus SBMPTN? Belajar, plus banyak doa.

“Tapi Biologiku suka merah di SMA…” Aku juga langganan remedial kalo Biologi, percayalah. Kayak yang aku bilang sebelumnya, kalau memang cinta, pasti berjuang. Lagian itu Biologi ga sekepake itu say, nanti kuliah beda jenis Biologinya. Jadi jangan tatut. Lalu kalau kamu ikut SBMPTN atau misal seleksi mandiri, belajar bagus-bagus. Walaupun UN penting, kalau goal kamu adalah bisa kuliah di PTN, SBMPTN jauh lebih penting. Tiap tahun lawannya bertambah dan persentasi yang lulus itu kecil. Belajar dari lama, jadi pas orang lain baru sibuk mulai, kamu udah ngerti banyak. Kerjain soal-soal tahun lalu untuk tahu pola soal, walaupun tiap tahun soalnya baru terus, tapi soal konsep bisa belajar dari soal lalu-lalu. Aku udah buktiin, itu ampuh.

“Ga punya duit tapi…”

Sekarang ini yang sadar kalau kuliah itu penting ga cuma kamu, tapi pemerintah juga. Walaupun mungkin hitungannya tetep ada beberapa yang uang semesteran agak gede, tapi dibanding dulu, sekarang ini sudah advance sekali. Ada yang namanya UKT (kalau kamu lulus SNMPTN atau SBMPTN). Bahkan beberapa perguruan tinggi negeri yang pakai seleksi mandiri juga ada yang engga nagih uang pangkal, misalnya UGM dan UNS. Jadi jangan pakai kalimat, “kuliah kedokteran itu mahal”. Bidikmisi juga ada sekarang, apa lagi? Beberapa temenku yang aku tahu ikut Bidikmisi, buat buku referensi belajar, mereka pinjem ke dosen, dosennya mau kok, selama mintanya baik-baik. Atau pinjem ke kakak tingkat dulu, aku begitu kemarin. Terus juga, ada kok, yang jual bukunya grade kw super…, ini agak sesat, tapi ya, banyak kok yang beli itu aja, soalnya isinya sama, cuma beberapa aspek beda sedikit. Kalau memang ga mampu beli asli, ya yang itu aja dulu lah, yang penting ada pegangan. Atau kadang ada kok, dosen yang bolehin pakai ebook aja, malah dibagiin sama beliau langsung.

Selain itu sekarang banyak kok, kampus swasta yang bener-bener guyur buat kasih beasiswa. Misalnya Maranatha, atau em, UPH, atau PresUniv – pokoknya banyak. Kalau kamu daftarnya cepet, kebanyakan ada program beasiswanya. Seperti yang kubilang, sekarang ini semua sudah cukup aware soal betapa pentingnya pendidikan tetapi biaya sering jadi kendali, karena itu makin banyak beasiswa yang ditawarkan.

Intinya, kalau kamu ngebet, pasti ada jalan, demikian. Selama ini yang batasin kita lakuin hal-hal luar biasa seringkali diri kita sendiri. Orang-orang banyak support, tapi kamunya rasa minder, rasa ‘aku mah apa lah’. Padahal kalau dirimu sendiri ga support apa yang kamu pursue, ga bakal ada dukungan orang luar yang masuk ke pikiran dan hatimu.

Udah cover semua lah ya, itu. Kuliah kedokteran ga susah kalau kamu memang niatnya kesana dan ga mahal karena selalu ada alternatif. Dan percayalah, doa itu besar sekali kuasanya. Walaupun seringkali sekarang rasanya ga ngefek, Tuhan itu bekerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s