live better 101

Akhir 2016, pas ditanya apa pesan buat 2017 nanti, Seokjin bilang begini.

“Satu hal yang mau aku bilang adalah ga karena orang lain ngalamin kesulitan mereka sendiri, jadinya kesulitanmu itu engga segitu sulit dan melelahkan. Jadi waktu kamu ngalami kesulitan itu, kasih tahu ke mereka, ‘aku lagi kesulitan’ dan ‘tolong bantu dan hibur aku’.”

Aku capture itu dan sampai sekarang masih tersimpan di handphone-ku. Sempat lama terlupakan dan sekedar jadi pengisi galeri, aku sekali waktu baca itu lagi mutusin untuk inget-inget itu. Lalu tadi aku baca lagi dan tiba-tiba pengen nulis soal itu.

Aku engga tahu ini bakal kedengaran egois, self-centered, atau self-pitying whatsoever, tapi kurasa penting untuk bisa acknowledge the fact that walaupun, oke, ada banyak sekali diluar sana yang struggling dan secara “kasat mata” struggle mereka lebih berat dan sulit dari yang kita alami. Tapi itu ga artinya kita sampai jadi berusaha tutup mata dan lupain fakta kalau kita juga sama kayak mereka itu, sama-sama manusia dan pasti punya problem.

Perih banget kalau misalnya kamu lagi kesulitan, lalu ada yang “lebih” kesulitan dan karena itu orang-orang jadi yang kayak “udah sih, alay banget, ada yang lebih susah dari lo kali!” No, people, you’re discouraging orang lain kalau begitu. Tahu ujungnya discouraged? Depression dan teman-temannya.

Sebenarnya kalau kalian ngikutin, setidaknya setengah tahun terakhir? kalian yang paling tahu udah berapa kali aku tulis soal gimana engga enaknya diam aja waktu kamu memang ngerasa tertekan, atau soal gimana kita cenderung tidak acuh saat diri kita sendiri lagi dalam masalah. Dan aku belum lelah untuk ulas itu terus, karena aku rasa itu memang penting dan it’s such a shame karena hal begini itu dilihat sebagai ‘lemah’ whatsoever saat sesungguhnya mereka yang berani terbuka soal ‘kebobrokan’ mereka, soal gimana sulitnya mereka, orang begituan yang justru lebih ‘kuat’.

Yang Seokjin bilang itu sesungguhnya mengandung begitu banyak arti.

Pertama, we all face the same problem, the same struggle, everyday. We are all problematic, dan kita ga seharusnya denial. Kalau ingat, aku pernah tulis soal gimana taraf resistensi seseorang terhadap rasa sakit itu berbeda. Hubungannya? Kayak gimana kita masing-masing punya tingkat kekebalan berbeda, gimana “respon” kita (mentally, physically) terhadap masalah juga beda. Buat seseorang, perihal pilihan mau makan apa siang ini mungkin mudah aja. Tapi buat orang lain, itu sebuah kesulitan besar. Tapi apakah orang lain tahu kalau kita merasakan kalau itu sebuah “kesulitan besar” kalau kita diam saja? Tidak. Apakah dengan kamu diam saja, masalahnya rasa jadi lebih ringan? Tidak juga.

Kedua, keterbukaan dengan mereka yang disekitar kita. Kalau kalian lingkarannya kecil macam aku, itu artinya keterbukaan sama keluarga atau sahabat. Seriously, aku rasa udah berbusa mulutku untuk soal keterbukaan ini. Tapi memang, aku sendiri rasain gimana berat dan sulitnya untuk jadi terbuka. Karena saat kita open, itu tuh rasanya kayak ga pake baju, telanjang. Rasanya ego kita dirampas, dan kalian sendiri tahu gimana engga enaknya itu. Engga nyaman, ga aman, ga suka. Tapi kata salah satu temanku, kadang suka ga suka harus kita lakuin, for the sake of yourself. Salah satunya ya, jadi terbuka. Kalau ga nyaman, say so. Kalau merasa terganggu, speak up.

Tersakiti dan menyakiti itu hal normal. Karena kita manusia, kadang suka khilaf dan kebawa emosi, kadang suka overthink, kadang suka cuma lihat dari satu sisi, kadang suka kelewat sayang. Engga apa-apa. Sakit itu pengalaman, jadi bisa belajar.

Waktu itu aku jatuh dari sepeda dan ga ada satupun orang yang kayaknya peduli. Aku mesti tenteng sepedaku sendiri, yang mana kala itu sedikit lebih besar dari diriku sendiri, nyeberang jalan buat sampe rumah. Selama jalan sambil boyong itu sepeda ungu, aku entah mikir apa, tapi aku engga bisa nangis. Pas sampe rumah, baru rasa sakitnya gimana. Sambil diobatin, aku ingat histeris dan sakitnya hatiku (lututnya juga, lol) karena engga ada yang peduli pas aku jatuh. Bayangin gimana sedihnya jadi anak SD yang jatuh dan cuekin, hahaha.

Tapi itu engga bikin aku engga mau naik sepeda lagi. Mengapa? Karena untuk bisa naik sepeda, aku kerja keras. Aku ingat, itu udah kelas mungkin tiga atau empat SD. Aku sendirian belum berani naik sepeda, teman-teman lain udah pada bisa naik sepeda. Aku bahkan ingat, tetanggaku pegangin belakang sepedaku buat bantuin aku belajar naik sepeda. Saat akhirnya aku udah bisa, lalu aku jatuh, itu engga ngurangin ilmuku soal naik sepeda. Cuma nambah pengalaman dan pelajaran untuk engga ganggu kerikil di jalan.

Ketiga, karena tahu satu sama lain sama-sama punya masalah, hal terlogis yang bisa kita lakukan ya, saling mengobati luka satu sama lain. Ini kayak orang lumpuh yang bantuin si buta. Orang lumpuh jadi matanya, si buta jadi kakinya. Tadaaa, bisa jalan kemana-mana ga perlu takut nabrak!

Anyway, tidak lelah-lelahnya aku mengingatkan, tidak apa-apa untuk bagi kesedihan dan kesulitan kita dengan orang lain. Tahu tidak, kalau sesungguhnya yang anak seumuran kita paling butuhkan itu perhatian? Tapi kalau kamu engga buka diri, gimana bisa dapatin perhatian itu? Kalau kamu ga kasih tahu, apakah perhatian yang dikasih bisa tepat sasaran?

It’s okay not to be okay. Karena sesungguhnya semuanya juga rasain itu, ketidak okay-an tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s