selotip

Oke, sebelum aku cerita banyak, aku mau kasih tahu, kalau aku lagi sedih. Tombol I di keyboard notebook kayak, stuck begitu. Jadi nekennya mesti agak dalam. Ya sudah, itu saja.

Oh, satu lagi cerita kekonyolan.

Jadi beberapa hari lalu tiba-tiba handphone-ku sakit lagi, kayaknya flu deh dia. Aku lupa mau ngapain, tapi itu handphone, em, kita namai dia Putih saja ya, Putihnya aku letakkin di atas mejaku. Pas aku balik, Putihnya malah mati, kayak mati daya gitu. Kupikir baterainya mati apa ya? Jadi ya, aku colokin. Tapi masih ga nyala. Jadi aku bongkar, aku lepas baterainya. Lalu baterainya ga bisa masuk lagi, lol. Aku sudah berkutat dengan itu lama sampai aku lelah, jadi aku kasih mami, โ€œmi, pasanginโ€ kemudian mami pasangin dan yah, bisa. Lalu dia masih mati. Tapi lama-lama aku mencoba bersabar, mungkin Putih memang perlu waktu. Lalu malamnya nyala. YEYE~

Pas mati itu, aku message Cindy, lol. Dengan semuanya capslock, aku bilang kalau handphoneku mati. Lalu kami in ada sejenis internal joke(?) soal bosan, jadi aku juga em, curhat soal handphoneku pakai bosan. Kubilang handphonenya bosan sama aku. Lalu Cindy bilang ganti aja, tapi kubilang terlanjur cinta, terus dibalas sama tiga titik, lol. Pokoknya alay dan sudah kuhapus chatnya, HAHA.

Oke, jadi ini cerita sesungguhnya.

Ingat beberapa bulan lalu aku bilang soal aku mau detox social media? I did, kan, jadi Instagram dan LINE tidak ada di handphone lagi. Cuma ada Whatsapp karena itu lebih hemat pulsa, lol. Dan kemarin rencananya itu memang setelah SBMPTN baru instal lagi kan, jadi ya, aku instal Instagram lagi lah, LINEnya di notebook aja, berat, Putih kan anak jaman dulu, jadi ga secanggih yang kelahiran baru.

JADI! Aku instal si Instagram dan LINE di notebook, oke, nama notebooknya Merah aja ya. TAPI!

Aku sadar sesuatu. Instagram di Putih kayak… engga bawa faedah buatku. Lama-lama Whatsapp aja pun, aku jadi ga rasa itu penting. Apa ya, media sosial bikin aku conscious dan sedikit anxious! Dan kayak, karena seringkali aku balas cepet atau gimana gitu kan, aku jadi degdegan kalau si resipien balasnya lama. Aku salah bicara ya? Kok lama sih?

… Ga wajar memang.

Itu dia penyebab akhirnya aku putus nyambung. Kalau Instagram ada, WA hapus. Pas WA yang ada, Instagram dihapus. Lalu mungkin sejak dua tiga hari ini, dua-duanya akhirnya aku hapus. Jadi Putih isinya aplikasi bawaan, sama beberapa yang memang kurasa penting banget macam note dan satu yang ga penting tapi comes handy buatku, senter, lol (itu bukan aplikasi senter biasa tapi, dia bisa yang teks berjalan itu lhoo~).

Agak beda sih, rasanya. Soalnya kadang kan Oreo agak kambuh rabiesnya, jadi group chat rame meskipun isinya engga penting, lol. Dan yah, kalo ada Instagram aku suka skrol baca ini itu segala macam kan, jadi pas engga ada ya, sediiiiikit kehilangan. Jadi sisa Wattpad di Putih, dan itu pun aku lagi berusaha supaya relain hapus. Jadi sekarang ini lama main sama Putih buat baca Wattpad, dan itu pun lagi usaha buat putus, jadi cerita di library sedikit.

Apa ya, kayaknya ini aku aja deh, tapi media sosial itu ya tadi, bikin aku conscious dan aku ga suka aku yang begitu. (lagian kan ga berpacar, teman-teman juga punya dunia sendiri kayak aku, jadi yah, mau message siapa…)

Dulu, aku ga suka tinggal bilang, nyebut aja, โ€œaku ga sukaโ€ udah, tinggalin. Dulu tuh ya, dibaca kek, ga dibalas kek, pokoknya bagianku kelar, terserah. Dulu tuh ya, aku hepi-hepi aja tuh, ga peduli ada yang ngomongin lah, ada yang ga suka lah, idgaf. Dan really, aku kangen aku yang begitu. Rasanya bebas.

Sekarang aku terperangkap sama ke-conscious-an aku.

Walaupun masih ada banyak sekali momen dimana aku bisa lepas begitu, bisa ketawa-ketawa aja, ngusilin orang, pokoknya bebas, tapi rasanya beda. Tetap aku, tapi bukan aku yang aku inginkan… Apasih.

Sebenarnya ya, kalau aku bisa berhenti engga mikir aneh-aneh, aku yakin aku bakal baik-baik saja. Tapi aku belum bisa berhenti berpikir, jadi semuanya masih tidak segitu baik.

Sejauh ini yang baru bisa kuperbaiki adalah berhenti mencemaskan banyak hal. Besok ya, besok. Kemarin itu kemarin. Hidupmu di hari ini, stop stressing too much. Dan yah, pelan-pelan aku bisa enjoy per harinya. Kemarin-kemarin aku sibuk mikir kapan bulan Juli, sekarang udah ga gitu. Aku bahkan masih tidak bisa percaya kalau minggu ini sudah… Lebaran. Lalu minggu depan minggu depannya aku ikut pemilu! PEMILU PERTAMAKUUUU~

Soal em, ketakutanku, em, sedang dalam renovasi, lol. Sejauh ini sudah tidak terlalu banyak takut lagi sih, jadi yah, oke.

Jadi sekarang aku seperti mengisolasi diri, lol (tapi sekali lagi, sesungguhnya ga ada juga yang mau di message, kalau ke mami papi ya, tinggal ngomong kan?). Engga ada LINE (dibuka cuma kalo mau buka aja, hehe). Instagram juga lagi engga. WA juga tidak. Sebagai gantinya aku instal aplikasi untuk prompts menulis. Aku rencananya lagi mau banyak kerjain cerpen, huhu. Sudah lama sekali tidak cerpenan, kangen.

Lihat nanti saja lah ya, haha.

Selamat Hari Minggu semuanya! Aku ungu kalian!

ps. judul >> isolasi = selotip, jadi ya, selotip.

7 thoughts on “selotip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s