it is okay to not have a dream (engga apa-apa ga punya mimpi)

As much how great it is to have a dream, it is actually okay to not have a dream. Stop having a dream just for the sake of  wanting to have a dream. (Walaupun punya mimpi itu keren, sebenarnya engga masalah untuk engga punya mimpi. Berhenti punya mimpi cuma untuk menuhin ego untuk punya mimpi.)

It’s been a while since i declared to myself that i don’t have a dream anymore. Itu bukan sejenis penghakiman diri, tapi suatu pengakuan dan kesadaran soal aku ini berubah. Aku bukan anak cewe yang dulu segitu energetic dan positif soal dunia dan kehidupan. Aku udah bukan anak cewe yang kayak gitu lagi. Intinya aku berubah.

Tapi tulisanku yang bilang kalau kita anak muda harus sesegera mungkin nemuin mimpi kita itu masih berlaku. Karena ada banyak dari manusia yang driven by goals, driven by dreams. Engga karena aku udah engga begitu lagi artinya pemikiran itu vanished. Aku masih berpikir kalau mimpi itu penting kok. Hanya saja, sekarang aku dalam masa tidak punya mimpi. Em, mungkin belum punya lagi, tepatnya.

Aku masih anak perempuan yang sama yang baru gerak kalau di-input tujuan. Tapi dibanding sebut itu mimpiku, aku lebih senang panggil tujuan itu tempat perhentian, kayak halte atau terminal. Aku stopping by them ga artinya itu yang jadi mimpiku. Aku berhenti sebentar disana simply karena aku butuh tempat istirahat sejenak sebelum lanjut jalan lagi.

Untuk beberapa orang, mimpi itu sesuatu yang luar biasa (dalam pandangan general). Mungkin jadi presiden, atau jadi pengusaha kaya, punya banyak rumah dan mobil. Buat orang lainnya lagi, mimpi mereka luar biasa dalam perspektif mereka sendiri. Misalnya dapat nilai seratus dalam ulangan besok, atau bisa beli majalah favorit mereka tanpa kehabisan, atau mungkin sekedar bisa masak yang enak dan ga perlu bikin dapur kayak kapal pecah. Bahkan mereka yang segitu desperate sama hidup mereka (jangan tapi ya), besok masih bisa isi perut saja sudah mimpi yang begitu besar.

Buatku pribadi, mimpi itu kayak bulan. Dia ada meskipun mungkin malam ini atau malam-malam berikutnya dia ga kelihatan di depan mataku; dia selalu ada, hanya sedang tidak dalam jangkauanku, sedang singgah di belahan dunia yang lain. Dia bersinar karena ada support dari matahari. Dia akan muncul setelah sekian lama berkutat dengan proses. Buatku, bulan itu manifestasi mimpi. Indah dan jauh dari genggaman.

Ada yang ketemu mimpinya secepat mereka ketemu semut. (intinya cepet, lol)

Ada yang buat bisa sadar apa mimpi dia butuh mungkin cuma sebulan? dua bulan?

Ada juga yang seumur hidupnya terus cari dan cari karena selalu merasa belum nemuin mimpinya.

You know what, it is actually fine. Karena sesungguhnya satu dari sekian alasan kenapa kita di dunia itu untuk mencari. Kita memang ditempatkan disini dengan sense kehilangan dan tersesat. Karena dengan begitu, ada dorongan untuk mau bergerak dan pergi mencari, ada dorongan buat engga diam di tempat.

Engga apa-apa ketemu mimpi kalian agak lama. Semua orang punya pace mereka, ingat? Dan sebenarnya engga ada yang berhak tarik garis standar untuk kapan kamu harus punya mimpi dan apakah mimpi itu harus “besar” atau “kecil”. Hidupmu, kamu yang berhak tentuin apakah itu mimpi yang seindah bunga matahari atau sekedar seindah bunga mawar. Kamu yang berhak tetapin apakah mimpi itu butuh proses sama lamanya dengan pohon pinus bertahan di musim dingin atau sekedar kayak ilalang di padang.

Engga apa-apa engga punya mimpi dulu. Sekarang cukup nikmati tiap momen, nikmati tiap sinar matahari yang diterima bumi, nikmati tiap tetes hujan yang jatuh, nikmati tiap helai kelopak bunga yang kesana kemari, nikmati tiap embun yang dibawa malam. Selama masih bisa merasakan kebahagiaan meskipun cuma singkat dan sementara, engga apa-apa untuk engga punya mimpi.

***

Asoy, berapa banyak itu kiasannya, hahaha. Semoga paham ya semua kiasannya. Ini bawaan jiwa artistik lagi keluar, jadi begitulah.

Ini semua karena omongannya MYG pas tahun baru. Kata dia engga apa-apa ga punya mimpi. Dia ekstensiin omongannya ke lagu Paradise, aku ekstensi ke tulisan begini. Dan jujur saja, pertama dengar lagu itu dan ngeh ada lirik begitu, aku berasa kayak sedikit lepas bebannya. (asoy, siap-siap aku rambling panjang lagi, HAHA).

Setelah lepas dari kebodohan kemarin itu, aku hilang arah, makin ga paham diriku sendiri (udah berapa kali aku bilang hal yang sama ke kalian, lol). Salah satunya ya, aku engga tahu dan ga bisa expect lagi masa depan macam apa yang ada di jalan yang ini. Aku mau nge-daydream tapi jatuhnya ga jadi karena aku takut kecewain diri sendiri.

Makanya akhirnya aku bilang sama diriku sendiri, “kita ga usah punya mimpi lagi aja ya, cape.” Awalnya itu bentuk despair dan dissapointment. Tapi setelah lagu Paradise keluar dan aku baca liriknya, omongan itu jadi sebuah pengharapan, manifestasi pengharapanku yang masih ada walaupun sisanya tinggal… lima persen apa ya.

Waktu ketemu Owen dan tukar pikiran soal mimpi, he reminded me of my old me. Sedikit dariku bangga dia bisa sebegitu positif (aduh, pokoknya semua anak dua belas ipa itu kebangganku deh, ya). Sedikit lainnya cuma bisa senyum, karena kayak yang kubilang, dia seakan jadi pengingat soal aku yang dulu. Sedikit lainnya lagi senyumnya miris, karena pada akhirnya aku berubah. But it’s fine, engga punya mimpi dulu untuk sekarang adalah bentuk penyembuhan diri, jadi it is okay. Aku cuma butuh sedikit waktu lebih lagi untuk berpikir dan cari tahu. Late bloomer(?).

Aku craving soft serve, aduh 😦 Temenin aku ke AW dong, siapapun.

Tanggal 7 Juni kalo ga salah, Cindy kembali ke sini. Tadinya mau tulis pulang, tapi pulang itu em, ke rumah ya? Apa Jambi sudah jadi rumah buat dia atau tidak? Astaga, hal kecil aja jadi segini dalamnya… Oke, ini hanya menyampaikan ulang yang pernah masuk dalam telingaku, “rumah itu orang dan tempat.” Silahkan interpretasikan sendiri ya, nanti makin out of topic ini postingannya, lol.

Have a nice weekend.

ps. ini ditulis tanggal 27 Mei, kelar jam 22:40

pss. kayaknya ini bakal sampe ke kalian di minggu ke dua bulan Juni? berarti kemungkinan besar Cindy-nya sudah di Jambi(?) jadi ini telat ya, lol

psss. i still love you guys no matter what, masih segitu gratefulnya buat adanya kalian, segitu apresiasi sama kalian, jangan patah semangat ya

pssss. aku bakal selalu craving soft serve, lagi flu pun aku jabanin, jadi yang ini engga terlambat, hehe

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s