Jadi Ketua Kelas?

Pertama kali aku disematkan(?) titel ‘Ketua Kelas’ itu waktu kelas 5 SD. Kalau aku ingat lagi, kayaknya awalnya bukan aku, aku jadi kayak pengganti buat teman yang sebelumnya. Tadinya aku cuma ketua kebersihan, pulang paling lama hampir selalu cuma buat ngawasin dan temenin (mungkin bantuin juga apa ya) mereka yang piket per harinya. Lalu something happened, dan wali kelas dengan simpelnya tunjuk aku gantiin temanku jadi ketua kelas 🙂

Aku engga ingat kelas 6 apa yang terjadi, cuma ingat ujian, haha. Lalu kelas 1 SMP aku jadi wakil ketua kelas. Kelas 2 SMP sampe 3 SMP agak samar-samar, ga inget aku. Tapi kayaknya kelas 2 SMP aku ketua kelas lah… Entahlah, siapa pun teman SMP yang ingat, tolong beritahu aku.

Lalu SMA datang. Yang aku paling ingat cuma kelas 3 jadi ketua kelas dengan tidak demokrasi 🙂 (i’m still bitter about it, lol) Padahal selama pemilihan aku dengan semangat calonin Michelle dan Haris 🙂 Tapi aku yang kena. Oke, fine.

Jadi kalau lihat itu semua, aku baru sadar ternyata tiap jenjang, kecuali TK, aku sempat jadi ketua kelas. Ga penting sih ya sebenarnya, lol. Aku mau tulis apa ini sebenarnya, aduh.

To be honest, kalau ditanya kenapa aku dijadiin ketua kelas, jawabanku mungkin karena mereka mau lihat aku menderita, lol. Atau mungkin sekadar isi jabatan aja, biar ga keliatan banget cueknya :”) Karena jujur aja, jabatan ketua kelas itu engga ada yang mau(?), setidaknya di lingkunganku. Pada lempar-lempar, lalu yang berakhir dengan jabatan itu ya… selamat.

Tapi aku tahu sih, ada yang memang pengen banget jadi ketua kelas gitu. Kayak dia emang punya jiwa kepemimpinan dan terpanggil(?) buat tuntun teman-temannya, buat jadi sosok leader begitu. Dan yah, i admire kalian yang punya jiwa leadership karena aku tak punya :’)

Aku engga gitu suka jadi pemimpin, lebih pilih jadi anggota. Apa ya, kalo pun jadi pemimpin, tipe kepemimpinanku itu laissez-faire, kamu mau ngapain terserah, kalo nanti jatuh atau emang butuh banget aku, baru kubantu. Tapi ya, kalo aman aja sok, terserah. Gitu. Jadi ya, aku ini tidak cocok jadi pemimpin :’) Lagian aku agak individualis, jadi tidak begitu cocok bekerja dalam tim, meskipun aku engga keberatan sih ya.

Anyway! Ini aku mau, em, mungkin bagi cerita dan tips buat kalian yang terjebak dalam kubangan yang sama denganku dulu. Engga bisa kasih banyak tips sih, kayaknya. Karena kayak yang kubilang di awal, aku ga seserius itu buat jadi ketua kelas.

Salah satu yang paling aku sarankan adalah jangan terlalu serius(?). Maksudnya kayak jangan bawa ke hati banget soal jadi ketua ini. Karena perasaan begitu cuma buat kamu makin rasa ga layak dan kayak… em, mungkin rasanya jadi kayak jatuh cinta one-sided begitu loh. It’s like i pour my all for you but you don’t do the same, gitu. ITU KALAU KELEWAT SERIUS, jadi jangan serius banget. Anggap aja itu kayak em, gelar(?), well, it is though. Pokoknya jangan anggap itu serius banget kalau kamu ga mau baper(?). Karena aku, at some point terlalu serius dan baper…

This is what happen kalau kamu anggap serius.

Kamu jadi ga bebas ngapa-ngapain karena merasa ‘i have this responsibility jadi panutan mereka’. Jatuhnya malah kamu restrain yourself dan ga bisa segitu menikmati masa sekolahmu. (aku sih, engga segitunya ya, jadi ya, asik-asik aja)

Jadi waktu itu perlajaran Kimia kayaknya. Dan kita ada tugas bikin sesuatu? Atau itu dari kelas sebelumnya ya… Itulah. Intinya lalu guru Kimia kita ngambek :’) (hayo, mana nih yang gurunya suka ngambek juga, lol) Jadi beliau balik ke kantor guru. Udah gitu teman-teman lain bukannya peka, malah asik sendiri :’) Untung saja ada yang peka (pastinya bukan aku), jadi mereka susulin ke ruang guru. Tapi apa ya, kayaknya waktu itu kupikir, ‘lama sekali manusia-manusia itu ke ruang guru’ dan karena aku ketua kelas, aku jadi merasa bertanggung jawab (KAN, APA KUBILANG, capein diri sendiri aja emang). Akhirnya aku susulin ke ruang guru.

Oke, engga seberapa ya. Masalahnya waktu itu entah kaki entah perutku nyeri sekali. Kayaknya kaki lah. Aku sampe susah sekali jalan. Dan ruang kelas ke ruang guru hampir kayak ujung ke ujung. Bayangkan betapa struggling-nya aku :’) Dan sampe ruang guru ternyata ga seburuk yang aku pikirkan… KAN, APA GUNANYA AKU SUSAH-SUSAH COBA?

Oh, lalu ingat aku jadi bagian dari panitia pelepasan angkatanku? Sesungguhnya itu juga karena part of me berpikir itu bagian dari tanggung jawabku sebagai ketua kelas karena yang lain pada ga minat. Kasian sama wali kelas.

Lalu em, karena aku pernah terlalu serius juga aku jadi kayak menyakiti diri sendiri.

Waktu itu acara OSIS apa ya? Lalu sekelasku, termasuk aku, memang tidak berminat, jadi agak malas-malas. Tapi sekali lagi, karena aku terlalu bertanggung jawab(?), jadi aku yang ngusir mereka satu-satu, suruh turun buat gabung. Lalu lagi, ada yang tidak nurut. Kalo ga nurut doang mah, oke ya. Tapi lagi, aku merasa dia dekat sama aku, dia paham aku, jadi kayak ya, you know what kind of expectation maksudku. Dan waktu aku usirin mereka turun, dia ada disitu. Dan respon dia ke aku itu… bikin mau garuk tembok :’) Habis itu aku cuma bisa meringis dalam hati dan kayak, betapa menyayat hati, lol. Engga, engga, bukannya belum memaafkan, hanya tak bisa terlupakan :’)

Lalu ada lagi momen dimana… imej ku runtuh sepenuhnya.

I kinda remember pas hari-hari terakhir sekolah, aku sama beberapa teman duduk di depan kelas, lalu liat ke luar, lalu ngobrol ini itu.

Kayaknya waktu itu aku lagi PMS apa ya. Jadi sensitivitas meningkat. Terus di sekolah itu peraturannya tidak boleh makan di kelas, apalagi pas jam pelajaran. Dan beberapa teman sekelas melakukan hal itu. Lalu dengan tidak elitnya, mungkin karena kelewat kesel liat mereka langgar peraturan (aku agak righteous sih ya, maafkan aku teman-teman), jadi aku ya… nangis. Karena aku juga pikir, kayak mau marahin mereka juga antara tak tega (maksudku kayak, SMA mah kan, ya, nakal-nakal buat pengalaman, cuy) tapi juga ada bagian dari diriku yang maunya mereka sesuai sama peraturan. Duh, padahal sebelumnya mereka pernah bawa benda keramat terus sembunyi-sembunyiin depan mataku aja, aku cuma bisa ketawa… Memang hari itu lagi sensitif banget. Jadi ya gitu, nangis. Lalu mereka merasa bersalah, lol, terus ga makan di kelas lagi. (hem, kayaknya memang nangis itu senjata terampuh ya) Tapi habis itu aku merubah kebijakan(?), jadi ‘terserah kalau mau makan, asal jangan ketahuan ya’. Useless juga kan, akhirnya nangisnya.

Setelah itu aku ingat beberapa kali mereka nyinggung-nyinggung itu 🙂 MAKASIH YA.

Cuma ya, terlepas dari semua itu, aku tetap sesama anak SMA kayak mereka. Sama-sama tersesat di labirin bernama dunia dan kehidupan. Ada momen aku juga pengen nakal (tapi suka ga berani, hem). Ada momen aku pengen main-main aja. Ada momen dimana aku lemes dan butuh topangan. Ada momen dimana aku agak frustrasi karena rasanya kayak aku doang yang usaha, gitu. Pokoknya gimana seorang manusia SMA berperasaan, begitu lah.

Dan yah, aku bersyukurnya teman-temanku paham soal itu. They kinda complement me well. I kinda remember pas hari-hari terakhir sekolah, aku sama beberapa teman duduk di depan kelas, lalu liat ke luar (karena kelas paling ujung, jadi gampang liat keluar gitu dari koridornya), lalu ngobrol ini itu. Atau waktu aku bingung dan tersesat, mereka ga keberatan buat dengar pertanyaanku (seberapa bodoh pun itu) dan jelasin pelan-pelan ke aku. Atau waktu aku butuh teman cerita, mereka mau pinjemin telinga buat dengar ceritaku, atau pinjemin mata buat liatin aku nangis (lol). Atau buat ketawain dan gosipin orang lain bareng, HAHA.

Pada akhirnya yang paling membekas adalah gimana perlakuan mereka ke aku yang bikin hatiku em, hangat kalo tiap ingat mereka. Terlepas dari sedih dan bapernya aku karena perbuatan mereka, aku pikir aku udah berhasil bikin beberapa dari mereka terkesan(?) sama aku sebagai ketua kelas (well, kalo ga ada, pura-puralah ada).

Jadi ketua kelas di tahun terakhirku sekolah left me impressed, really. Karena aku memang juga anak sulung sejati (lol), jadinya semuanya rasa kayak adekku, ada banyak momen waktu aku perhatiin mereka dan rasanya kayak ‘aduh, adek-adek, kalian lucu sekali’ (walaupun sebenarnya banyak nyebelinnya, ya sudahlah).

SMA itu sebentar, walaupun pas jalanin feels like forever.

Kayak kadang aku perhatiin Natasya atau Geralda yang belajar, aduh, adem. Aku kapan gitu, lol. Atau kalau perhatiin Angeline, Irene, Cindy, Wilsen Zen, Alvincent, Michelle, dan lain-lain, di depan kelas lagi presentasiin materi mereka. Ah, kalian keren sekali. Kalau lihat Jesslin yang baffled ngehadapin teman-teman sekelas. Kalau lihat Jose yang suka aku limpahin tanggung jawab jaga kelas, terus katanya ga mau, tapi tetep dilakuin (wakil ketua kelas terbaik semilenium ini!). Kalau aku lihat Stefanny, Risa, Sarah lagi berkelakuan absurd. Kalau lihat Aurel, Kelvin, Haris, sibuk sama pergitaran mereka. Kalau lihat Winda goda-godain orang. Kalau lihat Yelline sibuk sama seninya. Kalau lihat Fran sama Johanes ngelawak di depan kelas (aku tetiba ingat waktu sekelas kita main teka-teki sulit, atau waktu kalian jadi ‘kakak-kakak’ yang mau promoin kampus, lol). Kalau lihat Rudy dan antusiasnya dia di kelas. Kalau lihat Iona, Iola, Lisa, Melvina yang makan di depan kelas pake seret meja. Lihat Agnes bolak balik toilet. Lihat Devi serius sama akuntansinya. Lihat Willy yang ganteng dan lihat Owen yang ga ganteng. Lihat Oscar digodain. Lihat Brigitta pas jadi dirijen. Lihatin Jeanne latih anak-anak paskib. Lihatin siapa lagi coba? Siapa lagi kalian yang belum kusebut? Aku cape mikir. Kurang satu deh kayaknya… Ryo! Lihatin Ryo tidur di kelas, lol. Apalagi kalo lihatin kalian lagi lomba di acara OSIS 🙂 PENGEN KU KEMPESIN KALIAN SEMUA SANGKING GEMES.

Terima kasih sudah bikin aku bisa rasain perasaan ini(?). Kalau bukan karena pemilu yang tidak demokrasi itu, mungkin bukan aku yang ketua kelas ya? Terima kasih sudah bikin aku bangga jadi ketua kelas kalian. Maafkan aku yang baperan ini :’) Maafkan aku tidak bisa jadi panutan yang benar :’) Jadi panutan pun, kayaknya engga layak ya. Terima kasih karena tidak menyerah, meskipun ulangan sejarah remedial terus kita. Terima kasih karena teguh tidak pakai kunci waktu UASBN. Terima kasih karena sudah saling tolong satu sama lain dan ga lepas tangan.

Kan, tadinya aku mau cerita soal ketua kelas malah jadi begini.

Sok, jadi ketua kelas kalau memang mau dan terpilih. Berat sih, iya, tapi kan apapun pasti ada plus minusnya. Jadi anggota aja pun ada plus minus.

SMA itu sebentar, walaupun pas jalanin feels like forever. Jadi ya, nikmati tiap momen yang kalian jalani. Kalau bisa dikurangi bolosnya (kelasku dulu pas tahun terakhir jadi cukup rajin ke sekolah meskipun malas acara OSIS). SMA ga bakal terulang.

So, yeah. Begitulah ceritaku jadi ketua kelas.

Advertisements

One thought on “Jadi Ketua Kelas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s