Second chance (or maybe even more). Apa mereka layak dapatin itu?

Engga semuanya langsung kita suka hanya dengan satu kesempatan. Engga semua lagu langsung jadi kesukaan kita setelah hanya denger sekali. Ga semua makanan cocok di lidah kita cuma dengan sekali cicip. Temen aja juga, ga semuanya langsung kita sreg cuma dengan sekali lihat.

Tapi kita manusia suka ga sabaran, maunya cepet. Lihat, ga suka, tinggalin. Dengar, ga nge-feel, cari yang lain. Nyoba, rasa ga pas sama kita, ga mau makan itu lagi. Ketemu, bangun persepsi (entah benar entah salah) soal orang itu dan ternyata ga sesuai “ekspektasi” kita, ga mau nyapa lagi.

Makin susah rasanya buat dilakuin, makin worthy hasilnya.

Padahal apapun itu, pasti butuh waktu. Jatuh cinta pada pandangan pertama pun butuh sepersekian detik buat pikiran kita memproses.

Apa kalian masih ingat Gladys? Aku pernah cerita soal dia di ROF deh, kalau engga salah. Dia salah satu dari sekian banyak orang yang jadi korban kekejaman pembentukan persepsi tanpa dasar dariku. Pertama kali lihat dia, pikiranku udah cap dia sebagai seseorang yang ga bakal bisa jadi temenku. Tapi lalu ini dan itu terjadi, kami jadi temen juga akhirnya. Berantem pun, setelahnya kami baikan, lanjut jadi teman lagi. Sampai sekarang, dia satu dari cuma sedikit orang yang tanggal lahirnya aku ingat, segitu berkesannya dia.

Dan itu cuma sekian dari banyak korban ‘persepsi pre-kenal’ (itu istilah engga jelas, barusan aku buat sendiri).

Apa artinya? Kita sering bikin asumsi, bahkan saat kenal dekat pun tidak, tanpa kasih kesempatan untuk bisa dalami. Padahal kayak yang udah aku bilang, pace masing-masing itu berbeda. Back story tiap kita juga beda. Kita ga bisa expect semuanya sesuai dengan isi otak kita.

Padahal apapun itu, pasti butuh waktu

Lagian sadarkah kalian, kita yang ga kasih kesempatan kedua itu kayak menghakimi. Menurut persepsi pre-kenal kita dia itu sombong, jadi ga mau kita temenin, itu kan… menghakimi.

Secara sadariah dan manusiawiah, seringkali kasih kesempatan kedua itu sesuatu yang bodoh. Dia udah jahat, masa iya mau dikasih kesempatan lagi? Dia udah bikin hatiku hancur, masa mau kasih izin masuk lagi? Mau sehancur apalagi hatiku karena dia?

Tapi sekali lagi, hal itu ga bisa musnahin fakta kalau bersikap kayak gitu sama aja dengan menghakimi. Dan kalian semua pasti diajarinkan, kalau menghakimi itu bukan bagian kita sebagai ciptaan, itu tugasnya Si Pencipta.

Tapi lagi, aku tahu sih, sulit banget buat kita kasih kesempatan kedua atau bahkan lebih dari dua. Apalagi kalau disakitinya kelewatan banget, pasti unforgettable banget, paham kok. Cuma sambil sharing sama Oreo dan aku juga mikir, aku dapat solusi begini.

Kasih kesempatan kedua (atau lebih) ga artinya runtuhin dinding kita.

Gini deh. Setelah disakiti, tembok sekeliling kita hancur kan, karena dia, jadi kita susah payah bangun lagi yang baru. Dengan banyak pengorbanan, dengan banyak air mata, dengan darah, dengan waktu, entah apa pun itu, pokoknya mati-matian. Sampai kemudian ada tembok baru, mungkin lebih kuat? mungkin lebih tipis? Kamu yang tahu.

Kita sering bikin asumsi, bahkan saat kenal dekat pun tidak, tanpa kasih kesempatan untuk bisa dalami.

Nah, kasih kesempatan lagi ga artinya kita jadi bodoh dengan biarin tembok kita dihancurin lagi. Kasih kesempatan kedua maksudku adalah biarin orang itu masuk lewat gerbang. Dia bisa pergi, dia bisa balik lagi, terserah. Tapi ga artinya tembok kita mesti hancur lagi buat kasih dia kesempatan.

Apa ya, dibanding jauhin dia, punya prasangka buruk ke dia, aku lebih saranin untuk lebih hati-hati ada disekitar dia. Raise our awareness terhadap dia, gitu loh. Temen sih, oke, tapi ya, tahu jarak dan kapasitas dia gitu. Kalau memang dia ember, ya lain kali ga perlu cerita ke dia lagi. Kalau tahu mantanmu hobi bohong, ya ga perlu segitu percayain dia soal hal yang penting. Tapi jangan jadi kayak yang, sengaja jauh-jauh lah, atau kalau lihat dari jauh kayaknya bakal papasan langsung putar balik. Itu namanya… pengecut 🙂 Dan kalian bukan pengecut, kalian pemberani semua. /aku doang yang pengecut, huhu/

We all deserve untuk dapat kesempatan

Keberanian dan komitmen kita buat bisa kasih kesempatan kedua (atau lebih) itu salah satu step menuju kedewasaan, karena itu artinya kita udah bisa mengampuni dan maafin orang lain. Itu juga artinya kita udah siap melangkah maju, karena ga ada hal-hal semacam benci, dendam, atau feeling negatif lainnya yang nahan langkah kita. Kerennya, sudah siap menyongsong hari baru yang berbahagia di depan sana.

Intinya, oke, kayaknya engga juga, tapi salah satu lah ya, adalah… We all deserve untuk dapat kesempatan. Entah yang kedua, ketiga, keseratus, sebanyak apapun itu. Seringkali menyakitkan, tapi percaya deh, makin sakit, makin dewasa kamu. Makin susah rasanya buat dilakuin, makin worthy hasilnya. Lagian kalau kamu di posisi itu, kamu pasti pengen dikasih kesempatan juga kan?

Hm, tiba-tiba ingat quote yang bilang kasih kesempatan kedua kayak baca novel yang sama buat kedua kalinya. Ending-nya bakal tetap sama, ujungnya pasti sama, buat apa? Tapi aku mau kasih pemahaman baru ke kalian. Pas baca pertama kali sama kedua kali atau ke kali-kali lainnya, feel yang kalian dapat pasti beda, pemahaman yang kalian dapat pasti beda dari yang pertama kali. Lagian kalau memang suka sama novelnya, baca beribu kali pun kamu pasti ga keberatan.

Jadi masih mau nahan-nahan diri buat kasih kesempatan kedua?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s