16:34

As time goes by, aku makin engga setuju sama “agama A itu minoritas”, lebih-lebih “kita kan minoritas, bisa apa sih?”. GAES, NO, mentality kayak gitu bikin kita mudah nyerah dan kelewat pasrah sama keadaan. Mind set begitu bikin kita secara ga langsung jadi penakut, dan rasa takut itu salah satu dari sekian hal paling mematikan di dunia ini.

Pertama, rasa takut itu nular. Iya, kayak em, apa penyakit menular ya, flu deh, flu. Saat seseorang tumpahin rasa takutnya ke kamu, oke, awalnya kamu kan cuma denger ya. Tapi pas kamu lagi sendiri, kepikiran, ujung-ujungnya kamu ikut takut. Lalu kamu cerita ke yang lain, dan siklus yang sama pun terulang.

Kedua, rasa takut itu nahan langkah kaki kita untuk maju dan breakthrough the obstacles di sekeliling kita. Rasa takut bikin kita kebanyakan mikir negatif, bahkan sebelum ngapa-ngapain. Rasa takut itu bisa bikin sesuatu yang sebenarnya kecil banget jadi kelihatan begiu besar dan tak terkalahkan.

Jujur saja, aku prihatin lihat keadaan akhir-akhir ini. Dan cara orang-orang tanggapin kejadian-kejadian yang terjadi malah memperkeruh suasana. Miris lihatnya.

Aku pribadi lihat semuanya udah bukan soal minoritas whatsoever, sekarang ini udah bukan waktunya sibuk mikir “gue minoritas” atau “gue mayoritas”. Karena yang jadi monster di game kita itu sama, musuh yang kita hadapin itu sama. Dan berdasarkan ilmu sosiologi, adanya musuh bersama bisa ciptain integrasi sosial, bikin kebersamaan lebih kuat. Kalau kitanya sadar soal itu dan mau turunin ego, kemudian pegangan tangan, saling topang satu sama lain. Kalo engga, ya udah, kelar 🙂

Sekarang ini perihal minor mayor udah bukan prioritas.

Aku, jujur saja masih punya faith sama generasi baru bangsa ini. Walaupun suka dibilang begini begitu, ada sesuatu yang besar yang bakal dibawa sama generasi muda. Kalian, kita, lahir di zaman begini, itu ada maksudnya, ada artinya, ada sesuatu yang ngekor dibelakang kita. Apa itu? Tanggung jawab soal kemajuan bangsa. Hal semenakjubkan itu ada dibahu kita.

Dulu aku suka mikir. Kalo dengar cerita orang zaman dulu ya, pada pas muda urakan, main sembarang, lalu agak tua mulai settle down. Sedangkan kalau aku kaitin sama keadaan anak muda sekarang, kelakuan begitu pasti kena hujat. Di satu sisi aku menyayangkan, i mean, kenapa kita engga bisa kayak gitu juga? Tapi di sisi lain aku bersyukur. Kenapa? Itu artinya kita jauh lebih dewasa, lebih maju pemikirannya. Udah tahu mana prioritas mana bukan, mana yang penting mana yang engga, mana yang harus tekun dikerjain mana yang bisa nanti aja.

Sedikit cerita yang mirip begitu, dulu aku suka mikir begitu dengar kesaksian mereka yang dulunya berantakan, lalu ketemu Tuhan, lalu mereka tobat, begitu begitu. Kupikir aku yang udah dari lahir Kristen, kok engga ada sparksnya ya? Mereka yang istilahnya, lebih telat dariku, kok malah seseru itu? Sampai aku kemudian disadarkan, justru aku ini yang beruntung. Umur kita ga ada yang tahu. Gimana kalau sangking terlambatnya kita malah ga ada waktu untuk kenal siapa Pencipta kita, ga sempat dekat dan punya relasi dalam sama Dia? Pada akhirnya hidup kita sia-sia aja. Aku udah dipaparin dari kecil aja, ngehnya baru pas mulai SMA, syukur-syukur masih bisa napas sampai sekarang. Jadi yah, engga mikir gitu lagi deh.

Pada akhirnya baik mayor maupun minor sama-sama berharga

Anyway, keminoritasan itu harusnya bikin kita merasa spesial, karena yang kayak kita itu sedikit. Paham ngga? Kayak misalnya brand fashion tertentu, mereka keluarin barang itu suka sedikit banget. Apa karena sedikit jadi ngga ada yang beli? Apa karena cuma sedikit jadi itu barang biasa aja? Justru kebalikannya! Itu barang jadi sesuatu yang harganya mahal banget dan dikejar-kejar banyak orang. Apa barang seberharga itu diletakin depan kamar mandi atau pintu rumah buat jadi alas kaki? Ya engga lah! Pasti diletakin di lemari kaca, disimpan bagus-bagus, rapi-rapi.

Mayoritas gimana? Kayak baju biasa, mass production kan, tapi apa artinya engga ada yang mau beli? Apa karena mass production jadi ga dibutuhkan? Atau karena banyak jadi ga usah dipeduliin? Engga juga kan? Tetep penting kan, baju itu? Masa ga pake baju 😦

Pada akhirnya baik mayor maupun minor sama-sama berharga kan? Sama-sama penting dan krusial. Sama-sama layak. Jadi kenapa harus merasa kecil atau engga dianggap? Toh, kan sama aja jatuhnya.

Spread message yang positif, yang membangun, yang bisa bawa damai sejahtera, bikin tenang.

Selain itu, penggunaan media sosial recklessly! Guys, please. Aku tahu, anak jaman sekarang ini pinter banget. Bahkan dari kecil udah pinter main gadget! Itu artinya kita pinter banget, cerdas. Pakai lah itu, kecerdasannya :’) Coba kalau nemu berita, atau “peringatan” ya, diresapi, dimaknai, dipahami, dicari tahu benar apa endak. Lalu coba pikir, kalau aku share beginian dalam keadaan begini, apa bisa ngebantu ease hati orang-orang ya? Kalau kalian share hal-hal yang malah bikin yang lihat jadi “ih, kok serem ya? jadi ga nyaman pergi-pergi, takut” ya, TOLONG RESTRAIN YOURSELF, ABORT MISSION, jangan share.

Orang tua itu ya, karena udah tua, rasa takutnya lebih banyak dari kita. Dan pemikiran mereka seringkali engga sepanjang kita. Kita share mikirnya, ya, buat bantuin. Tapi orang-orang tua yang baca jadi ngerasa takut. Harusnya yang muda yang lebih paham, lebih pinter, lebih apa ya, “dewasa” gitu lah ya, coba bisa em, tahan diri. Jadi lebih baik spread message yang positif, yang membangun, yang bisa bawa damai sejahtera, bikin tenang.

sekarang ini udah bukan waktunya sibuk mikir “gue minoritas” atau “gue mayoritas”

Aku pernah baca, saat kita sedih, lalu ke depan kaca dan paksain senyum, lama-lama kita bisa beneran senyum dari hati, engga terpaksa. Begitu loh, teman-teman sesama yang masih muda. Kita yang lebih cepet tanggap dan mengerti, sama-sama putar otak supaya bisa tetap tenang dan kalem. Kalau semua rusuh, kalau kita banyak panik, heboh, ga bakal bisa mikir bagus. Kalem aja kitanya. Kalau memang kamu waswas, ya hati-hati saja, lebih banyak mendekatkan diri sama Pencipta, gitu aja. Jangan banyak gembar-gembor, kamu ga bantu apa-apa 🙂 Just shut your mouth, don’t be so nosy.

Sekali lagi, kayak yang udah pernah kubilang, kalau terima share-an dari WhatsApp, apa LINE, coba periksa dulu bener apa salahnya. Sama coba, itu kecerdasannya, sekali lagi, manfaatkan 🙂 Kayak salah satu yang aku udah beberapa kali temui, yang deretan nama tempat yang katanya ‘hindari dulu’… Gaes, lucu ga sih, itu kok mall semua… Dan jelas-jelas ga lama setelah itu ada share-an baru yang stated kalau itu HOAX (akhirnya dibawah-bawahnya ditambahin kalau tempat-tempat itu harus dihindari karena sale ramadhan belum mulai, lol). Tapi kok masih aja ada yang share :’) Terus listnya nambah, cuy! Sedih loh, aku lihatnya.

Sekarang aku cuma bisa bilang, yuk, sama-sama doa, punya hati buat bangsa kita. Terlepas dari suku mana, dari agama atau kepercayaan apapun, punya satu keinginan sama, jagain kemerdekaan. Itu pendahulu ngerjainnya gila-gilaan lho! Masa kita engga segitunya? Kalau dalam pacaran cuma kamu doang yang usaha, apa hubungan kalian bisa lancar? Endak. Begitu juga sekarang, sama-sama berjuang dong, biar bisa lanjut ke jenjang lebih serius(?) HA, BAPER KALIAN SEMUA! :’) Untung gebetanku itu gebetan bersama ya, jadi sakitnya bagi-bagi sama yang lain.

Happy Saturday, loves! Jaga kesehatan ya. Tidur cukup, makan teratur, banyak minum air putih.

Bangsa kita milik bersama. Jadi jaganya juga mesti bareng

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s