Gundah Gulana-nya Tanggal 8 Mei (2/3)

Halo. Hari ini 6 Mei 2018, Hari Minggu. Aku niatnya mau belajar, jadi hari ini ibadahnya yang jam 09.30, itu makanya sekarang, jam setengah dua, aku ada di rumah sendirian di depan notbuk dan hape dan kertas dan bundel soal. Tadi udah buka puasa (aku puasa sampe jam dua belas selama sudah beberapa minggu, nanti aku kembali ke topik ini ya), udah bikin teh dan lagi didinginkan di kamar dengan bantuan air-con, pokoknya semua sudah siap. Tapi lalu aku rasa mengantuk 🙂 Tapi lagi karena harinya sudah dekat sekali, aku engga boleh sia-siain waktu. Setelah ini semua… kita lihat nanti, lol.

Sebenarnya aku semalam mikirnya mau ibadah yang jam 07.00, tapi em, ngantuk :’) Jadi ya sudah. Aku tidur lagi sampe jam delapan mau jam sembilan, lalu bangun dan mandi, siap-siap. Aku jalan kaki kan, nah, pas di depan komplek, aku liat jam, udah 09.22 :’) Aku langsung yang “plis, plis, jangan telat”. Puji Tuhan jam 09.29 sampe, hahaha. Tapi aku keringetan :’) Padahal tadi dingin di dalam gereja, tapi aku rasa panas.

Jadi kemarin itu aku kepikiran mau cari kayak desk organizer gitu. Soalnya selama ini aku cuma ada satu lemari kecil tiga laci dan itu sudah penuh. Lagian aku mau yang ada display(?) gitu, jadi bisa nampak dari luar. Jadi aku cari di Tokopedia. Lalu aku entah gimana caranya ketemu satu kayak storage dari acrylic gitu, dan itu ad di Miniso. Dan kayaknya jodoh aja ya, Miniso ada di Jambi, walaupun jauh dari rumahku, literally jauh. Jadi aku sibuk kemarin, “ke Miniso yuk, kesana, liat, lalu pulang” dan Darren ngomel-ngomel dengarnya, hahaha. Dan ternyata lagi, di Miniso juga ada kayak merch We Bare Bears! ASTAGA! Aku jadi ngebet.

Oh, karena gereja buka cabang dan papi kayak dijadiin penanggung jawab, jadi papi sama mami sama Darren ga ibadah di gereja tapi disana. Dan itu deket sama mall yang ada Miniso-nya. Terus juga papi sama mami ada arisan marga gitu kan, kayaknya deket juga. Jadilah mami tawarin, ke mall itu tapi aku, Cia, Devone ke sananya naik GoCar, ketemu disana. Sejujurnya, aku mau banget, like bangedh. Tapi… belajar :’) For now prioritasnya bukan itu :’) HUWE, SEDIH.

Oh, oh, evolusi selera kotak pensilku! Dulu aku suka yang gede gitu, yang banyak kantongnya, karena aku suka organizing gitu kan. Jadi dulu dan untuk sekian lama aku pake satu kotak pensil gede warna pink ada Minnie Mouse-nya, hehe. Lalu entah kenapa, aku jadi pengen pake yang kecil simpel aja. Jadi aku tuker pake kotak pensil warna biru tua dengan aksen oranye di risletingnya. Dan karena isinya banyak, lebih pasnya mungkin melebihi kapasitas, bagian lining dalamnya, yang kayak dari material leather(?) apa sih, yang kayak plastik tapi bukan plastik itu, kayak di tas kadang ada juga, nah, dia jadi sobek-sobek. Aku pengen beli baru tapi… uangnya engga memadai. Tapi aku pengen beli. Sampai akhirnya aku mikir, apa aku bikin kotak pensi sendiri aja ya? Tapi mager. Akhirnya aku ketemu ide bagus.

Di rumah ada banyak kain bekas gitu. Entah dari baju lama yang aku gunting-gunting (lol), atau sisa mami jahit baju, banyak. Jadi aku  ubek-ubek keranjang kan, dan ada daster favoritku dulu (tapi ga pake lagi karena dia udah sobek-sobek dan aku makin tinggi). Intinya aku jahit itu kain jadi bagian dalam kotak pensil biruku, lol. Jadi satu masalah selesai! No need to buy new pencil case.

Aku engga kedengaran kayak anak yang desperate sama SBMPTN ya :’) Cerita Miniso, kotak pensil; kalo kata J-Hope engga ada ginjanggam (i find it hard to translate that to Indonesian) sama sekali. Hah…

Hari ini langitnya biru sekali! Cantik, kayak aku 🙂

Ah, mengantuuuuuk!~

Pas break belajar, aku main-main ke blog Jesslin, hehe. Ada sekitar tiga sampai empat postingan yang belum kubaca sejak terakhir kali aku kesana. Btw, sebenarnya ke sana atau kesana sih? Aku tiba-tiba hilang arah, hahaha. Anyway, pas baca salah satu postingan Jesslin, aku teringat sesuatu yang em, Michelle-Cindy suka dengungkan, dan baru-baru ini Taehyung bicarakan di Burn The stage episode 7.

Jesslin cerita kalau dia lebih pilih diam karena ga mau lihat orang lain tersakiti. Well, aku juga dulu (ugh, dan mungkin sekarang masih, sedikit) berpikiran kayak gitu.

Ditinggalkan itu jenis luka paling dalam dan membekas, sekedar “waktu” ga bakal bisa hilangin rasa perihnya.

Kalau di Sosiologi, kata Om Durkheim ada yang namanya bunuh diri altruistik, bunuh diri sangking lebih sayang sama selain dirinya sendiri. Oke, altruistik bagus sih ya, malah penting buat mencapai em, keharmonisan sosial. Tapi kalau sampe korbanin diri buat hal-hal ga faedah cuma buat “yang kita sayang” apalagi sampe bunuh diri… Stupid sih ya. Maksudku kalau memang sayang, ga mau orang lain terluka, kamu pikir bunuh dirimu engga bikin mereka sakit dan hancur? Ditinggalkan itu jenis luka paling dalam dan membekas, sekedar “waktu” ga bakal bisa hilangin rasa perihnya.

Oke, barusan kedengaran ekstrem. Tapi itu penggambaran yang tepat buat perihal “i choose to shut my mouth supaya yang kusayang engga tersakiti” bukanlah em, prinsip yang em, sesuai(?) Or at least buatku pribadi. Kan masing-masing bisa punya visi misi sendiri-sendiri, ga mesti sama, hehe.

Dari yang aku alami sih ya, simpen sendiri mungkin memang dari luar jauh lebih baik buat menjaga hati dan perasaan yang disekitarku, mereka yang aku care for. Ga apa-apa aku struggling, istilahnya aku udah jatuh ke jurang dan cuma pegangan sama satu batang tipis pun, demi yang kusayang, aku rela. (kan, kedengaran kayak bunuh diri altruistik!) Sampai rasanya aku mau meledak! Kalau aku ini botol, kayak botol kaca yang ditaruh di lemari es dan dibiarin. Dia pecah, ga kuat sama tekanan. (aku pernah ngomong-ngomong, lol, dan begitu saja satu botol favoritku musnah, haduh).

Waktu kita dihadapin sama satu masalah, aku rasa salah satu reaksi alamiah kita itu diem, simpan. Kenapa? Karena itu masalah. Apa ya, kita kayak punya kecenderungan berpikir kalau masalah itu masalah, sesuatu yang harusnya ga ada. Itu makanya kalau ada, rasanya kayak suatu keabnormalan dan kalo bisa “gue aja yang tahu, lu semua ga perlu tahu”. Entah karena malu, atau takut, pokoknya begitu. Maka itu banyak dari kita lebih pilih diam. Kita pikir dengan diam, kita bisa cari jalan keluar sendiri.

OKE, bisa. Tapi bukannya kalau kamu ditemenin banyak orang, bukannya penggalian kalian menuju penyelesaian bisa lebih cepat? 🙂

Taehyung cerita kalau syuting dramanya bikin dia tertekan. Dan member lain dengan blunt ya bilang, “kita ga bisa bantu apa-apa”. Dan yah, yang mereka bilang memang bisa jadi representasi gimana kita dan sekitar kita. Saat seseorang yang kita pedulikan, kita sayang kena masalah, seringkali kita ya, memang ga bisa bantu apa-apa selain dengar, atau doain dia. Tapi buat sesuatu yang ber-impact lebih lagi? Dalam banyak kesempatan tidak bisa. Cuma bisa dengar, mungkin peluk dia kalau dia nangis (oke, ga nangis juga ga apa pelukan sih sebenarnya, but you get the point lah ya), atau elus punggungnya.

Apa ya, kita kayak punya kecenderungan berpikir kalau masalah itu masalah, sesuatu yang harusnya ga ada. Itu makanya kalau ada, rasanya kayak suatu keabnormalan dan kalo bisa “gue aja yang tahu, lu semua ga perlu tahu”.

Tapi kemudian member-member bilang lagi. “Kita mungkin ga bisa bantuin kamu, tapi kita bisa jadi dorongan besar buat kamu.” Dan really guys, sebenarnya itu yang kita butuhkan saat ada masalah. Support. Ga peduli sesakit apapun, kalau kita mau terbuka sama orang disekitar kita, mungkin masalahnya engga berkurang, tapi kekuatan kalian hadapin masalah jadi plus plus. Salah satu buku yang pernah kubaca bilang kalau ‘kesukaran yang dibagi bersama mengungkapkan persahabatan yang tulus’.

BAM, aku udah cocok jadi motivator belum?

Kan, aku sama sekali engga kedengaran nervous buat SBMPTN ya :’) Padahal Selasa lho itu, aduh. HUWE!

My point adalah em, it’s okay buat bagi-bagi “penderitaan”-mu ke orang lain. Karena dengan gitu kita bisa kayak dapat kekuatan lebih. It almost feels like mereka pinjemin kekuatan mereka biar kita bisa melangkah, gitu.

Kayak aku sekarang. Karena aku em, memaksa untuk open up, orang tuaku jadi bisa paham kan, maksudku. Mereka jadi tahu gimana mauku. Dan mereka bisa support. Dan aku juga jadi semangat lagi. Begitu.

Oh, dan kalau memang sayang, kamu pasti mau yang kamu sayang terbuka sama kamu kan, berbagi suka duka mereka ke kamu. Kalau kamu cuma mau mereka gitu tapi kamu sendiri engga gitu, mana bisa 😦 Jadi ya, gitu.

(HITUNG BERAPA KALI AKU BILANG GITU ATAU BEGITU)

Aku masih agak mengantuk, ngomong-ngomong 🙂

***

Pada akhirnya aku berhasil selesaikan target 7 x 25 menit buat belajar. (itu namanya gaya belajar podomoro, diselingi sama istirahat 3-5 menit). Barusan kelar baca buku untuk 30 menit, dan ini em, kayaknya mau makan malam? Atau mungkin engga? Hem.

Oh, di Alfamart lagi ada promo, dua Lay’s yang varian baru cuma 10.000 untuk harga yang satunya bisa sampe delapan sembilan ribu :’) Aku suka yang ungu sama oranye sih, yang biru agak gimana gitu. Tapi selera orang kan beda-beda ya, sok coba. All time favorite sih, selalu sour cream and onion! Aku kenal itu rasa dari Pringles, tapi Pringles mehal. Lalu ga berapa lama muncul varian Lay’s, bam! Tapi agak asin 😦

Kalau ditanya Lay’s atau Chitatto, dulu aku bakal jawab Chitatto. Tapi seperti yang sudah kupaparkan, aku ini berevolusi(?). Dulu seleranya begini, lalu seleranya begitu. Nah, jadi sekarang aku lebih suka Lay’s. Tapi Pringles nomor satu sih… Kenapa Lay’s? Karena keripiknya tipis, aku suka. Gitu aja.

Stok teh kantong yang biasa kuminum tinggal dua, gaes 😦 Aku sedih. Ada sih, teh satu lagi. Tapi aku tidak suka wanginya (padahal kayaknya brand itu lebih terkenal). Yang aku minum biasanya itu wanginya kayak Teh Botol. Dan karena aku ga gitu suka manis, gulanya aku masukin sedikit. Jejeng, rasanya jadi kayak Teh Botol beneran tapi yang agak murah, lol.

Di halaman word udah sampe 5 halaman, tapi isinya luber-luber, ga jelas.

Em, kayaknya aku mau lanjut belajar aja deh. Kenyang minum teh, lol.

BESOK D MINUS ONE! H-1!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s