‘Sistem Penilaian Baru SBMPTN 2018’ Yay or Nay?

Halo, siapa pun yang berjuang untuk SBMPTN tahun 2018! Sudah tahu soal perubahan sistem penilaian untuk seleksi tahun ini?

Ditahun-tahun sebelumnya, penilaian SBMPTN itu soal yang dijawab benar skornya 4, kalau salah dikurangi 1 poin, dan skor 0 kalau engga isi. Jadi kalau berdasarkan penilaian yang begitu, salah satu yang ditekanin banget adalah kalau ga tahu, jangan sok jawab. Ini SBMPTN, bukan Ujian Nasional.

Waktu tahu jadwal SBMPTN tahun ini, aku agak terkesima(?) sama jarak tanggal tes dan pengumumannya. Hampir dua bulan! Padahal tahun sebelumnya paling sebulanan. Awalnya aku pikir mungkin karena lebaran apa ya? Tapi kemudian terjawab, gaes.

Sistem penilaian baru yang bikin lamban! (well, engga stated sama panitia, tapi kalo berdasarkan terawanganku begitu)

Dengan sistem penilaian baru, scoring SBMPTN jadi kayak Ujian Nasional, dimana kalau benar dapat skor (dalam hal ini poinnya 1), kalau salah atau kosong ya, ga dapat skor sama sekali. Berdasarkan yang kubaca, katanya sistem begini menjunjung fairness begitu.

Sebenarnya kalau sampai disitu aja, aku sih, oke. Kalau begitu konteksnya, lebih baik tahu tidak tahu jawab, siapa tahu benar, lumayan banget. Peserta jadi ga perlu takut-takut gimana. Jawab aja. Toh, kemungkinan benarnya fifty-fifty.

Tapi perubahannya engga cuma sampai disitu.

Setelah skoring (sama kayak dalam SIG, lol), nanti ada tim yang bakal analisa tingkat kesulitan soal. Gimana caranya? Mereka bakal lihat, soal mana yang peserta banyak jawab bener, soal mana yang engga. Kemudian untuk soal yang tingkat kesulitan “lebih”, skornya dibikin plus.

Misalkan begini. Anggap dari sekian banyak peserta, kita ambil dua sampel untuk diaplikasikan ke penilaian general. Nama mereka Mawar dan Melati. Mereka ini sama-sama dapat skor 7 dari 10 soal, tapi soal yang terjawab beda-beda. Mawar jawab nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 10; kemudian Melati jawab nomor 1, 2, 3, 7, 8, 9, 10.

Sesudah semua, literally SEMUA hasil ujian peserta dicek, mulailah seleksi sesungguhnya. Tim dari panitia bakal cek tiap hasil untuk lihat soal mana yang banyak terjawab, mana yang sedang-sedang aja, mana yang sedikit. Lalu ada skoring baru lagi berdasarkan tingkat kesulitan hasil analisa tim itu.

Aku selipin tabel buat bantu kalian paham ya.

IMG_20180410_230806.jpg
ini bukan penilaian exact-nya ya, cuma buat contoh kita aja

Berdasarkan tabel itu, nilai Mawar lebih tinggi satu poin dibanding Melati (skor Mawar = 13, Melati = 12).

Itu hasil sistem penilaian terbaru.

Gimana kalau penilaiannya kayak tahun lalu? Nilai mereka bakal beda juga sih, tergantung sisa 3 soal itu salah atau kosong. Misalkan Mawar itu tiga-tiganya salah, sedangkan Melati cuma satu yang salah, dua lagi dia kosongin. Maka nilai Mawar jadi 28 – 3 = 25 dan Melati dapat skor 28 – 1 = 27.

Kalau ditilik dari perihal nilai, memang sistem baru jadi lebih enak. Salah engga ada pengurangan nilai. Malah bisa-bisa yang kamu nebak itu bener, kan nambah nilai tuh. Kalau ikut sistem lama, salah skornya minus satu. Makanya kalau dulu itu prinsipnya mending kosong daripada salah. Dan kalau berdasarkan analisa per materi di salah satu Try Out, ga sedikit yang malah nilainya minus banget(?).

Tapi dari segi waktu dan tenaga, sistem sebelumnya lebih efisien. Benar dapat 4, salah -1, ga jawab 0, titik. Kalau sistem baru jadi kayak kerja dua kali, udah skoring biasa, analisa tingkat kesulitan lagi, baru skoring lagi (tapi ini berdasarkan pemahamanku terhadap artikel-artikel yang kubaca ya). Jadi penilaian butuh waktu lebih lama.

Kemudian… Ini sebenarnya mestinya sesuatu yang dianggap konstan, atau dalam hal ini sama semuanya. Istilahnya kalau pelajaran Ekonomi, ini yang kita sebut ceteris paribus atau gampangnya bukan faktor yang perlu diperhatikan lah, begitu.

Keberuntungan.

Anggap begini. Sebenarnya dari 10 soal, cuma bener-bener tahu jawaban dari 4 soal aja. Sisanya nebak. Dan kamu itu orang yang beruntung, jadi 5 dari 6 tebakanmu benar! Otomatis nilaimu bertambah kan. Lalu ternyata yang kamu tebak itu tingkat kesulitannya tinggi, jadi nilaimu makin plus plus.

Terus yang nebak, salah, terus yang dia jawab pada soal yang ringan sampai sedang, yang susahnya cuma segelintir… Gimana?

Solusi terbaik cuma satu sih, memang. Belajar yang bener, itu aja.

Cuma kalau mengingat apa tujuan awal ganti sistem (buat keadilan), aku sih, agak kurang sreg. Karena aku pribadi tahu jelas gimana rasanya ada di kumpulan yang ‘tidak beruntung’. Jadi ya, begitu deh. Emang mesti belajar bagus-bagus, titik.

Menurut kalian gimana?

/disc: hal-hal yang aku tuliskan di atas adalah berdasarkan pemahamanku semata plus sedikit sharing sama temanku, bisa jadi sama dengan yang sesungguhnya, bisa jadi tidak. aku cuma berusaha kasih gambaran biar kalian paham.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s