Why K-pop and Why NOT K-pop?

I’m writing this as my own respond to this following article.

Jadi beberapa waktu lalu ada satu penulis di South China Morning Post yang tulis kalau K-pop itu adalah penyakit menular. Ini summary-nya.

Yonden Lhatoo highlights the tragic suicide of boy band idol Jonghyun to argue that the so-called Korean Wave of cultural entertainment is an affliction that the world would be better off without 

Yonden Lhatoo (penulisnya) menyoroti peristiwa bunuh dirinya Jonghyun untuk opininya yang bilang kalau Korean Wave adalah suatu penderitaan yang dunia ga perlu.

Bagaimana pendapatku soal K-pop itu sendiri?

Aku pertama kali kenal k-pop itu sekitar 2010-an, waktu Gee (SNSD) lagi booming. Waktu itu aku nonton video musik mereka lewat televisi dan langsung pilih Sooyoung sebagai favoritku (Sooyoung dibaca Suyong ya, gaes).

Orang kebanyakan stated kalau member girlband/boyband korea mukanya sama semua, tapi aku lihat SNSD waktu itu cuma beberapa yang mirip dan susah dibedain sih. Kenapa bisa mikir kalau muka mereka sama semua? Itu karena belum familiar. Sama aja sama semuanya yang baru, ga cuma korea-koreaan, jadi plis, hentikan stereotip itu.

Jujur aja sih ya, aku suka korean pop itu awalnya karena mereka pada cantik-cantik, ganteng-ganteng. Kemudian mulai cari-cari dan muncullah kenyataan kalau untuk jadi artis di Korea sana itu sulit, mesti training berapa lama lah, gimana berjuang biar bisa masuk chart musik dan topping the charts, pokoknya engga seindah yang muncul di tivi. Tapi aku belum begitu rasain dampak mereka buat hidup aku secara lebih dalam sih, jadi aku ya suka musiknya, suka personaliti mereka, suka lucunya mereka, segitu aja.

Sampai kemudian makin lama kenal, makin kelihatan jeleknya. Really guys, sampe pelecehan seksual biar bisa debut lah, pembully-an teman segrup, ngehina grup lain, seriously unpretty. Ditambah lagi dengan “budaya” bunuh diri disana itu bukan main! Jangan lupa soal operasi plastiknya juga. Tapi ya namanya suka, gimana lagi. Lagian aku purely suka yang baik-baiknya, why not? Hiburan juga buat aku.

Terus akhir 2016 aku ketemu sama yang namanya BTS (Beyond The Scene). Sebenarnya bukan pertama kali discover mereka sih, sebelumnya cukup sering dijejalin sama salah satu sahabatku soal mereka. Tapi engga tahu deh, Desember 2016 jadi jatuh cinta sama mereka. Ada yang beda sama grup itu dan aku tertarik buat cari tahu.

Ternyata pembedanya itu ya, mereka sendiri. Gimana masing-masing beda latar belakang dan benar-benar living the harsh life ‘cuma’ untuk mimpi mereka, jadi penyanyi yang dikenal orang-orang. Gimana salah satu member cerita dia pernah tampil cuma dengan penonton yang dua tiga orang. Gimana mereka pernah segitu engga ada uangnya sampai ga makan. Gimana salah satu membernya yang backgroundnya dari akting tiba-tiba harus nari yang segitu intens dan nyanyi (vokal buat akting sama nyanyi itu beda lho, ternyata). Gimana salah satu member ada yang hampir aja ga ikut debut karena dia benar-benar ga bertalent, nyanyi ga bisa, nari ga bisa, dia datang purely buat mimpinya bisa tampil di tivi buat keluarganya. Gimana salah satu member yang otaknya luar biasa pinter buang itu semua dan lebih pilih untuk nge-rap. Gimana salah satu membernya juga sampai ngalamin disorder sampai ‘bunuh’ dirinya dan jadi orang lain. Dan berbagai cerita lainnya. Seriously, itu bikin aku belajar dan yah, their stories touch me deeply. Tadinya mereka sampe mesti ke jalan buat sebar selebaran soal konse mereka dan sekarang sampe berpuluh ribu orang rebutan untuk tiket konser mereka.

Kebayang ga sih gimana perjuangan mereka sampe bisa ke titik dimana mereka sekarang? Belum lagi di sana itu ada anggapan kalau cuma artis the big three (tiga agensi terbesar di Korea) yang bisa sukses. Tapi kenyataannya bilang kalau BTS yang dari agensi kecil juga bisa sukses dengan usaha mereka. Dari dorm yang sempit sampe sekarang tinggal di tempat elit. Kebayang ngga, butuh bertahun-tahun dan entah berapa tong keringat dan air mata supaya mereka bisa sehigh itu?

Aku pernah cerita kan, aku pernah nangis karena mereka. Lupa kenapa, tapi kalo engga salah itu waktu mereka konser yang WINGS. I don’t know, bangga aja gitu. Call me berlebihan, tapi dari BTS-lah aku belajar untuk ga sibuk sama diri sendiri dan lebih perhatian ke sekitar, belajar untuk kenal diri lebih lagi juga dari mereka.

This slideshow requires JavaScript.

Jadi kenapa K-pop?

They inspire people, they motivate. Berapa banyak yang bilang kalau sejak kenal grup tertentu, mereka jadi pelan-pelan lepas dari depresi yang mereka alami? Berapa banyak yang ngaku setelah kenal grup ini, mereka jadi seseorang yang lebih baik? Banyak banget kalau kalian belum tahu 🙂

Dengan musik dan cerita yang mereka sampein, orang bisa berubah. Perjuangan mereka untuk jadi idol bikin orang lain terpana sama kerja keras dan usaha mereka. Semuanya ga mereka dapat cuma dalam sehari, butuh beribu hari untuk jadi mereka yang sekarang. Butuh banyak orang supaya mereka bisa kayak sekarang ini dan mereka ga pernah lupa untuk sebutin semua di speech kemenangan mereka.

Satu temenku cerita kalau alasan dia mau jadi dokter adalah karena pengen nge-operasi plastik orang gara-gara idol banyak yang oplas. Kedengaran lucu, but she really throw another dream of her untuk kedokteran itu.

This slideshow requires JavaScript.

Lalu kenapa jangan k-pop?

Seperti yang aku udah singgung di atas, Korea Selatan memang terkenal dengan suicide rate dan operasi plastiknya. Dua hal yang tidak patut ditiru.

Truth to be told, ada banyak orang juga jadi ga pede sama diri sendiri karena liatin idol sana yang “sempurna”. Ada banyak yang jadi “buruk”, misalnya stalking (sasaeng, dibaca saseng), ganggu privasi, self-harming supaya dapat perhatian lah, banyak hal jelek lainnya.

Banyak juga penggemar yang terlalu mendewakan idolanya dan end up ikut-ikutan idolnya (ga peduli lagi entah itu benar apa tidak), kayak mereka yang mutusin ikut bunuh diri setalah berita Jonghyun keluar. Aku oppose kelakuan kayak gitu. Life is precious.

Tapi gimana pun juga, itu pilihan mereka. Kita ga bisa juga sepenuhnya tunjuk kambing dan bilang k-pop bawa pengaruh buruk. Bagaimana pun, yang mempengaruhi kelakuan kita ya, sebenarnya kita sendiri. Apa kalau lihat berita pembunuhan di tivi bikin kamu jadi pengen bunuh orang juga? Apa kalau lihat berita penculikan di tivi bikin kamu jadi mau jadi penculik juga? Kebalikannya, normalnya kamu pasti prihatin.

Aku bukannya mau ngebelain karena i’m a part of those people yang menggemari k-pop, tapi ya, sekali lagi, semua, SEMUA, semua pasti ada sisi cantik dan tidaknya. Artis barat juga ga seratus persen bersih. Sama aja sama yang korean; drugs, plastic surgery, bullying, discrimination, sexual harassment, violence. Jadi kenapa cuma k-pop yang kena hujat? XD Jangankan artis barat, artis dalam negeri aja juga kan banyak yang buruknya. Nonton deh tivi, banyak contoh, banyak.

Intinya adalah pintar-pintar kita sebagai konsumen mau ambil sisi mana. Memang sisi gelapnya ga terelakkan, tapi itu sesuatu yang normal. Jangan karena gelap jadi bikin anggapan kalau sisi gelapnya itu ga ada dan jadi kayak mendewakan dan sengaja tutup mata dan telinga. Harusnya sisi gelap itu raise awareness within us, bukannya dragging us inside.

You are what you choose to be.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s