CERPEN

A Night To Be Remembered

Di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang di bawah langit malam tanpa bintang, mataku menangkap figur tubuh seseorang. Badannya tegap dengan sorot mata tepat menuju irisku. Tatapannya begitu mengena padaku dan entah mengapa membuatku ikut merasakan kesakitan dan kesedihannya. Tak sanggup lagi, aku pun mengalihkan pandanganku ke arah lain.

Tapi hatiku malah membuat wajahku kembali menuju lelaki itu. Dari matanya, ia seperti sedang berusaha menyampaikan sesuatu padaku. Sesuatu seperti…tolong bawa aku pergi dari sini? Ada apa sebenarnya? Lelaki itu mengapa?

Tiba-tiba kulihat sekumpulan pria bersetelan hitam lengkap dengan kaca hitam mencengkram lengan lelaki itu dan membawa paksa dia pergi. Sesuatu berbicara dan mengambil kendali atas akal sehatku, kakiku tanpa aku sadari telah bergerak menuju lelaki itu.

Bruk!

Aku merasakan tubuhku menabrak seseorang dengan kuat hingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh. Tapi niatku untuk menolong lelaki itu tak surut sedikitpun. Aku memaksakan diri bangkit dan mengejar sambil tertatih. Rasanya pedih, tapi lelaki itu pasti lebih perih lagi hatinya.

Seberapa keraspun usahaku menahan rasa sakit yang ditimbulkan luka karena jatuh tadi, tubuh dan sarafku tak bisa berbohong. Sakitnya berdenyut hingga ke pinggangku!

Lima meter lagi!

Sedikit lagi sampai!

Ayo tahan sedikit lagi, tinggal beberapa langkah!

“Hentikan!” Teriak pun keluar dari tenggorokanku. Biar saja orang terganggu, yang penting sekarang ini adalah lelaki itu baik-baik saja.

Para pria bersetelan hitam dan lelaki itu berbalik dan menatapku aneh.

“CUT!”

Apa? Cut? Apa ini?

“Hey, Nona, kami ini sedang pengambilan gambar untuk film blockbuster! Kenapa kau mempersulit sih?” Ujar seorang pria berkacamata dengan gulungan kertas di genggamannya, kuyakini pria inilah sutradaranya.

“Astaga! Maafkan aku, kukira mereka menculik lelaki itu. Sedari tadi kulihat lelaki itu menatapku dengan tatapan yang…sedih sekali. Astaga, maafkan kebodohanku. Aku minta maaf telah mengganggu kalian, maaf sekali. Aku menyesal. Semoga filmya sukses!” Usai bibirku mengeluarkan semua permintaan maaf, tubuhku membungkuk lalu kupasang wajah yang menyiratkan aku-sangat-sangat-sangat-menyesal.

Sang sutradara hanya menghela napas gusar dan mengangguk. Ia lalu mengibaskan tangannya seakan menyuruhku pergi menjauh. Aku lalu mengangguk paham dan berbalik pergi.

Belum jauh aku melangkah, terdengar seruan seseorang. Pergerakan tubuhku terhenti dan mataku menelisik sekitar mencari asal suara. Hm, lelaki itu! Eh, maksudku aktor tadi.

“Terima kasih untuk niat baikmu, Nona Manis! Nanti datang ke premier filmnya ya! Aku menunggumu!” Setelah berbicara, lelaki itu tersenyum manis dan mengedipkan matanya padaku. Detak jantungku seakan ditarik sesaat melihatnya.

Senyumnya manis!

Aku kemudian memiringkan kepalaku ke kiri dan mengangguk, lalu tersenyum membalas perlakuan lelaki itu.

Bibirnya bergerak mengucap sesuatu tanpa suara. Hm?

Se

-nyum

-mu

ma

-nis.

Kurasakan panas menjalari pipiku.

Kenapa malam ini tiba-tiba terasa hangat?

***

Nepatin janji! Ini fresh dari otak setengah jam yang lalu xD Agak awkward ya 😦 Udah lama ga nulis fiksi sih, jadi kaku gini. Sampe ketemu minggu depan! :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s