LIFE DIARIES / LIFE IS TOUGH / UNYU-UNYU STORY

Say It

“Ntar malem jadi?” Tanya pria berseragam SMA pada perempuan disampingnya yang juga berbaju putih dengan bawahan abu-abu. Perempuan itu mengangguk dengan mata berbinar mengiyakan. “Pastilah! Kan mau ditraktir, masa ga mau. Nyia-nyiain berkah!” Ujarnya dengan nada jenaka. Si pria hanya tersenyum kecil. Tangannya sempat terangkat ke udara dengan niatan mengacak rambut gadis manis disampingnya, tapi ia urungkan dan jatuhlah tangannya ke samping tubuhnya. Bagi Rafa, Kiran hanya menganggap dirinya teman biasa.
***

“Nitip, biar ga ribet,” ucap Rafa seraya menyerahkan dompetnya pada Kiran. Tangan Kiran menyambut dan menaruh dompet Rafa dalam tas selempang putihnya. “Jadi kita jalan dulu atau langsung makan?” Tanya Rafa. Kiran yang tadinya sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangan pada Rafa dengan sedikit mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang agak jauh. “Apa tadi?” Rafa sempat mengernyitkan dahinya, tapi kemudian senyum terbit di bibirnya. “Jalan dulu? Oke.” Jemarinya kemudian menggenggam jemari Kiran dengan kuat, takut terlepas. Setelahnya dengan santai ia berjalan dengan Kiran terheran mengekori langkah Rafa.

Mata Kiran menjelajahi pusat perbelanjaan dimana dirinya dan Rafa sedang berada. Netranya terpaku pada satu gerai soft ice cream favoritnya, langkahnya ikut terhenti. Genggaman tangan mereka membuat Rafa ikut berhenti saat Kiran berhenti. Tatapan Rafa menyelidik mata Kiran dan menemukan bahwa Kiran ingin ice cream saat itu juga. “Mau, Key?” Key -panggilan khusus Rafa bagi Kiran-, memberi Rafa tatapan memelas sambil mengangguk pelan. “Mau, Fa. Beli…” Rafa kembali tersenyum. Ia tarik Kiran mendekat dan membuat dirinya dan Kiran berdampingan, berjalan beriringan menuju gerai ice cream.

Bahkan setelah itu, jemari mereka tetap bertautan. Padahal mereka hanya sebatas teman.

***

“Dylan juga sih, salah, mestinya jangan ngebohong. Apalagi mereka udah sahabatan lama. Lagian siapa sih, yang dibohingin dan bahagia? Ga ada! Bingung deh, sama cara pikirnya Dylan.” Cerocos Feeya, teman sebangku Kiran. “Ih, tapikan Dira juga mestinya ga boleh semarah inilah. Mestinya dia bisa mikir positif, apalagi karena merela udah sahabatan dari lama, mestinya Dira ngertiin Dylan. Dylan tuh lagi nyari waktu yang tepat buat cerita ke Dira, tapi si Kino malah ngebocor. Semuanya tuh karena Kino!” Balas Kiran.

Tiba-tiba telinga Kiran terasa panas karena bisikan seorang pria. “Ngomongin siapa sih, sampe berapi-api gitu?” Ternyata Rafa. “Itu ih, masalah pasangan double d.” Rafa mengangguk mengerti dan duduk mengambil posisi di depan Kiran. Beberapa anak rambut tampak mengganggu pandangan Kiran, tapi karena terlalu asyik bercerita, ia biarkan begitu saja. Tapi tidak dengan Rafa. Tangannya terulur merapikan anak rambut Kiran dan menyelipkannya ke balik telinga kanan Kiran. Kiran yang tersadar akan perlakuan Rafa segera mengulas senyum manis sambil menatap Rafa sebentar.

“Woy, ada jomblo nih, disini! Jangan mamer dong, Mas, Mba!” Sindir Feeya jenaka. “Kita juga sama-sama jomblo kok, Mba.” Balas Kiran ringan. “Ck, kenapa engga jadian aja sih? Capek liatin kalian temenan doang.” Ucap Feeya dengan wajah penuh penghayatan. Kiran hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Feeya. Tapi tak begitu dengan Rafa. “Nah, itu dia! Mau jadian ngga, Key?” Tanya Rafa dengan wajah serius. Kiran yang sudah terbiasa dengan sikap Rafa yang suka bercanda -setidaknya itulah anggapan Kiran selama ini- hanya mengangguk pelan dengan wajah sok serius. “Gemes aku! Nikah aja gih, langsung.” Seru Feeya sambil menatap keduanya bergantian. “Yah, aku mah oke aja, tinggal nunggu Key mutusin perkara.” Ucap Rafa lagi. Kiran tertawa, sedang Feeya sudah teriak-teriak kesenangan.

Toh, mereka hanya sebatas teman. Bercanda dengan sesama teman itu normal kan?

***

“Kalian beneran ga ada niatan buat jadi official, Ran? Si Rafa oke tuh, keliatannya.” Ujar Feeya sambil tetap berjalan beriringan bersama Kiran. Sedang yang ditanya bukannya menjawab malah hanya tersenyum dengan pandangan lurus ke depan. Alis kanan Feeya naik pertanda tak mengerti. “Ran?” Satu helaan napas lolos dari Kiran dengan senyum yang tetap sama, “ga bisa, Fee, kita emang lebih pas temenan aja.” “Lah kok gitu sih? Kalian tuh super duper milyuper cocok!” “Yah, cocok juga kan ga berarti mesti bersama.”

Karena bagi Kiran, dimata Rafa, dirinya hanya sekedar teman biasa.

***

Ps. Satu-satunya yang mau aku coba sampein adalah…cuma action aja kadang ga cukup. Namanya cinta ya tetep harus diperkatakan. Be courageous, apalagi buat cowo-cowo. Ditolak? At least you’ve tried. Yang rugi ya si cewe karena udah nolak :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s