#TEAMBAPER, COTTON CANDY, FRIENDZONE, LAGI BIJAK, MOTIVASI(?), MY WAY, UNYU-UNYU STORY

#SpeakUp Campaign (?)

Abigail dengan langkah santai dan senyum merekah melangkah di tengah teriknya matahari sambil menggenggam uang kertas sejumlah seratus ribu di tangan kanannya. Tas selempang abu-abu berenda di sisi kiri tubuhnya ikut berayun seirama dengan langkah Abigail. Meski peluh menghiasi dahinya, tak sedikitpun rasa lelah ia rasakan. Senyumnya masih tetap sama sedari pertama kali ia keluar dari rumahnya dengan pikiran terisi penuh dengan ice cream, si dingin kesukaannya.

Tepat sesudah ia selesai mengerjakan PR yang diberikan guru Kimianya, ia segera mandi dan berkeliling penjuru kamar untuk mengumpulkan uang jajan yang sengaja disimpannya untuk jajan di akhir minggu. Saat tahu berapa total uang yang bisa ia pakai, hatinya begitu gembira dan tanpa tunggu lama langsung ia langkahkan kakinya menuju mini-market di dekat rumahnya.

Sampai di mini-market, ia langsung menuju kulkas besar berisi targetnya dan memilih beberapa untuk dibayar. Ia juga meraih sebotol air mineral untuk dibayar bersama para ice cream di kasir. Setelah menerima kembalian, ia lalu menuju kursi-kursi yang memang disediakan untuk pelanggan sekedar duduk-duduk dan mengobrol menikmati belanjaan mereka dari mini-market tersebut. Ia memilih kursi yang paling dekat dengan pendingin. Ice creamku tak akan cepat meleleh jika aku pilih tempat duduk ini, pikirnya.

Selang sepuluh menit, sudah empat bungkusan ice cream berserak di atas mejanya, air mineralnya juga sudah habis seperempat. Sesaat dia layangkan pandangannya ke sekitar, tak banyak yang bisa ia lihat. Hanya kendaraan yang lalu-lalang, beberapa penjual buah duku atau rambutan, dan beberapa anak SD yang sepertinya baru pulang dari sekolah.

Saat pintu kaca mini-market terbuka karena ada seorang bapak keluar, mengalirlah aroma roti yang baru keluar dari oven, perlahan memasukin indra penciuman Abigail. Gadis yang memang sejak kecilnya suka makan ini (terlebih ice cream dan roti manis) langsung beranjak dan pergi masuk. Ketika keluar, sudah ada dua buah roti hangat bertabur choco chips dalam satu kantong plastik putih berlogo mini-market tersebut.

Sesampainya di kursinya tadi, dengan tergesa ia buka bungkusnya dan mulai menggigit roti manisnya. Setiap diakhir kunyahan, muncul ekspresi puas dari wajah bulatnya seakan dia baru saja memakan roti mahal. Ketika satu roti telah habis, ia teringat akan ice creamnya yang masih ada beberapa. Ia lalu cepat-cepat memakan ice creamnya. Sampai tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki.

“Anak SMA mana yang makan ice cream sebanyak ini? Dasar bocah!” Dahi Abigail berkerut mendengar suara laki-laki ini. Sok sekali dia pakai ngatain segala, pikirnya. Abigail memutuskan untuk mengacuhkannya dan melanjutkan makan ice creamnya sambil meliha keluar kaca. “Sudah bocah, telinganya juga rusak rupanya.” Astaga, Abigail tak tahan lagi! “Hey, kamu itu apa-apaan, sih?” Abigail dengan wajah kesal mendongak untuk melihat siapa orang yang berani-berani mengejeknya seperti tadi.

Oh, ketua kelasnya, Vino. “Apa lihat-lihat, Bocah?” Tanya Vino. Abigail hanya menghela nafas, lalu meminum air mineralnya. “Baru gajian, Dek? Siapa yang mau pekerjain anak di bawah umur kayak kamu?” Ujar Vino dengan wajah meremehkan. Bukannya membalas, Abigail malah  dengan tenang mengeluarkan head phone abu-abunya dan mendengarkan lagu dari grup kesukaannya. Vino tentu saja kesal karena tak didengarkan. Dengan seenaknya Vino menarik kursi di depan Abigail dan duduk di depan Abigail. Ah, dan mengambil tanpa izin sebungkus ice cream, ice cream terfavoritnya!

“Kamu itu ga punya kerjaan lain selain gangguin hidup aku ya?” Tanya Abigail dengan nada meninggi disertai tatapan benci pada Vino. Bukannya takut, objek sasaran kemarahan Abigail malah bersiul tanda tak peduli. Ya ampun, habis sudah kesabarannya! “Mau kamu tuh apaan sih, Vino Agrio? Di kelas ngejekin aku, bikin aku kesandung, siapin jebakan super niat cuma biar aku ketumpahan tepung, numpahin air dan bikin mejaku banjir. Aku ga suka banget sama kamu, tahu! Lebih bagus kamu pergi deh, sekarang juga!” Sepanjang Abigail menumpahkan seluruh isi hatinya, Vino dengan manis duduk berpangku tangan sambil menjilati ice cream milik Abigail dengan senyum terukir.

Abigail yang sudah kelewat naik pitam segera berdiri dari duduknya dan meraih barang-barangnya lalu berjalan menjauh tanpa berniat menoleh ke belakang. Biarlah ice cream favoritnya dimakan Vino, anggap saja sedekah, pikirnya. Baru berjalan tepat tujuh langkah, Abigail tertahan di tempatnya karena ucapan Vino.

“Akhirnya aku ngelihat Abigail Erella marah! Setelah mencoba selama hampir tiga bulan dengan lebih dari sembilan puluh trik, ditambah pamorku yang turun karena tiba-tiba jadi anak iseng, akhirnya kamu marah. Gimana rasanya akhirnya bisa ngeluarin semua kemarahan kamu? Lega ngga? Kamu tahu ngga, mestinya itu yang kamu lakuin ke kakak-kakak kelas yang kerjaannya godain kamu melulu. Aku tahu, udah dari sejak SMP kan, kamu diganggu terus-terusan sama mereka? Keluarin, Bi, keluarin marah, kesel, ga suka kamu sama mereka! Mereka sama kayak kamu, manusia. Makanannya sama, minumnya sama, seragam juga sama. Jangan biarin mereka nginjek kamu kayak gitu terus. Don’t you feel stuffy inside there, Bi? Teriak sama mereka, bilang kalo kamu ga suka sama perlakuan mereka ke kamu. Be courageous, persis kayak apa yang barusan kamu bikin ke aku. Jangan mau jadi keset mereka, Abigail.”

Abigail tercekat. Ia tak menyangka bahwa alasan Vino akan semenyentuh itu. Dengan ragu ia putar badannya dan menatap luru ke manik Vino. Abigail bisa lihat ketulusan disana, Vino tak berbohong. Tapi baru lima detik, sinar jenaka Vino kembali.

“Kamu pasti tersentuh banget kan denger penjelasanku? Sebenarnya sih ya, Bi, alasan itu cuma berlaku buat sebulan dua minggu pertama. Setelahnya lama-lama aku malah keasikan ngisengin kamu, jadi yah, selanjutnya itu ada sedikit tambahan karena keinginanku sendiri, hehe. Aku jujur kan, jadi kamu ga boleh marah. Oh iya, makasih nih traktirannya. Senin ga bakal kugangguin deh. Tapi siap-siap buat Selasa. Kamu bakal jadi mochi paling manis yang pernah ada! Aku balik duluan ya. Bye, Bi!”

Setelahnya Vino berlari pergi sambil tertawa puas.

Sebuah senyum muncul di bibir Abigail. Ternyata Vino ga seburuk yang ia pikirkan selama ini.

‘Terus, tadi dia bilang apa? Selasa? Hm, maaf ya, Vino, tapi Selasa aku ga bakal masuk! Sebagai musuh yang profesional, kamu ga seharusnya beberin rencana kamu. Dan hari Rabu, aku bakal bikin kamu menyesal udah isengin aku terus. Lihat saja!’


Oke, jujur, sebenarnya ini agak melenceng dari plan awal xD Melenceng begitu jauh sekali. Tadinya ini itu mau aku ikutsertain ke satu event kompetisi nulis yang temanya Ice Cream. Yah tapi idenya ga muncul-muncul sampe barusan tiba-tiba kepikiran lanjutannya bakal gimana.

Judulnya juga agak sengklek, iya, tahu. Tapi really, you guys should know how suck i am at picking tittle xD Maafkan aku. Lagian yah, kupikir cocok kok *bela diri* Menurutku, penting buat menyuarakan isi hati kamu, penting banget. Nah tapi, cara dan timingnya mesti bener. Mari bergabung di #SpeakUp! *ga ada yang begituan sih sebenarnya, bikin-bikin aja. lagian ini niatnya bagus kok, jadi yah, yasudah*

Abigailnya dense (ga peka) banget kan yah? Padahal maksud Vino bilang begitu buat muji, eh, malah dikira yang lain… Emang susah kalo keseringan dibully terus tiba-tiba dibikin tersentuh begitu, agak ragu-ragu jadinya.

Menurut kalian?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s