#TEAMBAPER / CERPEN

Pointless

Nara adalah pekerja part-time di sebuah kafe sepulangnya dari kuliah pagi, sedang Edgar adalah pengunjung setia kafe tempat Nara bekerja. Biasanya yang melayani Edgar adalah teman Nara, tapi kali ini teman itu sakit, sehingga Naralah yang kali ini melayani Edgar. Nara yang memang mudah bergaul dengan natural mengajak Edgar ngobrol, sebut saja upaya untuk terlihat ramah. Syukurnya, mereka nyambung! Mereka ngobrol panjang lebar tentang banyak hal. Tapi gara-gara keasikan, Nara sampai lupa tanggung jawabnya. “Eh, kamu udah selesai shift? Ga apa-apa nih, kita ngobrol lama begini?”  tanya Edgar. “Astaga, sampe kelupaan! Ya udah deh, saya lanjut dulu. Kapan-kapan ngobrol lagi ya!” Nara menjawab dengan raut lucu, well, setidaknya bagi Edgar. “Tunggu, saya belum tahu…” Nara udah keburu jauh, “…nama kamu.”

Besoknya ternyata teman Nara masih belum sembuh, jadi Nara lagi yang gantikan. Dia kerja dari penyambut depan pintu, bersihin meja, bagian kasir, sampai jadi pengantar makanan. Hari itu Sabtu, jadi kafenya penuh, apalagi mulai dari pukul 6 sore, kafe tiba-tiba terasa sesak karena banyaknya manusia di dalam.

“Nara, meja dua belas belum diberesin.” Ujar manajer kafe. Nara yang tadinya sedang berusaha meluruskan kakinya langsung berdiri tegap dan terburu-buru menuju meja yang disebut manajer kafe. Karena tak melihat, ia bertabrakan dengan seseorang. Tebak siapa? Edgar. “Maafkan saya.” Edgar tersenyum dan menjawab, “it’s okay, saya yang salah karena jalan tanpa lihat-lihat.” Kepala Nara sontak terangkat. Dengan mata berbinar ia menyambut Edgar, “baru datang?” Edgar hanya tersenyum misterius dan berjalan santai meninggalkan Nara yang kebingungan tapi tak urung ikut tersenyum karena tingkah konyol pengunjung kafenya. “Oh, meja dua belas!”

Sekembalinya dari kamar mandi, Edgar berjalan menuju kasir dan memesan sepiring cheese cake dan kopi hitam dengan setengah blok gula. Entah apa isi pikiran Edgar sampai berani mengkombinasikan dua hal bertolak belakang begitu, tapi beginilah ia dan seleranya yang luar biasa aneh. Setelah menyerahkan sejumlah uang pada kasir, ia kembali dengan membawa nampan berisi pesanannya di tangan. “Butuh bantuan, Tuan?” Dalam sekejap nampan telah berpindah ke tangan Nara. “Well, i guess… Bawa ke meja nomor delapan belas.”

“Hm, di sudut dan depan kaca. Oh, so classic!” Nara berujar dengan nada agak mengejek. “Don’t diss me just because i’m classic and you’re not. So unfair.” Edgar langsung memasang wajah terluka. Setelahnya mereka tertawa bersama dan duduk. “Shift kamu selesai?” tanya Edgar penasaran, yang kemudian Nara balas dengan anggukan antusias. Muncul senyum kecil pada bibir Edgar, “good then. Berarti kita bisa ngobrol tanpa gangguan kali ini?” Lagi-lagi Nara mengangguk dengan senyum yang tak luntur dari wajah bulatnya.

Edgar mengangkat tangannya seraya memanggil salah seorang pelayan kafe. “Saya pesan cheese cake satu dan…” Edgar melirik Nara. “Oh, itu saja.” Pelayan tersebut kemudian tersenyum dan bersiap pergi mengambil pesanan Edgar. “Ini uangnya,” ujar Edgar, “saya udah tahu harganya.” Pelayan tersebut hanya tertawa dan mengambil uang yang disodorkan Edgar kemudian berlalu. “Show off, huh?” tanya Nara jahil. “Nope, just trying to impress you,” jawab Edgar sambil mengedipkan matanya pada Nara, yang dibalas dengan wajah ingin muntah dari Nara. Edgar hanya tertawa kecil.

Well, kamu ga perlu ganti pakaian? Atau udah terlalu nyaman sama seragam kerja kamu?” Tanya Edgar. “Hahaha, kalo nyaman, saya dan seragam ini sudah jadian sejak lama. Saya ke belakang sebentar untuk ganti pakaian, as you told me to do, dan ambil barang-barang saya. Jangan rindukan saya, okay?” Sambil tertawa Nara berjalan menuju ruangan yang di pintunya tertulis Staff Only. Edgar menatap punggung Nara yang berjalan menjauh dengan satu pernyataan muncul di kepalanya. Gadis itu cukup menyenangkan untuk ukuran orang asing. Setelahnya ia hidupkan laptopnya dan melanjutkan penulisan skripsinya. Tak lupa ia kenakan kaca mata minusnya.

Setelah sekitar lima belas menit berlalu, Nara kembali dengan pakaian yang terlihat lebih santai. “I’m back, Mr. Classic Wannabe. Did you misss me?” Edgar menoleh dan tersenyum kecil lalu melepas kaca matanya. “Have a guess!”  ujar Edgar dengan nada jenaka. “Hm… A little…? Hahaha. Ngetik apa?” Nara dengan antusias berusaha mengintip layar laptop Edgar. “Skripsi. I’m graduating soon.”  Edgar kembali mengenakan kaca matanya dan berusaha kembali memfokuskan diri merampungkan skripsinya. “Udah sampai mana?” Sambil bertanya, Nara menyuapkan cheese cake ke dalam mulutnya. “Setengah selesai,” jawab Edgar tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. “Sebelum kamu bertanya lagi dan mengganggu fokus saya menyelesaikan skripsi sialan ini, saya akan bilang duluan. Saya mahasiswa tahun terakhir jurusan Bisnis. Setelah selesai dengan kuliah, saya akan lanjut bekerja di perusahaan keluarga, dan mulai dari bawah. Sekarang biarkan saya selesaikan sebentar sampai jadi tiga per empat selesai, setelahnya kita mengoceh panjang tentang apapun yang terlintas.” Nara mengerjapkan matanya dan tersenyum lebar. “Aw, you’re so sensible! Okay, i will shut my mouth for a while so that you can finish the damn skripsi.”

Nara kemudian mengalihkan pandangannya ke luar kaca dan menatapi rintik hujan yang mulai deras. Ah, pantas saja agak dingin, pikirnya. Ia lalu melanjutkan suapan demi suapan cheese cake yang tertunda karena ucapan kereta api Edgar. Dua puluh menit ia dan Edgar bertahan dalam kebisingan kafe dan rintik hujan sampai sebuah pertanyaan melintas di kepala Nara. “Sorry for interupting your date with the skripsi, but we still don’t know each other’s name. Would you like to keep this way or you have another idea?”  tanya Nara sambil menopangkan dagunya dan menatap Edgar. “I will think about that later.” Nara mengangguk mengerti lalu mengambil sebotol air mineral dari tas cokelatnya dan meneguknya. Karena Edgar belum selesai juga dengan skripsinya, Nara lalu menyalakan ponselnya dan membuka akun media sosial yang ia punya.

Muncul banyak notifikasi telepon dan pesan dari seseorang bernama Rega, seorang anak manusia yang berstatus mantan. Nara hanya menghelas napas dan membuka pesan dari orang tersebut satu per satu. Kesimpulannya isi pesannya adalah pertanyaan tentang dirinya, seperti apakah ia sudah makan atau belum, dimana dia sekarang, kapan akan sampai di rumah, dan pertanyaan tak penting lainnya. Mengganggu saja, pikirnya.

What’s with that frown?” tanya Edgar sambil membereskan laptop dan peralatan lainnya. Nara menghempaskan tubuhnya ke sofa kafe lalu menatap malas ke luar kaca, “ga penting, ga usah dipikirinlah.” Kali ini Edgar yang mengerutkan dahinya pertanda bingung, “well, i don’t mind to hear  a thing or more from you. I’m a good keeper.” Satu-satunya balasan yang ia terima dari Nara adalah senyum tak ikhlas. Edgar akhirnya hanya menghela napas dan mengendikkan bahunya, as if he doesn’t care at all. Well, actually he’s kind of wondering who was that, but he doesn’t want to bother her, so he lets it slide.

Okay, so, kamu masih SMA atau bagaimana? You look young!” ujar Edgar dengan mata berbinar. “Baru saja masuk kuliah, Mr. Classic Wannabe. Oh, really? Is that a compliment or what? Well, i actually have heard that from a lot of people. Thank you.” Nara mengibas rambut hitam sepunggungnya seakan iya sedang membintangi sebuah iklah sampo. “ Sepertinya saya salah bilang yang tadi itu. Maaf, Nona, saya salah bicara.” ucap Edgar sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan wajah pura-pura menyesal. Nara hanya tersenyum geli melihat reaksi Edgar.

Edgar lalu menyesap kopi hitamnya yang tersisa seteguk lagi. Ia lalu menatap Nara intens. “You’re like the first person ever that i find amusing. Where do you come from?” tanya Edgar sambil tetap menatap manik cokelat kelam milik Nara. Nara tersenyum jenaka dan berbalik menatap Edgar intens, “well, i was born with it, bear  with me. I am that special.” Edgar tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari Nara, “dasar anak remaja tanggung.” Raut wajah Nara tiba-tiba berubah tak enak. “I am seventeen years old this year. I am actually officially adult now. I’m not a kid anymore.” Edgar terkejut saat mendengar nada bicara Nara yang berubah dingin.  Untuk sesaat hanya suara hujan yang terdengar dan hanya Nara yang tampak di netra Edgar, Nara yang berpaling dan raut mukanya yang berubah drastis. Sampai ponsel Nara kembali berdering. Butuh waktu lama untuk Nara agar mau menoleh dan mengangkat telepon itu.

“Hm.” gumam Nara tak berminat. Tatapannya terlihat datar saat mendengar pihak seberang berbicara. Sampai tiba-tiba mata Nara melebar dan muncul senyum lebar juga di wajahnya. Tanpa ada yang sadar, sebuah senyum kecil muncul di wajah Edgar. “Ya, ya, ya! Sebentar lagi Nara pulang! Tungguin Nara!” Eh, ada apa sih, pikir Edgar. “Hm, kalo gitu abang jemput Nara sekarang, iya, di kafe biasa. Ga mau tahu, maunya sekarang! Cepetan ya! Jangan lupa bawa payung dan pakai jaket yang tebal!” Setelahnya senyum Nara yang begitu menyilaukan kembali Edgar lihat. Tapi hal itu tak urung membuatnya bertanya-tanya, siapa penelpon itu? Kenapa gadis di depannya terlihat begitu bahagia? Oh, dan nama gadis ini ternyata Nara! Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang masuk ke tubuh Edgar yang membuatnya membuka mulutnya dan bertanya, “siapa?” Tepat setelah mendengar jawaban Nara, ia begitu menyesali kelancangan bibirnya.

“Pacar saya. Dia lebih tua setahun dari saya, makanya saya panggil dia abang. Yah, sebenarnya panggilan itu sudah dari sejak SD, hahaha. He said he likes it, so yeah, saya lanjut begitu. Barusan dia bilang dia ingin nraktir saya bakso di warung favorit kami. Dia juga bilang dia kangen, ingin bertemu saya. Well, kami sudah lama tak bertemu karena kesibukannya sekolah.” Masih sekolah, ucap Edgar berusaha menenangkan hati. Masih sekolah artinya pacar Nara tidak kuliah, berarti saingannya tak begitu berat. Eits, tunggu…sa…i…ngan? Astaga, apa-apaan ini, Edgar? “Sekolah?” tanya Edgar tanpa bisa ditahan. “Ya, sekolah masak. Dia ingin sekali menjadi chef ternama, makanya dia ambil sekolah masak. Masakannya enak sekali bukan main! Nanti kapan-kapan saya bawain masakannya untuk kamu. Well, if you don’t mind though.” I actually really mind, Miss Nara, geram Edgar dalam hatinya. Astaga, Edgar! Apa yang terjadi?

“What’s wrong? Suddenly so quiet. Ada apa?” tanya Nara bingung. Edgar menggeleng dan melanjutkan suapan cheese cake ke dalam mulutnya. “Hey, you’ve known my name! What’s yours?” kembali Nara bertanya pada Edgar. Edgar menatap Nara dengan sorot jenaka lalu berucap, “no, no, no, salahmu karena carelessly mention yours.”  Nara hanya memutar bola matanya dan beralih menatap ke luar. “Aneh. Kenapa cewe-cewe begitu sentimen terhadap hujan? They are just freaking water falling from the sky.” Nara tersenyum sebelum membalas, “it’s not about the water falling down. It’s about the memory, how rain remind us of someone special and meaningful. You boys will never understand unless you experience it yourself.” Edgar terdiam sejenak, sibuk dengan pikirannya sendiri. Kenangan tentang seseorang yang spesial ya… Do i have one?  Satu-satunya yang muncul di pikirannya hanya keluarganya. “Jangan mendalami sampe segitunyalah, entar saya yang malah ngerasa bersalah karena bikin kamu terdistraksi dengan omongan saya yang bikin baper itu, hahaha.” Edgar seperti kembali jiwanya dan langsung menatap Nara penasaran. “You don’t sound like a seventeen years old girl at all, really! Lebih ke yang umur lebih tuaan sedikit begitu. Serius baru tujuh belas?” Nara sontak tertawa mendengar penuturan Edgar. “Itu pujian. Makasih banget. Memangnya kamu umur berapa sih?” Dengan cepat Edgar menjawab, “dua puluh satu.” Nara cuma manggut-manggut saja dengar usia Edgar. “Lalu, kuliah Bisnis di mana?” tanya Nara lagi. “Di sini juga kok, deket dari kafe ini, makanya saya sering mampir. Lagian suasana sini enak buat sekedar nyantai.” Balasan Nara lagi-lagi sama.

Tiba-tiba wajah Nara condong maju ke depan dan mendekat ke wajah Edgar. Edgar yang memang biasanya agak lambat dalam bereaksi, hanya bisa diam dan menganga. “Jadi, nama kamu siapa sih?” Pikiran Edgar sedang tak bersama pertanyaan Nara, jadi dengan polos ia jawab, “Edgar.” Nara lalu berteriak kesenangan karena akhirnya ia sudah tahu siapa nama pria yang baru dikenalnya kemarin ini. “Tinggal sebut satu kata saja kok rasanya kayak sulit sekali sih, Mas,” ejek Nara. Edgar masih mematung hingga tiga detik setelah ucapan Nara. Seketika merah menjalar ke daun telinganya hingga ke leher. Edgar yang tersadar karena panas yang ia rasakan di telinga langsung pura-pura menghayati pemandangan di luar kaca. “Ih, lucu juga ya, kamu. Digodain begitu saja telinganya sampai merah begitu, hahaha. Butuh es engga? Biar saya ke pantry ambil es batu, hahaha.” Edgar tak bisa menahan senyumnya sama sekali.

Lalu ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba kembali meminta perhatian. Malangnya Edgar, ia kalah dari sebuah benda mati berlayar cahaya. “Udah nyampe? Iya? Abang di mananya? Oh, oke deh, Nara langsung ke sana. Pake jaket kan? Bagus deh, awas aja kalo engga, Nara mutilasi! Iya, iya. Ya udah, Nara tutup dulu ya, Bang.” Pandangan Nara lalu beralih ke Edgar sambil tangannya memasukkan ponsel ke dalam tas. “Maaf ya, Ed, saya balik duluan, udah dijemput soalnya. Hati-hati pulang ke rumah nanti, kayaknya hujannya bakal sampai besok deh. Sampai ketemu lagi ya!” Setelahnya lagi-lagi Edgar menyesali kebodohannya karena tidak meminta nomor Nara. Sudah berapa kali ia bertingkah bodoh hari ini?

Edgar yang tiba-tiba merasa gloomy langsung membereskan peralatan tulisnya dari meja nomor delapan belas. Dengan enggan ia tegakkan tubuhnya lalu ia kenakan hoodie abu-abunya, hadiah dari ibunya setahun lalu. Sambil menyeret kakinya tidak rela ia sampirkan tas selempang biru tua miliknya ke bahu lalu keluar dari kafe.

Entah kenapa, ia seolah kehilangan jiwanya setelah melihat Nara yang begitu bahagia karena sang, ehm, pacar. Ia ini kesal karena Nara yang jauh lebih muda telah lebih sukses punya gandengan atau karena Nara ternyata sudah tak available? Rumit!

Ketika tubuhnya sudah sampai di halte yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari kafe, Edgar baru sadar kalau selama ia berjalan, hujan sudah membuat seluruh tubuhnya basah. Segera ia cek tas punggungnya. Ah, untung sudah dicover tadi, jadi laptopku tak rusak, pikirnya lega. Lalu ia letakkan tasnya di pangkuannya sebagai penghalang dinginnya angin malam. Betapa menyesalnya ia karena lupa membawa payung lipatnya.

Keesokan harinya, Edgar kembali ke kafe. Well, untuk bersantai dan yah, melihat Nara. Tapi sayang, cewe yang bagian kasir bilang padanya kalau Nara tak masuk, katanya ada keperluan mendadak. Dengan tak bersemangat ia duduk di mejanya yang biasa dan mulai menyuapkan cheese cake ke dalam mulutnya. Begitu banyak pertanyaan tentang Nara mulai bermunculan di kepalanya. Kenapa gadis itu tak masuk? Ada keperluan apa sampai tak masuk? Apa gadis itu sedang tak sehat? Kemana gadis itu pergi? Apa gadis itu baik-baik saja?

Tadinya Edgar berniat sekalian menyelesaikan skripsinya sambil menatapi Nara, tapi karena objeknya tak ada, hilang sudah niatannya. Ia jadi merasa sia-sia telah datang dengan ekspektasi yang kelewat besar. Satu helaan napas meluncur dari mulutnya. Ia senderkan punggungnya ke kursi lalu menatap ke luar kaca. Ah.


… Saya jahat, saya tahu. Konfliknya ga jelas, endingnya lebih parah lagi. Ga bakal bilang ‘kemampuanku cuma segini,’ karena aku tahu sebenarnya aku mampu. Hanya saja, bagi manusia yang cinta easiness seperti Johana, mencari konflik dalam cerita itu sulit. Makanya kalo kamu pemerhati karyaku, aku seringkali ambil di tengah-tengah peristiwa, engga pake perkenalan blablablanya dulu. Tiba-tiba mau putuslah, tiba-tiba matilah, semuanya serba tiba-tiba.

Lewat cerita ini sih aku mau menunjukkan manusia modern yang kayaknya mudah banget jatuh cinta atau berkesimpulan dia jatuh cinta. Entah ini sulit dipercaya atau tidak, tapi menurutku, orang jaman sekarang terlalu menganggap mudah yang namanya CINTA. Dengan mudahnya pacaran, lalu ngajak putus karena udah bosan atau merasa gak cocok lagi, lalu cari pacar yang baru dan siklusnya begitu terus. Muter-muter aja mulu sampe anjing bisa nyanyi lagu SNSD-_-

Ah, atau mungkin memang aku doang yang terlalu menganggap CINTA serius…

Anyway, semangat buat dedek-dedek SMP yang mau United Nation (UN)!! Semoga diberkahi, bisa jawab soal-soalnya semua, bisa dapet nilai yang terbaik, bisa dapet pacar *loh* Hahaha, yang terakhirnya tunggu udah kuliah aja ya, dedek sekalian.

Will see you guys real soon!

Advertisements

5 thoughts on “Pointless

  1. Hai hanaa :3 tbh this is my first time reading your story lol biasany kalo ngepost terus isiny cerita ga minat (kalo curhat ato yg lain suka) tapi gatau kenapa yg ini pen baca. Anyway, ceritanya menarik tapi ntah kenapa cliché(?) ketemu-ngobrol-nyambung-suka tapi baru sadar kalo hampir smua cerita fiksi begitu ._. Btw ga cuma kamu yg anggep cinta terlalu serius kok lol suka bingung ga sih sama orang yang bisa dg gampang blg cinta terus ga lama putus terus moveon? cinta kaya game aja gitu. Suka iri ga sih liet orang enak banget gampang moveon? 😂

    • Ciye akhirnya baca xD Makasih ya, udah nemenin di #teamserius (?) Kalo dibilang iri sih yah…sedikit lah, sedikit. Lebih kesel lagi kalo liat orang yang baru putus sehari dua hari, terus tiba-tiba muncul kabar dia udah jadian sama anak lain… Kayak, “astaga, jadi selama ini pacaran ngapain sih? mudah banget macarin yang lain lagi.” Terus yah agak lucu-miris aja kalo liat orang yang barunya itu, kok mau-maunya dipacarin… Entahlah, kata mereka cinta itu buta. Mungkin karena mencintai pake mata kaki kali ya, makanya ga keliatan. Ketutup kaos kaki mulu sih.

      • Hidup #teamserius!
        Kalo aku iri berat lol suka bingung kok bisa ya cepet banget moveon nya(?) kenapa kalo aku moveon lama banget #ehjadicurhat 😂 iyaiyaaa! Suka kesel kan kalo misalnya cowo-cowo pada bilang nyesel kalo abis putus sama cewek ._. I mean “kok jahat banget sih?” -_- itu perempuan yang dulu kamu cinta abisabisan yang pernah bikin kamu bahagia sebahagia-bahagianya dan skrg putus blgnya nyesel. I can’t imagine gimana kalo aku yang di gituin ._. Nyesek deh … Tapi kalo dipikir-pikir lagi, semua orang pasti punya alasannya sendiri. Mungkin ada penyebabny gampang moveon ._. Ato emang dulu cintanya udah di set timer kali kalo putus expired. Eh btw emg katanya kalo lagi cinta kita itu literally buta soalnya otak kita semacem nutupin jelek-jeleknya si doii #pernahbacadimanalupa

      • Kalo aku sih dikasih tahu, yang namanya beneran cinta (maksudnya yang mature gitu) itu ga ada yang buta. Katanya yang namanya cinta itu mesti berlogika dan dipikir matang-matang. Paling ada juga bukan buta, tapi nerima dan nikmati kelebihan kekurangan pasangan. *hasil dengerin ceramah di gereja tiap minggu xD* Ah, tapi namanya cinta emang misteri. Manusia mah tahunya dangkal doang, cuma epidermisnya doang *anak ipa* Ngomong-ngomong, itu nyeselnya maksudnya nyesel karena udah dipacarin atau diputusin? gagal paham aku._.

      • Iya. Emang sebenernya cinta harus pake otak kan yah ._. Mungkin buta yang disini itu dimana otak bisa nerima kekurangan orang lain gitu(?) biasanya kan manusia itu sukanya lebihnya aja kalo temenan, kalo cinta (in every way) mungkin kekurangannya ketutup gitu. calon dokter emang harus anak ipa banget 😂. Nyesel karena macarin hana ._. Makanya suka kesel soalnya jahat banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s