#TEAMBAPER

Jadi Dokter

Disinilah aku. Terduduk lemas di salah satu kursi di rumah sakit. Kepala menunduk, lutut bergetar, air mata yang terus menetes. Sekuat mungkin kutekan suara isakanku agar tak mengganggu orang lain. Tapi bukannya tak bersuara, isakanku malah semakin kentara terdengar. Aku yakin sekali tanpa perlu menoleh pun pasti banyak orang sedang menatapiku saat ini. Ah, tapi siapa peduli dengan apa isi pikiran mereka saat ini. Mereka hanyalah orang luar yang tak tahu apa-apa.

Di sana, di dalam ruang operasi yang jaraknya dua meter dari kursi ini, baru saja jiwa seseorang berpulang. Bukan saudaraku, keluargaku, ataupun temanku. Beliau itu pasienku, seorang aparat. Akulah dokter yang barusan mengoperasinya. Lalu kenapa aku menangis? Karena aku gagal dalam tugasku, aku dan timku tak berhasil menyelamatkan pasien kami. Padahal… Padahal keluarga pasien telah mengamanatkan keselamatan keluarga mereka pada kami. Tapi kami gagal.

Uh, seharusnya aku tak menangis. Apalagi ruang operasi adalah rumah keduaku, dan aku ini seorang dokter. Seharusnya aku tak mencampurkan perasaan ke dalam pekerjaan. Tapi rasanya kecewa dan sakit sekali saat rekanku bilang bahwa detak jantungnya telah berhenti. Ah, tangisku malah semakin kentara!

Aku, sebenarnya aku teringat pada seseorang yang pernah kukenal. Damian, mantan pacarku. Dia seorang tentara. Pekerjaannya begitu mulia bukan? Akupun bangga. Kami cukup menghabiskan banyak waktu untuk saling mengenal…sampai akhirnya Damian dan aku berubah status menjadi berpacaran. Sesibuk apapun kami, kami tetap saling bertukar pesan atau bertelepon kalau waktu sedang luang.

Tepat sebulan kami berpacaran, Damian izin padaku, dia bilang kompinya ditugaskan untuk pergi ke salah satu daerah di Timur Tengah -daerah yang sedang konflik. Saat itu aku sempat menghindarinya karena tak rela jika ia pergi. Butuh waktu tiga hari bagi Demian membuatku mempercayainya dan melepasnya pergi. Jangan tanyakan, aku tentu menangis berhari-hari setelah ia pergi. Entahlah, aku hanya belum siap…untuk semuanya. Aku… Sejujurnya aku takut, aku takut saat ia pulang ia tidak lagi bisa menghabiskan waktu denganku. Uh, air mataku.

Tiga minggu kemudian, Damian pulang. Aku begitu bahagia waktu itu, aku ingat sekali! Walaupun ada luka gores di dahinya, ia baik-baik saja. Kami lalu berkencan, pergi nonton dan makan malam berdua. Semakin hari masuk malam, perasaanku semakin…berbeda. Rasanya sesak entah kenapa. Padahal Damian bersamaku dan baik-baik saja.

Baru saja makanan pesanan kami diantar pelayan, ponsel Damian berdering. Wajah Damian saat itu terlihat kurang suka dengan telepon itu, tapi tak urung tetap ia angkat. Aku terdistraksi dari makananku, jadi aku hanya menatap Damian menunggu penjelasannya. Semakin larut dalam percakapan di ponselnya, semakin kulihat rasa bersalah di wajah Damian. Beberapa kali ia sempat menoleh ke arahku dengan sorot mata maaf, entah apa yang perlu dimaafkan aku pun tak tahu. Setelah semenit, sambungan telepon Damian putus. Sesaat kami hanya bertatapan tanpa kata. Lalu Damian bilang kalau baru saja ia ditugaskan mengamankan demo.

Tepat saat itu rasa sesak tadi mencapai klimaksnya. Air mataku jatuh tanpa kusadari. Saat Damian bertanya, aku pun tak tahu kenapa. Ia lalu menghujaniku dengan kata-kata untuk menenangkanku. Aku mencoba mengerti dan bilang padanya kalau aku tak apa-apa. Kubilang padanya untuk pergi lakukan tugasnya. Damian lalu berdiri dan mengajakku pulang.

Seminggu kemudian Damian kembali, tapi tidak dalam keadaan baik. Ia dibawa ke rumah sakit tempatku bekerja dengan luka sayat yang dalam di lengan kanannya dan daerah leher. Wajahnya penuh darah dan goresan. Damian muncul dengan keadaan yang menyakitkan untuk kulihat. Padahal aku mengira pertemuan kembali kami akan diiringi senyum. Kenyataan memang selalu jahat.

Tak perlu tanyakan padaku apa yang terjadi selanjutnya. Aku dan timku menghabiskan empat jam di ruang operasi untuk menyelamatkan Damian. Saat diteliti lebih lagi, ternyata ada satu luka tembakan di tubuhnya, di bagian kaki. Silahkan bayangkan sendiri bagaimana rasanya melihat pacarmu kembali dengan kondisi tak sadarkan diri dan tubuh penuh luka. Sakit.

Duh, tangisku sudah tak bisa dikontrol lagi! Sebaiknya aku pergi ke kafetaria saja. Jam segini pasti kafetaria sepi. Dengan langkah terseok aku berusaha berjalan dengan baik ke kafetaria di lantai dasar. Tiba-tiba kurasakan tubuhku benar-benar sudah lemah dan tak sanggup menopang diriku sendiri. Tubuhku lalu terasa luruh ke lantai. Kukira rasanya sakit, tapi ternyata tidak.

“Jangan suka melamun kalo lagi jalan, Sayang. Nanti kalo kamu ada apa-apa, siapa coba yang repot? Mau kemana, sih? Kafetaria bawah ya? Bareng saya, yuk.” Suara seorang pria, suaranya familiar.

Karena pikiranku yang sudah entah kemana, aku menurut saja saat pria ini memapahku menuju kafetaria dengan selamat. Saat jiwaku kembali, aku sudah terduduk dengan sepiring nasi dan lauknya tepat di depanku. Lalu muncul tangan yang menyodorkan air mineral padaku, “minum nih, biar konsentrasinya balik.” Aku hanya tersenyum mendengar penuturan pria ini. Sepertinya dia banyak nonton iklan. “Heh, kamu mikir yang jorok-jorok ya, senyum-senyum sendiri begitu?” Tanya pria di depanku. “Jorok-jorok? Sampah?” Ujarku mencoba ikut melucu. Kuangkat wajahku menatap pria yang sudah cukup menghiburku ini.

Damian. Ah, mataku terasa berembun lagi!

“Hey, gimana operasinya? Lancar?” Dia ini memang paling bisa mengalihkan pembicaraan. “Gagal. Aku gagal, Yan. Aku gagal jadi dokter yang baik. Aku gagal memenuhi tugasku. Aku…” Damian langsung memelukku erat dan mengelus rambutku, “engga, Kania, kamu hebat banget hari ini. You’ve worked hard dan ngasih yang terbaik yang kamu bisa. Mati hidupnya manusia itu di tangan Tuhan, kamu masih inget kan? It’s okay, memang ini sudah saatnya pasien tadi kembali.” Ah, Damian, kenapa kamu selalu bisa menenangkanku sih?

Tiba-tiba terdengar suara seorang ibu berbicara sambil terisak pelan. “Dokter, terima kasih sudah berusaha dengan keras. Maafkan saya merepotkan dokter dengan meminta dokter menangani suami saya. Terima kasih, Dok.” Aku langsung mengalihkan pandanganku ke ibu-ibu itu. Kemudain entah dorongan dari mana, aku tegak dan memeluk ibu ini. “Ibu, maaf saya gagal.” Ah, sesaknya kembali! Kurasakan si ibu menggeleng dan terus-menerus mengucapkan terima kasih padaku. Ibu ini tegar sekali, aku agak tersentil.

Setelah lima menit, ibu itu pamit sambil terus bilang terima kasih dan menyemangatiku. Beliau bilang aku terlihat sangat keren saat operasi tadi. Ih, si ibu mah, padahal ngeliat juga cuma pas aku masuk doang. Makasih ya, Bu. Semangat!

“Kamu kalah sama ibu-ibu tadi,” ucap Damian dengan nada jahil. Biarin! Aku cuma memeletkan lidahku dan mulai menyuapkan makanan ke mulutku. Ah, aku baru ingat kalau sejak kemarin sore aku belum makan apa-apa. Dan sekarang sudah masuk hari baru.

“Nia, kamu ga berniat ambil cuti ya? Istirahat yuk, seminggu aja. Udah sebulan kamu sibuk di ruang operasi terus,” ucap Damian. “Kamu…kangen ya? Ciyee, kirain rasa kangennya udah terkubur,” balasku. “Yah, ga cuma itu sih. Badan kamu itu udah cape banget tahu. Pipi kamu makin tirus, lingkar matanya juga udah ngalahin panda. Kalo badan kamu bisa bicara, dia udah teriak-teriak minta liburan.” Ini anak apaan sih, tumben bicara begitu. “Lagian kan…kita belum bulan madu. Padahal nikah udah dari tahun lalu. Saya kan, pengen punya Kania kecil,” ucap Damian dengan suara yang menipis dan telinga memerah. Hahaha, dasar!

“Iya, iya. Besok aku ajuin dulu ke rumah sakit. Tiga hari ya?” Kataku sambil melihat ke arahnya jenaka. Muncul kerutan di wajahnya tanda ia tak setuju. “Sebulan!” Astaga, dikiranya pekerjaanku ini apa sampai minta cuti selama itu. Bisa-bisa aku malah ditendang karena mangkir. “Lima hari!” Seruku. Damian terlihat berpikir keras. Tinggal bilang iya apa susahnya sih? “Yaudah.” Begitu dong. “Dua minggu kan? Oke lah.” Ucap Damian tenang. Ia lalu berdiri dari kursinya dan pergi mengambil makanan.

Dua minggu ya? Baiklah.

Eh, dua minggu? Bukannya tadi aku jelas-jelas bilang lima hari? Damian ih!


Ini cerita sebenernya agak terinspirasi dari Descendants of the Sun xD *penulis yang jujur* Tapi plotnya beda, cuma mirip castnya aja. Sama aku pernah baca satu novel, dibilang kalo dokter itu ga boleh nyatuin perasaan sama pekerjaan mereka. Jadi yah, yang ini contoh jahatnya, hahaha.

Aku masih punya satu draft lagi sih, tapi ya belum complete. Mungkin Senin atau Selasa selesai..? Aku pertimbangkan dulu ya :3

Advertisements

2 thoughts on “Jadi Dokter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s