MY WAY

Pendidikan di Mataku

Getting high scores for linguistic subjects are hard, well, at least for me. Linguistic subjects itu bukan sesuatu yang pasti kayak matematika, yang satu soal will lead to only limited answer(s) dan emang bisa dibuktikan lewat rumus, jadi universal, semuanya bisa. Dalam linguistic subjects, satu soal bisa punya banyak jawaban. Why? Karena bahasa itu menurutku, adalah hasil pemikiran seseorang, yang mana kalau berupa jawaban, jelas bakal bervariasi karena pemikiran setiap orang itu berbeda.

Tapi ini konteks yang kalo soalnya minta gagasan utama, atau watak, atau yang lainnya yang bukan jawaban satu atau dua kata, misalnya ditanya apa jenis teksnya, apa istilahnya. Soalnya kan jawaban udah jelas karena (seharusnya) sudah dipelajari sebelumnya.

Cerita, aku paling bego dalam masalah pilihan ganda Bahasa Indonesia (Bahasa Inggris engga se-complicated yang Indonesia, karena mostly yang penting ngerti arti). Engga bohongan ini, ciyusan. Buatku, diberikannya soal Bahasa Indonesia bentuk pilihan ganda itu menutup kemungkinan siswa buat berkreatifitas, justru malah bikin siswa sejenis memforsir their thoughts untuk menyesuaikan pilihan yang diberi, kayak kunci persegi yang dihadapin sama lubang lingkaran, maksa. Aku sering ngalamin hal kayak gitu. Parahnya lagi, kadang pemikiranku suka terlalu beda dengan orang lain. Duh, lengkap sudah.

Sadar sesuatu? Kesulitan yang dihadapi dari masalah diatas, sama dengan kondisi pendidikan jaman sekarang di negeri kita (i wrote this back in 2015). Tahu kenapa banyak yang suka fail (iyasih, banyak juga kok yang succeed tapi yah, jawab ajalah)?

Kalo kalian anak gabing (gahol bingitz, lol) kalian seengganya pasti pernah lihat sekali, ada satu gambar ilustrasi, dimana lagi diadakan ujian sekolah yang siswanya itu hewan yang beda-beda. Ada monyet, ada gajah, ada ikan, dan lain-lain. Tapi ujiannya itu ujian manjat pohon! Monyet sih oke aja, lah kan udah makanan sehari-hari. Tapi gajah? Ikan? Mereka mesti gimana biar bisa manjat? Wong mereka berasal dari dunia berbeda. (Isyana S- Tetap Dalam Jiwa)

Engga merendahkan atau menghina -karena aku juga terlibat, menurutku, pendidikan sekarang ini agak kurang efektif dan buang-buang waktu. Kenapa mesti ngabisin bertahun-tahun buat mendalami pelajaran yang belum tentu terus dipakai saat masuk dunia perkuliahan atau dunia kerja nantinya? Kenapa engga langsung dari awal, anak emang dijejalin sama pelajaran yang memang dia mau, yang dia enjoy? Atau misal, kalau emang pengen jadi dokter, emang bener-bener diajarkan pelajaran yang emang bisa diimplementasi dalam dunia kerja nanti.

Tapi kalo pilihan terakhir, susah juga. Karena anak di Indonesia pas kecil kalo ditanya cita-citanya, (hampir) semua jawab pengen jadi dokter. Pada belum gede aja sih, gangerti susahnya jadi dokter, butuh dedikasi superior!

Bukannya mau mematahkan semangat adik-adik, tapi baru masuk jurusan IPA aja, aku udah ngos-ngosan ._. Syukurnya, aku udah bener-bener motivasi diri buat emang pengen nge-dokter dari hati, jadi tiap rasanya lelah banget, inget lagi tugas mulia yang bakal aku lakukan nanti, gimana rasanya nanti kalo liat pasien bisa balik kerumah dengan beban yang terkurangi :))

Tapi mau gimana lagi, emang udah diatur begitu. Orang dewasa juga pasti ambil keputusan setelah dipikir matang-matang.

Tulisan lainnya yang aku diskualifikasi dari draft buku. Topiknya berat lagi. Maaf.

Tapi, apakah kalian berpikiran yang sama? Atau yang lain?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s