FLASH FICTION

Flash Fiction: Perjalanan

Pria berkulit sawo matang itu hanya bisa tersenyum seraya mengelus perlahan rambut gadis yang sedang terbaring membelakanginya itu. Ia sadar, ini semua akibat kesalahannya sehingga gadis kesayangannya ini jatuh sakit. Ia juga merasa bertanggung jawab atas setiap tetesan air mata yang turun dari mata bening gadisnya.

Sekilas ia menoleh dan memperhatikan jam di nakas samping tempat tidur, tertera 16.37 disana. Sudah sore, sedang gadisnya belum makan sama sekali dari semalam. Ia jelas khawatir.

“Aku emang kekanak-kanakan. Aku yang salah. Aku rasa…lebih baik kita putus.”

Begitu ucapan terakhir gadis kesayangannya kemarin lewat telepon. Setelahnya pria itu linglung, rasanya seperti seluruh oksigen disekitarnya direbut paksa. Putus, begitu ingin gadisnya. Empat puluh lima menit kemudian tahu-tahu ia sudah terduduk dalam bus tujuan Semarang.

“Loh, kamu ngapain disini? Kapan bakal perginya? Kamu ganggu waktu tidurku.”

Dipta hanya tersenyum maklum, ia sudah mengerti bagaimana perangai gadisnya.

“Aku ga mau liat kamu lagi. Pergi aja sana, cari cewe lain yang dewasa. Aku ga peduli.”

Dipta dengan pelan menarik gadisnya ke dalam sebuah pelukan manis, bonus kecupan di puncak kepala Naya. Naya hanya membeku, tidak membalas tapi tidak menolak.

“Sayang, maaf ya. Aku tahu aku salah, maafin aku. Aku harus gimana biar kamu bisa maafin aku?”

Air mata Naya akhirnya jatuh.

“Jangan, ga usah lakuin apa-apa. Kita lebih baik jalan sendiri-sendiri dulu aja.”

“Kamu belum makan daritadi, mau makan apa?”

“Lebih baik kamu pergi, Dipta.”

“Kamu mau sup ayam? Yuk, ke bawah. Mama udah masakin tadi buat kamu. Mau aku gendong sekalian ngga?”

“Dipta!”

“Yuk, turun yuk. Mau aku gendong sekalian?”

Naya mendorong Dipta kasar, kemudian menatap Dipta dari atas tempat tidurnya.

“Sayang, putus bukan solusi terbaik.”

“Buat aku itu yang terbaik. Tolong hargai ke-“

“Naya, tolong pikirkan baik-baik. Aku ngerti, cinta aja engga bakal cukup buat kita, kita butuh banyak hal lainnya. Tapi perjalanan kita masih panjang, Sayang. Aku yakin seiring waktu, kita bisa lewatin semuanya bareng-bareng. Jangan pernah berhenti jatuh cinta, Sayang.

“Tapi kita engga cocok!”

Tuhan ciptain perbedaan biar dunia lebih berwarna, Sayang.

Naya tersentak dan membeku.

“Ayo turun, makan dulu. Nanti kamu sakit.”

***

Selamat hari Minggu! Ini flash fic udah teriak-teriak minta diselesaiin dari dua minggu lalu, tapi plotnya mampet. Iya, aku parah. Iya, aku tega, bikin ending gantung. Tapi kan katanya yang namanya cerita cinta itu engga ada endingnya. *tsah!* Eh, gimana tampilan barunya? Aku sih, puas, soalnya ada slidernya gitu. Posts yang masuk di slider berarti tulisan favoritku 🙂 Buat yang bingung nyari kolom Newest Posts, sekarang tiga terawal itu newest updates yaa! Kemarin cerita-cerita sama Wilsen Zen, dia bilang bingung mau baca yang mana (pas formatnya masih belum ganti). Ceng, ga bingung lagi kan sekarang? Jan lupa follow! xD *maksa*

Pembaca terkasih *eakk* aku mikir buat bikin kotak saran di blog. Nanti kalian bisa minta a, b, c disana (asal jangan minta pacar, aku juga mau kalo itu xD), request begini begono, kasih tahu yang kurang atau kalo aku typo(s), boleh boleh semua boleh!

Semangat buat Senin-nya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s