FLASH FICTION

Flash Fiction: Meus Carus Frater

Kamu adalah sebagian dari jiwaku.

Lagi-lagi aku terjatuh. Kali ini jatuhnya sangat tidak anggun, terpelanting di aspal depan rumahku. Coba tebak berapa luka yang kudapat? Banyak! Di siku, di lutut, telapak tangan, semuanya penuh dengan goresan. Sakit sih, tapi hatiku malah sedang berbahagia.

Dia kini berlutut di depanku, dengan hati-hati mencoba mengobati luka di sepanjang lutut ke bawah kakiku. Yah, walau pun dapat tambahan omelan, aku paham kok, sebenarnya dia itu khawatir setengah mampus padaku. Butuh bukti? Sini aku beri.

Aku terjatuh di tengah malam, iya, tengah malam. Silahkan sebut aku konyol, tak masalah, aku sendiri mengakui kok.

Tadi itu, aku baru pulang dari pesta ulang tahun di rumah teman. Sebenarnya acaranya sudah selesai tepat pukul setengah sebelas. Tapi karena yang berulang tahun adalah sahabatku tercinta, dan besok -well, technically hari ini- libur, aku pulang agak lebih lama. Sesaat setelah membuka pagar depan, aku tersandung batu yang berdiam diri tepat di depan kakiku. Mata kakiku tak bisa melihat apa-apa, makanya jatuh deh.

“Besok-besok jangan cuma luka, pendarahan aja sekalian. Jadi cewe kok kerjaannya bikin ribet terus sih?”

Engga, engga apa-apa, aku udah biasa dengan kata-katanya yang tajam itu. Udah kebal! Dia emang biasa gitu, susah mengekspresikan diri dengan kata-kata. Aku tahu kok, maksudnya itu ‘jangan lasak terus, nanti cepet mati’ jadi lebih baik kudiamkan saja.

Setelah berkutat dengan peralatan P3K, dia duduk di sampingku. Dia sempat meregangkan badannya lalu menghela nafas dan memandangku sendu.

“Bisa ke kamar sendiri ngga nih? Gue mau tidur disini aja, biar gampang kalo lo butuh sesuatu buat diambilin di dapur. Atau mau tidur di sofa ini aja? Biar gue ambil bantal gulingnya.”

Tuhkan, apa kubilang, dia itu cuma sok cuek, padahal sebenarnya peduli luar biasa. Tanpa kusadari, senyum kecil tercipta di bibirku.

“Malah senyum. Udahlah, tidur disini aja. Gue ambil bantal dulu. Jangan kemana-mana!”

Balik-balik, tangannya udah penuh dengan bantal, guling, selimut dan bonekaku. Dia merangkulku dan memapahku pindahke sofa yang lebih kecil. Terus dia atur bantal guling semuanya. Baru dia papah aku balik ke sofa lebar tadi.

“Loh, terus kamu tidur dimana, Bi?”

“Di samping bawah lo lah.”

“Heh? Duduk dong?”

“Iya, ga masalah kok. Udah, tidur gih.”

“Ih, masa tidur di bawah begitu. Aku ambil sleeping bag di kamar ya.”

“Berani bangkit gue cium. Biar gue sendiri yang ambil.”

Ah, keburu pergi. Padahalkan barusan aku mau berdiri, hihi.

Ga lama dia balik lagi dengan sleeping bag di pelukannya. Pelan-pelan dia geser meja di depan sofa yang ku duduki, lalu menggelar sleeping bag tepat di samping sofa lebar ini. Setelahnya dia berbaring dan menyerahkan ponselnya padaku.

Aku sebenarnya pengen sih, mainin ponselnya. Tapi kurasa memandangi wajahnya saat tertidur lebih menyenangkan.

“Biyan.”

“Hm.”

“Biyan, Biyan, Biyan.”

“Hm.”

Dia keliatan lelah banget. Bolak-balik Jakarta-Bandung pasti bikin dia cape banget. Ga nurut sama aku sih, dibilangin kuliah disini aja, eh, tetep ngotot ke Jakarta. Sok-sokan!

“Apa sih, Dek? Kenapa manggil-manggil?”

Eh, iya ya, tadi aku manggil dia.

“Illa kangen sama Kakak.”

“Terus, mau minta dipeluk, gitu?”

“Hehe, tahu aja. Habis Kakak kan udah dua minggu absen engga pulang dan ga ngabarin apa-apa ke Illa. Giliran udah pulang malah ga meluk. Kakak udah nemu adik baru ya disana, yang lebih baik dari Illa? Illa ngambek!”

Aku langsung membalikkan badanku ke sandaran punggung sofa. Nyebelin! Masa adik sendiri dilupain sih? Teganya.

Grepp!

Kak Biyan baru saja memelukku.

Rasanya hangat!

“Iya, iya, maafin Kakak. Kemarin itu ada tugas mendadak dari dosen buat ngelakuin percobaan. Kakak udah usaha biar di cancel atau seengganya di tunda, tapi ternyata ga bisa. Maaf ya, Adiknya Biyan Ganteng.”

Aku langsung berbalik membalas pelukannya.

“Makanya, Kakak kuliah disini aja ih.”

“Illa Sayang, udah nanggung begini masa mau pindah? Tiga semester lagi, Dek.”

“Tiga semester itu lama, tahu!”

“Jangan dihitungin makanya. Nanti Kakak cari kerjanya disini kok. Kamu makanya belajar yang bener, biar cepet dewasa, jadi bisa mandiri. Mau sampai kapan nempelin Kakak terus?”

“Iya sih. Ah, pokoknya selama Illa masih jomblo, Illa berhak buat nempelin Kakak! Kakak ga boleh protes pokoknya!”

Kak Biyan yang sedang duduk didepanku hanya tersenyum mendengar penuturanku.

“Iya deh, terserah Illa-nya Kakak deh. Sekarang tidur gih, udah jam satu.”

“Kakak juga tidur, muka Kakak keliatan tua banget!”

“Ngejek nih? Minggu depan ga balik lagi tahu rasa situ.”

“Ih, Kakak! Awas kalo engga balik!”

“Hahaha.”

Setelahnya kami sama-sama kembali berbaring. Mataku sudah mulai berat. Tapi tiba-tiba sesuatu melintas di kepalaku.

“Kak, besok kita spa bareng ya, biar Kakak balik jadi ganteng lagi. Kakak sekarang udah kayak Master Shifu, minus kumis putihnya aja.”

“Iya, Po.”

“Kakak! Aku engga gendut tahu!”

Kamu adalah lelaki kesayangan kedua di dunia ini setelah Papa. Kamu adalah kakakku. Aku bahagia bisa punya kamu sebagai my other half.

***

Ini putar haluan jauh banget, seriusan. Habis feeling buat ide awal tiba-tiba hilang. Oh, judulnya itu Bahasa Latin, artinya my dear brother 🙂 Sebenarnya tadinya mau dibikin kayak pacaran gitu, tapi kan ini malming, kasian jomblo, jadi yah dibikin jadi kakaknya aja. :3 Ini ditulis dalam kurun waktu tepat 45 menit! Oh, satu lagi. Selamat malming, Jomblo Sekalian!♥

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s