CERPEN, FLASH FICTION, MY WAY

Flash Fiction: “Kika.”

Kika berjalan sendiri dalam gelapnya malam. Hanya terdengar suara burung bercicit dan suara binatang malam lainnya. Bulan tak menampakan diri. Bintang pun seperti sama enggan untuk muncul.

“Kika.”

Kika tercekat. Suara itu lagi. Suara berat dan menggelegar khas seorang lelaki. Ini sudah kesekian kalinya lelaki itu memanggil namanya setelah tiga bulan. Entah apa maksudnya ia pun tak mengerti.

Ia sebenarnya takut, bahkan sangat takut. Tapi setelah beberapa bulan, rasanya ia sudah terbiasa dengan ketakutan itu.

Tiap malam, saat Kika berjalan pulang dari kafe tempatnya bekerja, suara itu menggema di telinganya.

“Kika.”

Setelah panggilan kedua terdengar, Kika mempercepat langkahnya. Ia tak mau ambil resiko bertatap muka dengan pemilik suara. Suaranya saja seram, bagaimana rupanya nanti, begitu pikirnya.

“Kika.”

Lutut Kika melemas. Tubuhnya luruh ke tanah. Ia tak kuat untuk berjalan lagi. Ia lelah, kesepian dan ketakutan. Tapi demi menjauhi pemilik suara, ia menguatkan diri dan mencoba untuk kembali melangkah. Atau berlari kalau mungkin.

Indra penciumannya menangkap aroma darah. Tak begitu pekat memang, tapi begitu menusuk hidungnya, entah mengapa.

Nafas Kika tiba-tiba seperti tertahan. Matanya yang tertuju ke tanah melihat sesuatu yang mengejutkan. Ia beranikan diri menatap ke atas perlahan.

“A-A-Ayah…”

Tampak sesosok manusia diselimuti gelap. Gelap yang berbeda dari gelapnya malam. Begitu gelap hingga matanya terasa buta seketika.

“Ayo pulang bersama ayah. Bantu ayah lenyapkan manusia tak berfaedah ini.”

Kika melayangkan pandangannya ke kanan sang Ayah.

Di sisi tubuh Ayah, ada seorang wanita. Wanita berambut sebahu tergerai bebas. Baju tanpa lengannya menunjukkan banyak luka terbaris. Tunggu, lengannya bajunya… Seperti sengaja dirobek. Di lengan lainnya tampak darah mengalir menuruni lekuk tangan, tak deras, namun muncul ngilu di hati Kika.

Ayahnya tiba-tiba melakukan pergerakan. Kika sontak mundur. Ayahnya menarik wanita malang tadi ke depan, seperti sengaja ingin menunjukkan wajah wanita itu padanya.

Gelap yang tadinya disekeliling Kika langsung menepi, meninggalkan wajah sesosok wanita yang sangat dikenalnya. Air tiba-tiba menetes jatuh dari mata Kika.

“Ibu…”

Muncul seringai pada wajah Ayah.

“Bantu Ayah menyingkirkan tubuh ini atau kau akan menjadi yang selanjutnya.”

Kika tak bergeming. Begitu banyak hal berputar di kepalanya saat ini.

Sayangnya, ia tak sadar sesuatu.

Ibunya telah tergeletak begitu saja di tanah. Sedang Ayah tengah berjalan mendekatinya dengan pisau teracung.

Rasanya ngilu saat pisau itu tertancap. Lalu tiba-tiba mati rasa. Tubuhnya jatuh terduduk dengan lemas. Nafasnya semakin lama semakin jarang.

***

Flash fiction lagiii~ Kali ini diselesaikan dalam tiga puluh menit (sambil nunggu dokternya muncul, aku kontrol lagi ke RS). Jesslin sebenarnya minta yang happy ending, tapi yah, apa daya, beginilah isi otakku sekarang, gelap… 😂 Tadinya ini mau dibikin Kikanya lagi halusinasi dan cowonya itu bukan siapa-siapa, cuma ketakutan Kika dalam bentuk lain. Tapi pas nulis ide lainnya muncul dan memaksa dituliskan, hehe. Anggap aja ini latihanku buat bikin fiksi dengan genre lain. Kalian lebih seneng baca cerita karyaku yang unyu-unyu atau yang suram kayak gini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s