CERPEN, FLASH FICTION, MY WAY, NEW THING, UNYU-UNYU STORY

Flash Fiction: Confessing

Aduh, berani engga ya? Dia bakal nerima engga ya? Aduh, gimana kalau dia nolak? Terus kalau ditolak, kitanya gimana? Dia bakal berubah ngga ya? Apa kata orang kalau mereka tahu aku nyatain perasaan ke dia? Duh, bisa jadi bahan omongan satu sekolah!

Hua, mama! Tolonglah anak gadismu ini! Aku mesti apa sekarang?

Apa aku cancel aja ya? Tapikan aku udah siapin ini dari lama. Milih kata-katanya, ngehafal, nentuin gesture yang mesti aku pakai buat yakinin dia buat nerima aku, aku bahkan udah latihan mental biar kuat terima penolakannya (habis katanya dia lagi suka sama seseorang yang lebih muda dari dia).

Jadi aku mesti gimana lagi? Tetep tembak atau engga ya…

“Hey!”

Astaga! Matilah aku! Dia ada disini! Gimana ini? Aku mau bicara apa di depannya? Huaaa! Tolongin~

“Kamu kenapa?”

Astaga, astaga, astaga! Apa aku kabur aja ya? Aduh, nanti aku malah dikira freak lagi karena tiba-tiba lari… Mama! Aku mau musnah aja dari dunia ini!

“Hey! Kamu sakit ya? Kok melamun sih?”

“Aku suka kamu!”

Astaga, keceplosan! Mama… Mau pergi aja ke rumah nenek di Bandung… Aduh, matilah aku!

“Heh? Coba ulangin tadi bicara apa?”

Ya ampun… Kalau main pergi aja, pasti dia mikir aku aneh dan ga jelas banget jadi orang. Lebih baik, aku jelasin sebentar terus langsung balik ke kelas.

“Aku udah suka sama kamu sejak kelas tujuh. Mungkin kamu ga inget, tapi kita sebenarnya udah kenal sejak SMP. Waktu itu kamu payungin aku sampai ke halte depan sekolah karena aku bilang kalau aku lupa bawa payung. Kamu bahkan ngebiarin bus jurusan rumah kamu lewat gitu aja cuma buat nemenin aku nungguin bus. Sejak saat itu, aku berusaha cari-cari info tentang kamu. Sampai akhirnya ternyata kita satu jurusan di SMA dan jadi teman ngobrol. Aku seneng banget, sumpah. Akhirnya cowo yang tadinya cuma aku pandangin dari jauh bisa kuajakin ngobrol.”

Oke, ayo lirik dia sedikit. Dia…masih mengatupkan bibirnya. Mukanya…juga datar. Lanjutin aja lah, baru habis ini beneran lari.

“ Aku engga minta kamu jadi pacarku atau apa kok. Aku… Aku… Aku bisa ngungkapin perasaanku aja udah lega banget. Jadi yah, gitu. Aku suka sama…kamu.”

Setelahnya aku langsung lari. Aku ga kuat nungguin reaksi dia gimana. Takut! Aku ngebut banget deh pokoknya larinya. Aku yang tadinya di kantin, dalam tiga menit lebih sebelas detik telah berada di kelas.

“Gimana? Sukses?”

Ini teman belakang baruku (tiga hari yang lalu formasi di kelas diganti, dia ditempatin di belakangku), namanya Kana. Dia juga sahabatku, tempat aku curhat. Jadi dia tahu the big plan yang aku laksanakan hari ini.

“Zero reaction! Mukanya datar waktu aku bicara panjang. Gimana nih? Aduh, aku malu banget, sumpah!”

“Wah, gila, serius, mukanya datar? Dia ga bicara apa-apa?”

“Iya! Aduh, gimana nih?”

“Eh, dia duduk di sampingmu, loh. Udah siap mental?”

“Sama sekali enggak, Na! Aduh, aku mesti gimana kalau misal dia muncul?”

“Kayaknya engga ada waktu buat prepare apa-apa. Orangnya tepat ada di pintu dan lagi menuju kemari.”

Aku langsung membeku di tempat. Tamatlah riwayatku.

“Kalau misalnya aku pingsan, tolong langsung bawa pulang, ga usah ke UKS.”

Setelah bicara begitu ke Kana, aku langsung membalikkan badanku dan menatap lurus ke depan. Gak lama setelah itu, dia sampai di tempat duduknya. Dia juga menatap lurus ke depan. Aku beneran engga berani buat lirik dia sama sekali. Terus bel penanda istirahat berbunyi kencang.

Tahu engga, selama tiga jam pelajaran terakhir, aku engga kepikiran sama penjelasan guru-guruku, sama sekali engga. Satu-satunya yang berputar di kepalaku hanyalah bagaimana caranya menghindari dia tepat setelah bel pulang berbunyi nanti. Saat guru terakhir menyampaikan salam dan melangkah keluar dari kelas kami, aku langsung berdiri dan merapikan segalanya di mejaku dengan tergesa.

“Bye semua, aku duluan!”

Sesudahnya aku lari keluar menuju halte depan sekolah.

Kini saatnya merenungkan kesalahan hari ini. Satu, menyatakan perasaanku. Dua, menyatakan perasaan padanya. Tiga, menyatakan perasaanku. Empat sampai seterusnya juga menyatakan perasaanku. Huwa… Hari ini galauin banget sih! Kok bisa-bisanya aku berpikiran buat nyatain perasaan ya? Aduh, apa sih yang aku pikirin kemarin-kemarin itu? Bego, bego, bego!

“Jangan mukul-mukul kepala sendiri, nanti tambah engga pinter.”

O-ow… Dia baru saja duduk di sampingku. Oke, tenang, kalem, jangan teriak!

“Kok main kabur aja sih tadi? Gue kan belum bilang apa-apa sama lo.”

Kepalaku refleks menoleh. Heh, apa dia bilang? Belum bicara apa-apa? Tunggu-tunggu, kurasa aku salah denger deh.

“Kenapa juga lo ngehindarin gue? Gue kan bukan sesuatu buat ditakutin. Lagian, lo ga penasaran sama apa apa yang ada di pikiran gue?”

“Emangnya apa?”

Ugh, mulut payah! Ngapain tanya sih? Nanti kalau jawabannya ga sesuai hati malah sakit sendiri. Aduh, kesalahan lainnya hari ini!

“Lo inget ngga, gue pernah cerita kalau gue udah suka seseorang dari lama?”

“Inget. Dia lebih muda kan?”

Wah, mesti siapin hati bener-bener sebelum denger jawabannya! Sakit hati, i welcome you into my heart. Oke, aku siap!

“Iya. Waktu itu lo penasaran siapa orangnya. Hari ini, gue udah siap buat ngasih tahu lo. Mau denger engga? Oke, siap-siap ya. Lo tahu kok orangnya yang siapa, tahu banget malah.”

Aku tahu orangnya… Aku tahu orangnya katanya… Duh, hati, yang tabah ya. Siap-siap denger dia nyebutin nama adik kelas.

“Gue sukanya sama…”

Ah ilah, pake sengaja di putus-putus pula. Aku takut!

“Gue sukanya sama Reno.”

“Astaga naga! Kamu serius?”

RENO KAN LAKI-LAKI JUGA! ASTAGA, ASTAGA, ASTAGA.

“Iya, Cantik. Maaf ya, gue bukan suka sama lo. Tapi gue teima kok, pernyataan suka dari lo, lagian mau suka sama siapa aja kan hak lo. Eh, ngomong-ngomong, bus arah rumah gue udah deket tuh. Gue balik duluan ya. Eh, Aya, jangan kasih tahu siapa-siapa ya, gue belum siap kalau orang lain tahu. Lo sahabat gue kan? Tolong jaga rahasia hati gue. Hati-hati ya, gue duluan. Bye!”

Reno…

Reno…

RENO KAN ADIKNYA AYA! AYA ITU AKU! ASTAGA!

Dunia emang udah ga bener.

***

Fiksi ini ditulis di sela-sela kestuckan aku menulis la[NA]ta. Semoga kalian suka :)) Sorry buat typos dan kerandoman alurnya, soalnya dirampunginnya dalam sekitar tiga atau empat jam doang 😐 Di judulkan udah dibilang Flash Fiction, makanya emang begitu peraturannya, nulisnya ga pake lama. Engga bragging, serius, info aja ._.

Sampai ketemu!

[Jesslin yang tidak terima dengan endingnya akhirnya membuat versi bahagia (ia,ia xD) dari fic ini. Klik ini aja. Selamat membaca!]

Advertisements

2 thoughts on “Flash Fiction: Confessing”

    1. Hehe, tadinya sih mau dibikin kayak begitu (cowo itu suka Aya juga). Tapi nakalnya lagi keluar, jadi yah beginilah hasilnya hahaha. Terima kasih sudah berkunjung 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s