CERPEN, TEEN

Trilogi KITA: Kalian, Bukan Kamu dan Aku [3/3]

page-tile

Gadis itu memperhatikanku, lagi. Entah sudah berapa sering ia terpaku melihatku. Apa sih yang menarik dariku yang membuatnya segitu intens menatapiku? Aku bukan termasuk anak yang tampan, anak populer juga bukan. Nerd, geek, itu yang akan orang-orang sebutkan saat ada yang menanyakan siapa aku. Dan kebanyakan hanya mengenaliku sebagai si kutu buku yang sering memenangkan olimpiade. Tak ada yang menarik dariku. Lalu kenapa ia tampak begitu tertarik denganku?

Gadis itu dan aku berbeda, aku sendiri sadar akan itu. Dia ceria dan periang, tak sepertiku yang irit bicara dan sedikit senyum. Ia seperti bunga bakung dipadang, menarik dan menyejukkan hati. Senyumnya itu seakan virus menular. Tawanya juga membuat hati damai. Ia selalu bisa terlihat baik, seperti hidup tanpa beban, hidup bahagia. Yah, walaupun catatan kejahatannya dibuku pelanggaran sudah banyak. Tapi kejahilannya itu justu selalu bisa mengundang tawa. Mungkin dia tak begitu pintar, tapi dia tak perlu kepintaran, karena dia sudah menyenangkan bahkan tanpa itu.

Laki-laki yang duduk disampingnya, mereka sama saja. Sama-sama periang. Dan sama-sama jahil. Lelaki ini kentara sekali menyayangi gadis bakung itu, terlihat dari caranya memandang gadis itu. Gadis itu beruntung sekali sih. Kudengar mereka sudah kenal dan dekat sejak kecil. Itu berarti sudah lama sekali mereka bersama. Aku salut dengan kesabaran lelaki ini. Dia hebat.

Aku tersenyum saat melihat wajah lelaki itu berubah kesal. Pasti dia sangat tidak suka dengan sifat sang gadis yang begitu hobi menatapiku. Kuberi tahu, ini bukan pertama kalinya gadis itu menatapiku. Dan itu berarti ini juga bukan pertama kalinya lelaki itu kesal. Sepertinya aku harus minta maaf suatu hari nanti.

Mereka itu aneh. Padahal sudah kelihatan sekali kalau saling suka, tapi tak ada yang berinisiatif untuk menyatakan perasaan.

Lihat aku dan gadis didepanku, hanya perasaan sepihak. Sedih dan kecewa aku dibuatnya. Ah, gadis ini tak pernah peka akan kehadiranku. Dia bilang keberadaanku mempersempit ruang geraknya. Dia bilang aku menyebalkan. Untungnya aku kuat, jadi takkan hancur hanya karena perkataannya. Tapi kan tetap saja sakit.

Kulihat dari sini, si gadis sedang bercakap-cakap dengan lelaki disampingnya. Entah apa yang dikatakan lelaki itu, tapi pipi gadis bakung sampai memerah begitu! Lucunya mereka. Dan kurasa si gadis jadi salah tingkah, dan ah! Dia tersandung, hahaha. Tapi lelaki itu dengan sigap menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Si gadis cepat-cepat pergi dan mengambil sepedanya.

Betapa irinya aku.

Sebenarnya sejak dari pertama si gadis bakung memperhatikanku, aku sadar, aku tahu. Tapi kukira itu hanya sebuah ketidaksengajaan. Jadi hanya kuanggap angin lalu. Tapi kejadian itu berulang-ulang terus. Bukannya geer, tapi aku jadi yakin sekali kalau gadis itu menyukaiku. Aku terkejut sih, tapi aku hanya diam saja. Aku bukannya bermaksud memberinya harapan palsu, tapi tak ingin menyakiti hatinya. Hati seorang gadis itu bukan mainan, aku tahu. Hati perempuan juga kan renta sekali. Dan kurasa lebih baik begini saja, pura-pura tidak tahu, daripada nanti malah dianggap memberi harapan kosong.

Agak lama setelah gadis bakung meninggalkan sekolah, teman lelakinya berdiri dan berjalan kearah…kearahku? Mau apa dia? Apa dia akan melakukan sesuatu yang kasar terhadapku, seperti memukul wajahku, karena aku mencuri perhatian gadisnya?

“Hey, belum pulang?”

Aku terkesima, dan sedikit menyesal karena berfikiran buruk tentangnya. Aku hanya menggeleng dan menunjuk gadis kesayanganku yang masih sibuk bercengkrama dengan temannya.

“Ah, keadaan kita mirip yah. Menyukai seorang gadis yang tak berperasaan, pada engga peka!”

Aku hanya tertawa menanggapi omongannya.

“Bener juga sih, berasa kita yang cewe deh disini.”

Dia hanya tertawa. Kemudian pembicaraan diantara kami terhenti. Rasanya canggung sekali. Maklum saja, kelas kami berbeda, kepribadian juga beda sekali.

“Bukannya meremehkanmu, tapi aku hanya berusaha menyuarakan pikiranku selama ini. Sejujurnya, aku bingung sekali, entah apa yang ia lihat dari seorang yang sepertimu. Jelas-jelas aku lebih tampan dan populer dibanding denganmu. Aku jugalah yang selalu ada disampingnya. Tapi kenapa dia malah suka denganmu? Matanya segitu kataraknya yah?”

Tukar posisi, kali ini aku yang tertawa. Harusnya aku marah, tapi entah kenapa ini jadi terasa lucu. Dan yah, dari perkataannya, aku sadar sekali betapa sayangnya dia dengan gadis bakung. Ah, gadis itu beruntung sekali ada lelaki yang dengan begitu tulus menyayanginya. Aku sebagai pria merasa sedikit tersaingi sebenarnya, hahaha.

Tapi gadis itu begitu pantas untuk dicintai, dan lelaki dihadapanku inilah yang pantas untuk mendampinginya.

“Kalau begitu buat dia mengerti, kalau kamulah yang terbaik untuknya. Ajari dia mencintaimu seperti kamu mencintainya. Kalian pantas berbahagia, oke? Ah, kalian itu pasangan yang benar-benar manis, tahu tidak? Kuberi tahu sesuatu, kurasa gadis itu justru menyukaimu, perasaannya padaku hanya sekedar kagu saja. Semangat! Aku berharap yang terbaik untuk kalian.”

Mukanya berubah cerah. Ia lalu berdiri dan berterima kasih padaku, dia bahkan sempat bilang ‘i love you’ padaku. Hahaha. Ternyata dia memang punya bakat menghibur dan mengukir senyuman diwajah orang lain.

Semoga gadis bakung cepat menyaari perasaannya yang sebenarnya!

Advertisements

1 thought on “Trilogi KITA: Kalian, Bukan Kamu dan Aku [3/3]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s