CERPEN, TEEN

Trilogi KITA: Kamu dan Aku Sama [2/3]

page-tile

Lagi-lagi dia yang kamu lihat. Lagi-lagi dia yang mengunci tatapanmu. Kamu tahu, aku benci dia. Kenapa? Karena dia selalu bisa menjadi objek kesukaanmu. Dia mampu membuatmu senyum lebar seperti itu. Dia selalu bisa mencuri perhatianmu dariku.

Apa sih yang kamu lihat dari lelaki itu? Dia tidak begitu rupawan, senyumnya biasa saja, suaranya juga standar saja. Main gitar juga tak bisa. Bagian mananya sih dari dia yang bikin kamu klepek-klepek? Apa yang dia punya tapi aku tidak? Apa sih yang menjadi poin lebihnya dimatamu?

Oke, kuakui, dia termasuk jajaran murid berprestasi disekolah, dia terhitung sebagai anak emas guru-guru. Catatan kejahatannya dibuku hitam kosong, putih bersih. Dia juga baiknya tiada tara. Berbanding terbalik denganku.

Aku, si pentolan sekolah. Orang selalu bilang kalau aku bisa masuk dalam sekolah ini hanya karena kekayaan orang tuaku. Ha, mereka harus tahu, meski catatan kejahatanku sudah bertumpuk, aku ini juga pintar. Aku ini pemenang olimpiade sains! Aku bahkan ditunjuk menjadi wakil Indonesia dalam olimpiade matematika se-dunia. Lihat kan, meski aku di cap anak berandalan, prestasiku mengagumkan!

Bukankah minus pelanggaranku, aku ini sama saja dengan lelaki itu? Oh, tidak, wajahku lebih tampan darinya. Itu nilai tambah yang sangat besar, tentu saja.

Tapi kenapa, kenapa hanya dia yang berhasil mendapatkan hatimu? Kenapa hanya dia yang kamu berikan izin masuk dalam hatimu? Kenapa dia diperbolehkan untuk kamu sukai sedang aku tidak? Kenapa hatimu malah memilihnya, bukan aku? Kenapa harus dia yang kamu sukai, kenapa tidak aku?

Kata orang, cinta ada karena biasa.

Hey, kita sudah berteman sejak lama, kita bahkan tetanggaan sejak kecil. Kita masuk di TK yang sama, SD juga sama, bahkan sampai SMA seperti sekarang juga bersama. Dulu, kita bahkan sering tidur bersama! Aku selalu ada untukmu kapan pun kamu butuh penopang. Aku dengan setia selalu mendengar curahan hatimu. Aku selalu siap kamu jadikan pelampiasan kesalmu. Kita selalu bersama kemana pun. Kecuali kekamar mandi, dan ini wajar saja, kita beda sih.

Lihat, kita sudah sering bersama, lalu kenapa tak ada perasaan lebih sedikitpun untukku? Kenapa kamu malah mencurahkan segalanya untuk lelaki itu? Apa hidup memang setidak adil ini?

Sebenarnya apa kekuranganku?

Kamu bilang dia itu orangnya penyabar sekali. Kamu bilang dia itu kalem. Kamu bilang dia itu mirip ayahmu. Kamu bilang dia itu layaknya matahari. Kamu bilang dia pekerja keras. Kamu bilang dia bisa diandalkan.

Kamu tahu, kalau aku tidak penyabar, aku tidak mungkin ada terus disampingmu, mengingat sifatmu yang menyebalkan. Hey, aku juga mirip dengan ayahmu, bahkan untuk yang ini, beliau sendiri yang bilang. Aku juga pekerja keras kok, buktinya aku selalu berusaha memikirkan cara mendapatkan hatimu. Bisa diandalkan? Aku beribu kali lebih bisa diandalkan dibanding dirinya, Nona. Siapa yang basah bajunya saat kamu menangis? Aku. Siapa yang sering kamu pukul dan cubit karena kesal? Aku. Siapa yang siap siaga dua puluh empat jam demi kamu? Aku. Siapa yan menjagamu saat kamu sakit? Aku. Siapa yang mengantar jemputmu kemanapun kamu mau? Aku. Siapa yang menemanimu berbelanja? Aku. Siapa yang kamu suka? Dia. Masa iya cuma karena dia kalem dan aku tidak, kamu lebih memilihnya. Itukan hal kecil. Aku. Kecewa. Berat.

Kamu bilang, tiap orang itu berbeda dan punya poin pesonanya masing-masing. Tapi tahukah kamu, kalau sebenarnya kita itu sama.

Sama-sama berharap. Sama-sama menunggu kepastian. Sama-sama menyukai insan lain. Sama-sama suka diam-diam pada orang lain.

Lalu kapan kamu akan melihatku?

Dengar, daripada lelah menunggu dia, kenapa kamu tidak belajar menyukaiku saja? Kamu tahu, aku bisa jadi lebih dari sekedar matahari untuk kamu. Kamu bilang dia matahari dan kamu bumi karena kalian jauh, kalau begitu aku bulannya. Kita tak jauh, benar kan? Jadi kapan kamu mencoba membuka hatimu untukku?

***
Lagi-lagi dia menatapi lelaki itu dengan wajah berseri. Aku tak suka ini! Bagaimana cara membuatnya teralihkan ya?

Ah, ajak dia jalan!

Dan sambil berpura-pura memainkan handphoneku, kutanya sesuatu padanya,

“Hey, Sabtu nanti kosong? Jalan yuk!”

Dan tak ada respon darinya. Kecewa. Ia pasti sedang asyik menatapi lelaki itu.

“Eh, malah diem. Bisa ngga? Ntar biar aku yang jemput kerumahmu.”

“Ba-baiklah. Aku tunggu ya. Sampai ketemu nanti, aku pulang duluan.”

Air mukaku langsung cerah. Ah, tak sabar menunggu Sabtu sore!

Kuberi senyum terbaikku padanya. Ia tampak salah tingkah, hahaha… Lucu sekali sih dia ini. Dia dengan cepat berjalan keluar dari kantin. Tapi sepertinya karena gugup, kakinya tersandung. Hahaha… Dia ini bisa sekali membuatku tertawa! Ia tampak akan jatuh, tapi langsung kuraih lengannya dan membantunya untuk tetap berdiri. Ia terlihat meringis malu dan langsung pergi dengan cepat.

Dasar ceroboh!

Advertisements

1 thought on “Trilogi KITA: Kamu dan Aku Sama [2/3]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s