CERPEN, TEEN

Trilogi KITA: Titik Fokus [1/3]

page-tile

Menatapinya dari jauh, itu sudah menjadi kesukaanmu akhir-akhir ini. Melihat senyumnya, memperhatikan caranya berbicara, menatap keindahan ciptaan Tuhan favoritmu. Kamu selalu berusaha menjaganya semampumu, sekuat tenagamu. Kamu terus berusaha untuk tetap berada disampingnya, sama seperti janjimu pada orang tuanya.

Kamu dengan hebatnya tak pernah mengeluh saat gadis itu menyusahkanmu. Kamu dan kelembutan hatimu selalu bisa membuatnya menurut. Dan kamu selalu bisa membuatnya bahagia.

Kamu itu seperti matahari baginya. Dan ia bunga matahari.

Itu artinya ia akan selalu bergantung padamu, karena bunga matahari akan selalu membutuhkan matahari, akan selalu condong dan terikat pada matahari. Karena matahari adalah hidupnya. Bunga matahari takkan mampu bertahan tanpa bantuan matahari.

Dan aku cemburu. Aku iri. Aku tak suka dengan perlakuanmu padanya. Menurutku, kamu terlalu baik untuk bersanding dengannya. Ah, bukan maksudnya aku pantas denganmu, tapi gadis itu juga sama tak pantas. Dan lagi, bukan maksudku menghakimi, tapi yah, memang begitu adanya.

Kamu, aku dan gadis itu, kita adalah tiga manusia yang berbeda. Dia yang terhitung anak berandalan tapi dari keluarga berada, aku dengan segala kecerewetanku, dan kamu, kamu dengan kekaleman dan kelembutan kamu.

Kamu mungkin memang tak sempurna, mendekati pun sepertinya tidak. Tapi aku suka sifatmu. Aku suka pemikiran dewasamu. Aku suka kereligiusan kamu. Kamu baik, sangat suka menolong, pekerja keras, sama seperti ayahku. Dan aku rasa kita akan cocok. Just like peanut butter and jelly!

Ah, tapi sekali lagi, aku tak pantas untukmu.

Tapi aku tetap suka denganmu. Suka dengan tawamu. Suka dengan lelucon keripikmu. Suka dengan senyummu. Suka dengan suaramu. Suka akan caramu menatapku –yah, walau bukan dengan tatapan penuh perasaan seperti tatapanmu untuknya.

Ah, aku ini munafik sekali yah. Jelas-jelas tak pantas tapi tetap menginginkanmu menjadi milikku.

Aku tau betapa kita berbeda, oh, bahkan dari segala aspek. Sifat kita berbanding terbalik. Kamu yang kalem dan aku yang sama sekali tidak kalem. Kamu yang pendiam dan aku si biang rusuh. Kamu yang pintar dan aku yang dibawah standar. Kamu selalu bisa membuat hati adem, sedang aku bisanya membuat suasana jadi ricuh dengan kebawelanku.

Kamu dan aku, seperti malam dan siang. Kamu yang dingin dan, yah, menurutku sedikit suram, benar-benar menggambarkan malam. Dan aku yang penuh keceriaan dan sangat aktif seperti siang.

Kamu tahu, tiap kamu memandang gadis itu, aku juga sedang memandangmu. Tiap kamu tersenyum karena tingkah polah gadis itu, aku ikut tersenyum melihatmu. Tiap tawamu juga berarti tawaku. Untuk setiap tatapan cintamu padanya, juga berarti tatapan cinta dariku untukmu.

Kamu terlihat begitu tergila-gila dengannya!

Dimataku, kamu seperti objek kamera yang menarik mata. Kamu layaknya magnet dan aku besinya.

Ah, tapi sayang, kamu tak pernah sadar. Kamu tak pernah menanyakan perasaanku. Dimatamu cuma ada gadis itu dan hanya dia. Dia entah bagaimana selalu bisa menarik perhatianmu, menyedot seluruh perasaanmu hanya untuknya seorang. Aku iri, sangat iri. Aku juga ingin dicintai seperti ia dicintai olehmu. Aku juga manusia yang butuh kasih sayang!

Kapan kamu akan sedikit menoleh dan melihat keberadaanku? Sampai kapan kamu akan menjadi titik fokusku? Akankah suatu saat, aku yang menjadi titik fokusmu.

Itu harapan, bukan pertanyaan.

Bisakah kamu dan aku benar-benar menjadi kita suatu saat nanti?

***
“Hey, Sabtu nanti kosong? Jalan yuk!”

Dan dengan pertanyaan itu, pipiku sukses memerah. Ah, dia memang selalu berhasil membuatku blushing. Untung saja, ia sedang menunduk, kalau tidak, mau ditaruh dimana mukaku nanti?

“Eh, malah diem. Bisa ngga? Ntar biar aku yang jemput kerumahmu.”

“Ba-baiklah. Aku tunggu ya. Sampai ketemu nanti, aku pulang duluan.”

Dengan sedikit cepat, aku berjalan menuju parkiran sekolah. Tapi mungkin karena faktor gugup dan salah tingkah, aku tersandung. Tapi tangannya dengan sigap menjadi topangan tubuhku. Ia tertawa. Aku hanya sedikit meringis malu dan melanjutkan jalanku menuju tempat parkir sekolah. Kemudian kukayuh sepeda merahku dengan sekuat tenaga.

Aku ingin cepat sampai dan segera tidur!

Advertisements

1 thought on “Trilogi KITA: Titik Fokus [1/3]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s