CERPEN, TEEN

[Cerpen] Hujan

page-5

Dedicated to Jesslin :))

Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju halte depan kampus melihat langit yang sudah mulai menurunkan butiran air. Aku tak mau kebasahan lagi untuk yang ketiga kalinya di minggu ini. Cukup demam beberapa hari kemarin saja yang terakhir.

Memang, akhir-akhir ini cuaca sedang kacau. Kadang hujan, lalu dua menitnya lagi panas terik. Makanya aku sampai sakit kemarin. Sebenarnya sih bukan salah hujan sepenuhnya. Semua salahku yang masih nekat menerobos hujan deras. Habis, aku tak ingin terlambat sampai dirumah. Nanti ibu mencariku. Karena itu, jadilah aku basah kuyup karena siraman hujan.

Beberapa hari yang lalu itu, sebelum hujan turun, aku baru saja melihat sesuatu yang tidak mengenakkan hatiku. Gebetanku sedang memeluk seorang perempuan! Tahu apa yang membuatku lebih sakit lagi? Perempuan itu adalah perempuan yang dibilang-bilang pacar barunya! Padahal setahuku dia baru putus tiga minggu lalu, eh, sudah dapat yang baru lagi.

Bayangkan betapa kecewanya aku. Bahuku melemas ketika gebetanku mencium bibir perempuan yang kuperkirakan adalah adik tingkat kami -gebetanku itu setahun diatasku dan perempuan itu setahun dibawahku. Kulihat mereka sama-sama menikmati ciuman itu. Sedangkan hatiku sudah menjadi abu.

Sejak hari itu, aku banyak merenung. Aku bingung, bagaimana mungkin aku jatuh untuk pria sejahat itu, kenapa aku tak mampu mengontrol perasaanku.

Semua dimulai sejak dua tahun lalu, saat aku masih terhitung sebagai bagian dari mahasiswa baru yang ikut masa orientasi.

Hari itu hari Senin, dan mataharinya sangat terik. Rasanya mau meledak sangking panasnya. Kami para mahasiswa baru disuruh berlari keliling lapangan dua kali, katanya biar kenal sama seluruh penjuru lapangan. Ha, bilang saja mereka mau mengerjai kami! Dikiranya kami sepolos apa sih, sampai-sampai menyuruh kami yang aneh-aneh. Memangnya siapa coba yang mau dikenal di sudut lapangan, semut? belalang? Ha, menyebalkan!

Karena lelah yang tak tertahankan, akupun menjatuhkan diri dipinggir lapangan. Kuperhatikan langit, ternyata panas terik tadi itu karena mau hujan toh. Tapi aku teringat lagi dengan perbuatan kakak kelasku. Aku jadi kesal lagi!

Waktu aku sedang menyumpah-nyumpahi senior sialan kami, ada satu dari mereka yang berjalan mendekatiku. Wajahnya kurasa lumayan tampan, tinggi nya kira-kira 185 cm. Wajahnya begitu bersinar ditengah awan gelap yang mulai menyusupi langit cerah tadi. Ia lalu menatapku lembut dan mengulurkan tangannya.

Aku terdiam menatap wajahnya untuk sesaat. Oh my, dia setampan dewa yunani! Wajahnya benar-benar tanpa cela. Demi apapun, ini pertama kalinya kulihat manusia seganteng ini! Akupun perlahan mengangkat tanganku dan meraih uluran laki-laki ini. Ia dengan sigap menarik tanganku, hingga tanpa sengaja kami malah berpelukan. Ya ampun, pelukannya hangat sekali.

Mungkin setelah hampir sepuluh detik kami berpelukan -uhm, secara tidak sengaja- ada titik-titik air membasahi puncak kepalaku. Kurasa pria ini juga sadar, makanya dia langsung menarikku dan membawaku ke koridor sekolah didepan lapangan. Sampai dibawah naungan koridor, senior tampan ini melepas tautan tangannya denganku. Aku hanya mendongak dan melihatnya sekilas, kemudian menundukkan kepalaku. Kurasakan wajahku memanas dengan sangat sekarang. Aduh, aku jadi salah tingkah begini!

“Badanmu hangat, kalau memang tak enak badan seharusnya bilang dari awal, menyusahkan saja!”

Sehabis mengatakan serentetan kata itu, dia dengan dinginnya meninggalkanku sendiri. Menatapnya dari kejauhan, sejak saat itu mulai menjadi hobiku.

Kini, disinilah aku, ditemani hujan disore hari, dihalte depan kampus. merenungi kebodohanku, memikirkan kecerobohanku yang tak mampu menahan perasaan terkutuk ini, menyesali ketidak beranianku. Aku hanya satu butiran pasir yang tak menonjol dimatanya. Hanya angin lalu yang tak penting. Ha, bagaimana mungkin aku jatuh untuk orang yang bahkan lebih dingin dari suhu di kutub utara. Dasar bodoh, benar-benar bodoh!

“Kenapa masih disini? Kenapa sendirian? Kau tak takut kalau nanti ada yang mengganggumu, huh? Dasar sok berani!”

Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku. Suara ini…

“Hey, aku ini lagi bertanya denganmu! Jawab dong! Dasar kekanak-kanakkan. Menyusahkan sekali sih jadi manusia.”

Senior sialan itu, senior yang suka sekali mengolok-olokku, yang setiap ketemu denganku selalu mengejek dan menghina. Hais, kenapa dia belum pulang kekandangnya sih? Aih!

“Hey, pendek! Aku sedang ngomong denganmu loh…”

Aku yang sudah puas dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari bibirnya segera berdiri. Kurasa lebih baik aku sakit lagi dan akhirnya tak masuk daripada kupingku panas dan meledak.

Saat aku mulai melangkah, senior gila ini mencekal tanganku. Ia genggam pergelangan tanganku dengan erat.

Aku terkejut. Apa lagi sebenarnya mau senior ini, kurang ya setiap harinya menghina aku? Ya Tuhan, mahkluk apa yang sedang aku hadapi ini?

“Apa yang kau pikirkan? Kenapa tak membalas perkataanku? Kenapa tak melawan?”

“…”

“Hey, kau ini tak sopan sekali! Akukan sudah beritahu berapa kali padamu, kalau aku bicara, harus kau balas!”

“Aku mau pulang, tolong lepas.”

“Tapi ini hujan, bodoh! Lagian kau mau pulang naik apa, ha! Dasar bodoh!”

“Iya, aku tahu, aku bodoh. Kau sudah bilang itu berkali-kali. Jadi tinggalkan aku sendiri dan urus saja kehidupanmu sendiri.”

“Heh…?”

Aku langsung mehentak tanganku dan berlari keseberang jalan. Aih, kurasa aku akan sakit lagi. Tapi tak apa, daripada mesti terus-terus ada dengan senior psikopat itu.

“Kau itu kenapa? Aku bicara, kau sama sekali tak melakukan perlawanan atau bahkan kontak mata denganku. Sebenarnya apa yang ada diotak kecilmu itu? Membuat khawatir saja! Kau persis seperti ayam sakit, tau tidak! Menyusahkan.”

Ya ampun, kukira dia tak mengikutiku lagi!

“Karena itu berhenti mengusik hidupku! Kau kira aku akan tahan dengan semua ucapanmu yang lebih tajam dai pisau itu, ha! Kau kira hatiku tak sakit dengar semua hinaan dan ejekan darimu! Kau selalu bilang kalau otakku kecil, otakku lamban, aku lemah, aku bodoh, aku dungu, aku hanya mengandalkan kekayaan ayahku! Lalu memangnya kenapa! Kau bukan siapa-siapaku! Berhenti mengusikku!”

Hais, menyusahkan katanya? Dia yang menyusahkan!

“…”

Lihatkan, dia diam sekarang. Aku jalan saja lagi, lelah! Mana hujannya sepertinya makin deras.

“Aku begitu karena kau! Karena kau tak pernah sadar betapa inginnya aku untuk selalu berinteraksi denganmu! Kau tak pernah mengerti kalau itu semua hanya caraku untuk menarik perhatianmu! Aku selalu ingin membuatmu peduli denganku, tapi aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya! Lagian, satu kampus juga tahu, betapa kau begitu menyukai si brengsek itu, pria bodoh yang kau tangisi tiap malamnya! Aku sakit, kau tahu! Tidak hanya kau yang kecewa disini, tapi aku juga!”

“…”

Apa-apaan si psikopat ini? Dia berteriak apa tadi? Dia sakit ya? Akupun segera berjalan mendekat. Sedikit berjinjit untuk menyamakan tinggi, akupun menyentuh dahinya dengan punggung tanganku. Tapi dia seperti menghindar.

“Aku tak sakit seperti pikiranmu itu, dasar bodoh.”

“Baru minta maaf sudah mengataiku lagi. Apa yang tadi itu benar-benar dari hatimu? Aku ragu sekali.”

“Uh, bukan itu. Kau tahu, berdiri lima meter darimu saja sudah membuat hatiku berdegup kencang, bagaimana jika kau menyentuhku, rasanya jantungku mau meledak, tau tidak?”

Anak ini… kenapa begitu jujur hari ini. Uh, aku jadi ikut-ikut deg-degan.

“Aku minta maaf untuk semua. Ayo mulai dari awal lagi. Dan jadilah milikku. Berhenti mengharapkan pria brengsek seperti dia. Aku akan membuatmu beralih darinya, jadi berikan aku kesempatan, kumohon… Kau terlalu indah untuk disia-siakan oleh pria seperti itu, kau kelewat baik untuk terus-terusan menunggu.”

Aku terperangah. Eh, dia barusan apa?

Meminta agar aku jadi miliknya?

Maksudnya…

“Kau mau kita pacaran?”

“Kalau kau setuju sih, langsung nikah juga kurasa tak masalah!”

“Eh?”

Aduh, pipiku panas! Pasti sudah merah sekali ya? Aih, ini karena senior aneh ini.
Kurasakan ada sepasang lengan yang merengkuh tubuh lemahku. Kudongakkan kepalaku, ternyata senior stres ini memelukku. Dibawah tirai air mata langit. Aku yang masih terkejut hanya mampu terdiam dan memilih mengikuti kata hatiku.

Hatiku bilang, ayo buat kenangan baru tentang hujan. Kenangan baru yang menyenangkan dan berkesan dihati. Jadi aku dengan ragu membalas pelukannya. Lima belas detik kami begini, ia buru-buru melepas pelukannya. Rasanya aneh, seperti ada yang hilang…

“Hey, ayo pulang! Nanti ibumu mencarimu!”

Aku hanya menurut dan mengikuti langkahnya dari belakang.

“Hey, ayam sakit! Kita jalan kaki saja dulu ya, mobilku masih dibengkel. Atau kau mau tunggu bus saja?”

“Terserah.”

“Baiklah, kita tunggu bus saja deh, nanti kau sakit lagi kayak minggu lalu. Kau tahu, rasanya sepi tanpamu disampingku. Aku jadi suram seharian, karena matahariku tak ada, keke…”

Aku hanya tersipu mendengar ucapannya. Ternyata dia manis juga, eh? Keke… Lagi-lagi ia berhenti dan membuatku menabrak punggung kekarnya. Apa lagi sih?

“Jalanlah disampingku, kitakan pacaran, bukan majikan dan pembantu!”

Setelah dia bilang gitu, dia raih tanganku yang terkulai disamping tubuhku dan menggenggam jemariku erat. Ah, dia tak seburuk yang kukira!

Hujan, kurasa sudah saatnya beralih. beralih kepada dia yang selalu ada untukku, kepadanya yang setia menungguku, pria dengan beribu cara menyebalkan miliknya agar bisa bicara denganku.

Hey, mulut pisau, bantu aku ya! Kaulah harapanku sekarang. Temani aku menciptakan kenangan indah untuk mengganti kesedihanku dalam ketidak pastian kemarin itu.

“Halo?”

“Iya, ini siapa?”

“Masih berani bertanya! Kau ini benar-benar! Aku pacarmu, bodoh.”

“Eh? Kok…”

“Kok kau tau nomorku? Dapat darimana? Dasar menyusahkan! Hampir satu kampus tau nomormu, kau lupa?”

Uh, benarkah? Tapi kenapa…

Ah! Akukan penyiar diradio kampus, tentu banyak yang tau nomorku. Tapi ini cuma nomor yang umum kok. Aku punya satu nomor lagi khusus untuk orang yang dekat denganku saja.

“Malah diam. Kau ini benar-benar menyebalkan! Sudah tak ada kabar, dihubungi malah diam! Aku frustasi sendiri! Ayo…”

“Jangan! Jangan putus sekarang, kumohon… Kita bahkan belum kencan sekalipun. Kita belum…”

“Bukan itu bodoh! Maksudnya ayo beritahu aku alamat rumahmu! Aku akan mengunjungimu sekarang juga. Kau pasti sedang demam, makanya tak masuk, iya kan? Dasar lemah!”

“Hais! Kenapa mulutmu tak bisa dikendalikan sih? Belum apa-apa sudah marah-marah! Kupingku panas tau! Pacarnya sakit bukannya meringankan sakitku malah membuat kepalaku makin panas.”

“…”

“Lihat siapa yang diam sekarang! Sudahlah, kututup ya… Nanti kalau pulsamu habis, kau menyalahkanku lagi. Hatiku sudah cukup sakit dengar ejekanmu hampir tiap hari kecuali aku sakit. Sudah…”

“Tunggu!”

“Apa lagi?”

“Maaf.”

“Huh?”

“Maaf, aku tak bisa jadi pacar yang baik. Maafkan mulutku yang kasar ini. Aku hanya… belum terbiasa dengan semua ini. Kau dan aku, kita, aku masih terlalu terkejut. Aku tak menyangka kau akan bilang iya waktu aku memintamu jadi pacarku. Aku hanya, masih… tak percaya. Bersama denganmu, menjadi pacarmu, menjadi milikmu, semuanya terasa seperti mimpi bagiku. Maaf karena aku kaku dan tak menyenangkan.”

“Heh… Apaan sih kau itu? Kadang keras sekali, sekarang lembut sekali. Kau aneh.”

“Maaf.”

“Iya, iya. Berhenti bilang maaf. Aku yang salah disini.”

“Terserah kau saja, gadisku.”

Pipiku memerah! Aku mau teriak! Kenapa dia suka mengajakku bermain roller coaster sih! Aku bisa mati muda kalau begini. Aih, untung saja dia tak ada disampingku sekarang. Kalau tidak, habis aku jadi bulan-bulanannya.

“Hey, sms kan alamatmu yah, cepat!”

“I, iya.”

“Tunggu! Apa kau butuh sesuatu sekarang, atau kau mau sesuatu? Katakan saja.”

“Cukup kau saja yang aku mau sekarang. Jadi berkendaralah dengan hati-hati. Ketemu nanti ya!”

“Jangan kemana-kemana, jangan banyak gerak, jangan keluar-keluar. Tunggu aku, aku akan segera kesana, dengan selamat tentu saja.”

“Iya, iya. Hati-hati, um, sayang…?”

“Pipimu pasti merah sekali sekarang, sayang aku tak bisa lihat, hahaha. Yasudah, kututup ya. Lanjutkan istirahatmu, gadisku. Aku menyayangimu.”

…………

Apa yang baru saja dia katakan…

Bagaimana mungkin ada manusia seperti dia ini, berganti kepribadian sesuka hatinya. Ah!!! Bisa gila kalau begini terus! Satu saat dia begitu menyebalkan, beberapa detik kemudian dia akan jadi sangat manis. Sebenarnya spesies apa sih, pacarku ini?

Pacarku… Ah… Aku malu sekali.

Aku benar-benar bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang? Mandi? Atau ganti baju saja ya?

Akupun menegakkan tubuhku dan mencoba jalan kekamar mandi. Uh, kepalaku sedikit pusing, mungkin efek kebanyakan berbaring. Kurasa ganti baju saja sudah cukup. Eh, tapi nanti kalau dia bilang tubuhku bau bagaimana ya?…

Aih, mandi sajalah!

Baru lima menit didalam kamar mandi, pintu kamarku diketuk. Tumben sekali, biasanya ibu kalau mau kekamarku langsung masuk, kenapa kali ini mengetuk?

“Masuk saja! Tapi tunggu sebentar, aku sedang mandi!”

…..

Kenapa tak ada jawaban? Apa adik laki-lakiku yang masuk? Mau pinjam apa lagi dia? Karena takut anak itu berbuat yang macam-macam dengan isi kamarku, aku segera mengeringkan tubuhku dan memakai pakaian lengkap. Aku keluar dengan handuk kecil dileherku untuk mengeringkan rambut nanti.

“Kenapa kau selalu terlihat cantik dan menarik?”

Aku menengadah mendengar komentar aneh itu.

Kemudian tanpa sadar senyum lebar terukir. Ah, ternyata pacarku yang bilang begitu.

“Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba?”

Aih, balasan macam apa itu? Bodoh, bodoh, bodoh!

“Akukan sudah ketuk pintu tadi, gadis kecil. Pendengaranmu memburuk ya karena kau sakit?”

Aku hanya menatap pria tinggi didepanku dengan sorot mata datar. Haih, dia tidak mengerti perasaanku sekali sih! Itukan cuma basa-basi. Dasar pria!

“Sekarang diam. Kau suka sekali diam sejak hujan kemarin. Apa sih yg kau pikirkan?”

“Uh, itu… Ah, bukan masalah besar kok. cuma hal kecil ini dan itu.”

“Hey, kalau gitu cerita denganku, aku ingin kau membagi semua yg kau alami, tak peduli hal kecil atau besar. Karena itulah gunanya pacar, tempat cerita dan berbagi, mengerti?”

“I, iya. Terima kasih.”

“Terserah. Eh, kok kau malah mandi sih? Tadikan sudah kubilang untuk istirahat saja. Kau ini, sulit sekali ya menuruti perkataanku? Kan ini untuk kebaikanmu juga.”

Aku hanya tersenyum.

Aku mengerti sekarang, sebenarnya kata-kata tajamnya itu cara dia mengungkapkan rasa pedulinya. Sebenarnya selama ini, alasan dia terus-terus mengusikku adalah agar aku tetap aman dan berada di daerah yang terjangkau olehnya.

“Hey, terima kasih ya, terima kasih banyak. Maaf kalau aku sering tidak menurut denganmu.”

Pacar baruku itu hanya menatap mataku tajam. Dia lalu mengela nafas sebentar dan tersenyum.

“Ayo turun dan makan. Ibumu bilang kau belum makan sama sekali sejak semalam.”

Setelah dia bilang begitu, tanganku ditariknya dan digenggam erat tapi tetap dengan lembut, seakan sedang memegang patung kaca yang rapuh.

“Eh, kok kau bisa masuk kekamarku? Siapa yang kau temui dibawah?”

“Ibumu, kenapa?”

“Ibu yang membiarkanmu naik dan masuk kekamarku?”

“Ya, kenapa?”

“Kok bisa sih?”

“Hahaha… Aku hanya bilang pada beliau kalau aku adalah pacarmu, kemudian sedikit mempromosikan diriku.”

“Promosi yang seperti apa?”

“Eh, hati-hati, perhatikan langkahmu. Uh, aku cerita pada ibumu kalau aku akan lulus dari kedokteran tahun depan. Lalu kubilang juga kalau aku sudah mengenalmu sejak lama, aku tau semua yang kau suka, yang kau inginkan, yang kau perlu. Lalu ibumu tersenyum dan bilang kalau beliau senang tahu ternyata ada seseorang yang begitu menyayangi dam memperhatikan anak perempuannya. Kemudian kutanya apakah aku boleh kekamarmu atau tidak, beliau bilang boleh, beliau bilang beliau percaya kalau aku adalah pria terhormat.”

Ah, Ibu… Aku jadi terharu!

Selesai dia cerita, kami menuju ruang makan dan menyantap makan malam bersama.

Saat makan malam, terdengar deru hujan. Uh, sepertinya hujan malam ini akan deras sekali. Eh, lalu pacarku pulang bagaimana caranya?

“Hey, diluar hujan, nanti gimana pulangnya?”

“Aku naik mobil, sayang. Lagian mobilnya ada digarasi samping kok.”

Lagi-lagi pipiku merah karena panggilannya untukku. Aih, pipiku, berhenti blushing! Kau mesti terbiasa dengan ini.

“Tak apa kok, kalau kau terus-terusan blushing. Kau malah terlihat semakin manis! Aku suka kok.”

Pipiku bahkan lebih panas lagi sekarang!

“Hahaha…”

Ya ampun, lihat, dia malah ketawa! Dasar pria menyebalkan.

Aku langsung berdiri dan berjalan perlahan menuju ruang tamu. Kududukan diriku keatas sofa coklat ini. Kutatap TV yang menyala. Ah, sinetron.

Akupun mengambil remote dan mengganti kanal. Pilihanku jatuh ke NatGeo. Ayo konsentrasi menonton!

“… And people will ask each other, what is the purpose of life? …”

Sofanya sedikit bergoyang. Tak lama sesudah itu ada tangan kekar yang merangkulku. Paling juga ayah. Aku agak menoleh, dan benar saja, ini beliau. Jadi aku senderkan kepalaku kebahu ayah.

Sejujurnya aku kangen dengan beliau. Kami sudah jarang bertemu karena kesibukanku sebagai mahasiswi dan kesibukan ayah sebagai direktur perusahaan keluarga. Ah, jadi teringat ucapan ayah waktu itu.

“Kau anak perempuan ayah satu-satunya. Sedangkan perusahaan membutuhkan kekuatan seorang pria. Jadi, carilah seseorang yang dapat dipercaya dan penuh rasa tanggung jawab. Juga bisa membagi waktu, jadi urusan keluarga lancar, karir juga maju.”

Tapikan, pacarku itu calon dokter. Bagaimana dong?

“Ayah…”

“Iya sayang?”

“Ayah masih ingat perkataan ayah tentang siapa yang akan melanjutkan perusahaan keluarga?”

“Tentu. Suamimu nanti, yang pastinya adalah lulusan manajemen dengan cum laude-nya. Kenapa? Kau sudah punya pacar ya?”

“Selamat malam, Om. Saya kekasih anak tunggal om. Kalau Tuhan ijinkan, saya akan lulus dari kedokteran tahun depan.”

“Oh, benarkah? Wah, pantas saja, daritadi om berpikir, mobil siapa gerangan yang ada di depan, rupanya milik pacar gadis kecil om. Mari duduk disini.”

“Ah, iya om.”

Uh, apa yang akan ayah katakan ya, kira-kira?

“Jadi sekarang ini kau sedang sibuk mempersiapkan skripsimu?”

“Iya, Om.”

“Kamu udah tahu, KOAS nanti dimana?”

“Belum, Om. Dengar-dengar sih, besok akan diumumkan.”

“Lalu, kalau misalkan kamu dikirim keluar kota, kamu dan anak om akan berhubungan jarak jauh, apa kalian akan kuat?”

Ayah… kenapa mematahkan harapanku begitu? Aduh!

“Kalau Tuhan ijinkan, iya, Om.”

“Kamu gak takut, kalau misalnya saya suruh kalian putus? Hubungan jarak jauh itu susah lho.”

“Saya mengerti benar kalau hubungan jarak jauh itu sulit, tapi saya dan anak gadis om akan berusaha melewati jarak itu. Entah mengapa, saya yakin sekali kalau anak om lah yang akan menjadi pendamping hidup saya, perempuam yang akan melahirkan anak-anak saya nanti. Om tidak perlu khawatir. Saya akan jaga diri, mata dan hati saya juga. Saya tidak akan berpaling dari anak om. Yah, selain rasa cinta saya, perjuangan saya juga berat untuk mendapatkan anak om.”

“Anak muda, kuberi tahu kau satu hal, kau persis denganku saat aku bertemu mertuaku untuk pertama kali.”

Pacarku hanya senyum.

“Maaf, Om, kalau saya tak sesuai dengan kriteria om, tapi saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk anak om. Saya akan belajar dengan lebih keras lagi! Eh, tapi om, maaf, masalah meneruskan perusahaan om, tenang saja. Setelah selesai mengambil kedokteran saya akan segera belajar mengenai pengaturan perusahaan.”

“Boleh tahu apa pekerjaan ayah ibumu?”

“Papa adalah direktur perusahaan seperti om, mama saya seorang dokter.”

“Perusahaan keluarga juga?”

“Iya, Om.”

“Dibidang apa?”

“Farmasi, Om.”

“Ah, benarkah? Apakah orangtuamu ada di Indonesia saat ini?”

“Iya, Om. Soalnya buat papa, keluaga adalah yang nomor satu. Untuk urusan pergi keluar negara, papa melimpahkan tanggung jawab itu ke kakak saya.”

Ayah hanya mengangguk mendengar jawaban pacarku. Aku jadi sedikit tidak mengerti kemana arah jalannya pembicaraan ini. Jujur, aku sedikit takut. Bagaimana kalau ayah tak setuju dengan hubungan kami?

“Om, maaf. Tapi ini sudah cukup larut. Saya harus pulang untuk belajar.”

“Wah, disaat anak laki-laki yang lain sibuk berfoya-foya dan pulang pagi, kamu malah sibuk belajar. Bagus, bagus. Yasudah, saya antar kamu kedepan. Saya rasa hujan juga sudah agak mereda. Mari.”

Ayah dan pacarku kemudian berdiri tegak dan berjalan kepintu depan, dan aku mengekor dari belakang.

“Om, saya permisi dulu.”

“Iya, iya. Hati-hati menyetir dijalanan, pelan saja, sepertinya jalanan akan sedikit licin malam ini.”

“Terima kasih, Om, Tuhan memberkati. Saya pulang dulu. Sayang, aku pulang. Jangan lupa minum obat dan makan yang banyak. Aku menyayangimu. Aku pulang ya.”

Itu barusan dia bilang apa? Ya ampun, pipiku panas lagi!

“Lho, jawab dong, sayang.”

“Eh, iya ayah. Uh, i, iya. Hati-hati dijalan.”

Pacarku hanya tersenyum geli. Dia lalu berjalan menuju mobilnya dan pulang.

Hati-hati dijalan ya, pacar kesayanganku.

“Yasudah, kamu masuk juga. Istirahat dan minum yang banyak. Jangan lupa berdoa.”

“Iya, Ayah.”

Akupun berjalan perlahan menuju kamarku dilantai dua.

Ah, sebenarnya aku jadi agak bingung dengan perasaanku. Aku ini sebenarnya punya perasaan dengan siapa? Pacarku atau senior dingin itu? Kenapa pacarku pintar sekali membuat hatiku berdegup kencang tak karuan begini?

Padahal dulu rasanya kesal setiap melihat wajahnya, bawaannya cuma mau menjahit mulutnya yang pedas itu. Tapi sekarang… Aih, padahal kami baru jadian dua hari… Kenapa aku jadi labil begini?

Advertisements

4 thoughts on “[Cerpen] Hujan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s