DIARY, LIFE DIARIES, TEEN

Kepercayaan

Sebenarnya gada gunanya percaya sama orang lain. Karena justru kepercayaan yang kita kasih itu adalah senjata terbesar mereka untuk menghancurkan kita.

Percaya itu melelahkan.

Percaya itu dibangun dalam waktu yang panjang, tapi untuk menghancurkannya hanya butuh satu kata atau perbuatan.

Percaya itu mirip kertas, sekalinya diremes gabakal rapih lagi.

Percaya itu menuntut reaksi tanpa peduli aksi.

Percaya itu kayak uap, keberadaannya cuma sementara, sampai akhirnya mereka nyakitin kita. Lagi. Dan dengan lebih bodohnya, kita percaya, saat mereka bilang maaf. Saat penyesalan keluar dari mulut beracun mereka. Waktu mereka merasa bersalah.

Hanya menghitung waktu, dan kepercayaan itu hancur lagi. Dan saat mereka mengucap maaf, perlahan, kita akan membangun tembok yang tadinya runtuh itu lagi, kemudian mempercayai lagi.

Hanya hati yang mengerti saat akal menolak. Sang waktulah yang akan menjawab, saat kita menunggu.

Menunggu sebuah kepastian semu, yang bersifat sementara.

trust

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s